2 dari 2 Series - Oktober Bulan Teater Eska: Kincir Ria, Siklus Lupa, dan Gelak Tawa
Mabur.co – Pentas produksi tahun ini digarap oleh Khuluqul Karim, Rimbun Rahmadhani Emgiek, dan Wildan Dzul Haq.
Sinopsisnya panjang, tapi intinya sederhana: tesis bahwa kebahagiaan adalah hak segala bangsa, diuji di Indonesia yang absurd.
“Secara naratif, Kincir Ria. Siklus Lupa & Gelak Tawa digarap melalui pembacaan ulang atas Serat Kalatidha dan cakra manggilingan, serta penjabarannya dengan berbagai situasi dan kondisi kebahagiaan dalam kehidupan masyarakat Indonesia hari ini.
Gagasan tentang roda yang terus berputar menjadi cara untuk membaca kebahagiaan sebagai sebuah siklus. Di dalam siklus, manusia tidak selalu bergerak menuju keadaan yang lebih baik, terkadang ia hanya kembali ke tempat yang sama dengan cara yang berbeda,” tulis Lurah Eska dalam rilisnya.
Cakra Manggilingan
Dari Serat Kalatidha karya Ranggawarsita 1860 tentang zaman edan dijelaskan: amenangi zaman edan, ewuhaya ing pambudi, melu edan nora tahan, yen tan melu anglakoni boya kaduman melik, kaliren — zaman gila, kalau tidak ikut gila tidak dapat bagian, tapi kalau ikut gila hati tidak tahan.
Dari cakra manggilingan, konsep Jawa roda kehidupan yang berputar, dari atas ke bawah, dari jaya ke hancur, dari sengsara ke bahagia, terus begitu.
Kincir ria di pasar malam menjadi metafor. Naik turun, teriak gembira, tapi turun di tempat yang sama, bayar lagi, naik lagi.
Itu kebahagiaan yang diproduksi industri hiburan, budaya perayaan, tuntutan selalu positif.
Siklus yang semacam itu hanya akan mengantarkan pada keadaan lupa dan gelak tawa. Lupa memungkinkan sesuatu yang telah terjadi untuk segera ditinggalkan agar perayaan berikutnya dapat diselenggarakan.
Sementara gelak tawa menjadi bunyi penanda keberhasilan bagi perayaan tersebut, namun sekaligus menyimpan kemungkinan bahwa gelak tawa itu karena tidak tahu lagi bagaimana menghadapi keadaan yang sebenarnya.
Pertanyaan terakhir naskah: apakah kita sedang bahagia atau hanya sedang mengulang cara untuk segera melupakannya?
ESKA dan Tradisi Teater Kampus Yogya
Teater ESKA pernah dianggap terlalu serius. Catatan kritik seni Langgar.co tentang pentas ESKA Pancer ing Penjuru memberi gambaran: “Setelah panjang teruraikan di atas, bagaimana gagasan yang diusung oleh Teater Eska, nilai plus di tengah kekeringan banyak aktivitas kesenian terutama teater kampus di Yogyakarta yang terjebak pada kerangka pengetahuan Barat,” tulis langgar.co.
Dalam konteks tersebut, Teater ESKA dengan pentas Pancer ing Penjuru sudah berani memulai untuk menengok kembali khazanah pengetahuan tradisi dan masyarakat.
“Untuk dijadikan titik pijak di dalam proses kreatif berkesenian terutama teater,” dilansir dari langgar.co, dikutip mabur.co, Selasa (27/10/2026).
Itulah DNA ESKA: menengok tradisi untuk bicara hari ini. Dulu Pancer ing Penjuru mengangkat Sedulur Papat Lima Pancer, Kidung Marmati Sunan Kalijaga, jagad cilik jagad gede.
Sekarang Kincir Ria mengangkat Serat Kalatidha dan cakra manggilingan. (Bersambung).
