Mabur.co- Bangunan tradisional di Indonesia pada zaman dahulu terbuat dari material alam di sekitar yang tidak tahan lama dan mudah hancur.
Bangunan-bangunan kuno Indonesia yang masih bertahan adalah yang terbuat dari batu, seperti candi-candi peninggalan masa Hindu-Buddha.
Masa Hindu-Buddha di Indonesia dimulai sebelum kedatangan Belanda. Pada masa ini banyak berdiri kerajaan-kerajaan Hindu-Buddha di Indonesia, dan masing-masing kerajaan tersebut membuat prasasti maupun candi-candi sebagai bukti keberadaannya.
Candi-candi yang dibangun ini menjadi peninggalan bersejarah yang penting serta berpengaruh banyak terhadap arsitektur di Indonesia.
Tradisi-tradisi yang dilakukan oleh para leluhur sebelum membangun serta teknik membangun yang digunakan pun sampai saat ini masih bisa diterapkan, baik secara langsung maupun tidak langsung.
Ragam hias yang digunakan pada bangunan candi juga banyak diterapkan pada bangunan-bangunan Indonesia dewasa ini.
Arsitektur Hindu-Buddha menjadi sejarah penting dalam perkembangan arsitektur di Indonesia. Salah satu candi Hindu terbesar di Indonesia yaitu Candi Prambanan.
Candi Prambanan sendiri terdiri atas beberapa area candi, yang setiap area memiliki makna tersendiri. Candi Prambanan juga memberi banyak pengaruh terhadap daerah di sekitarnya, maka dari itu pelestarian candi sangatlah penting.
Arkeolog UGM, Prof. Dr. Timbul Haryono, M.Sc, menjelaskan, candi adalah peninggalan sejarah dari masa kerajaan atau kerap dikenal sebagai masa klasik Hindu-Buddha di Indonesia.
Candi adalah istilah umum untuk menamakan semua bangunan peninggalan kebudayaan Hindu dan Buddha di Indonesia.
“Bangunan tersebut banyak ragam rupanya, misalnya pemandian kuna, gapura, atau gerbang kuna, maupun bangunan suci keagamaan. Istilah candi juga kerap digunakan di sejumlah tempat di Jawa Timur dan Jawa Tengah. Candi digunakan untuk menyebut suatu kelompok arca yang menjadi pundhen desa,” katanya, Selasa (30/6/2026).

Prof. Timbul menjelaskan, proses pembangunan candi secara fisik tentunya dilakukan dengan menggunakan teknologi yang berkembang pada saat itu.
Pengaruh Local Genius
Arsitektur candi-candi di Indonesia terbilang unik bahkan bentuknya berbeda dengan candi-candi yang ada di India. Oleh sebab itu, dapat diketahui bahwa pengerjaan fisik candi di Indonesia dipengaruhi oleh local genius dari masyarakat Indonesia pada masa lalu.
“Dalam pengerjaannya, tentu saja batu-batuan candi tersebut tidak disusun dengan semen dan teknologi anti-gempa seperti sekarang. Melainkan menggunakan bahan-bahan sederhana dan teknik khusus agar batuan tersebut tidak runtuh ketika terjadi gempa,” katanya.
Prof. Timbul mengatakan, bahan-bahan perekat yang biasa digunakan untuk candi-candi yang menggunakan bata hanya berupa perekat dari sisa-sisa bata yang diberi air. Lalu untuk memperkuatnya digunakan teknik khusus yang dinamakan teknik sambung batu.
“Teknik sambung batu merupakan sebuah teknik yang digunakan untuk membangun candi dengan cara memahat batu sedemikian rupa agar antar-batu dapat saling mengunci satu sama lain. Ibarat sedang bermain puzzle, maka batuan tersebut akan dibentuk menjadi sebuah bentuk khusus agar batuan lainnya dapat dipasangkan sesuai dengan bagiannya masing-masing,” katanya.
Prof. Timbul menuturkan, Candi Prambanan dibangun pada abad ke-9 oleh para raja Mataram, terutama oleh Rakai Pikatan dan Rakai Balitung.
Candi untuk Dewa
Kompleks candi tersebut awalnya didedikasikan untuk tiga dewa utama dalam agama Hindu, yaitu Shiva, Vishnu, dan Brahma. Candi ini menjadi bagian dari kompleks candi yang mencerminkan kemakmuran dan kekuatan politik kerajaan Hindu-Buddha di masa itu.
Arsitektur Candi Prambanan mencerminkan kecanggihan teknik bangunan pada masanya.
“Setiap relief di candi menggambarkan kisah epik Ramayana, yang menjadi daya tarik utama bagi wisatawan dan sejarawan. Struktur batu yang presisi dan ukiran yang rumit menunjukkan tingkat keahlian yang luar biasa dari para arsitek dan pekerja seni pada masa itu,” katanya.
Prof. Timbul memaparkan, tak heran, pada 1991, Candi Prambanan diakui sebagai Warisan Budaya Dunia UNESCO. Pengakuan ini menegaskan nilai sejarah dan arsitektural candi tersebut sebagai salah satu yang terbaik di dunia.
“Keberadaan Candi Prambanan juga menjadi saksi bisu perkembangan agama Hindu-Buddha di Indonesia pada saat itu,” katanya.
Prof. Timbul kembali menuturkan, relief Candi Prambanan menceritakan tentang epos Hindu, yaitu Ramayana dan Krishnayana.
Cara Membaca Relief
Relief tersebut diukir pada dinding sebelah dalam pagar langkan. Pagar itu berada di sepanjang lorong galeri yang mengelilingi candi utama, yaitu Candi Brahma, Candi Siwa, dan Candi Wisnu. Ketiga candi tersebut adalah lambang Trimurti dalam kepercayaan Hindu.
“Cara membaca relief pada candi tersebut dari kanan ke kiri dengan gerakan searah jarum jam mengitari candi. Langkah tersebut sesuai dengan ritual pradaksina, yakni ritual mengelilingi bangunan suci searah jarum jam oleh para peziarah,” katanya.
Prof. Timbul menjelaskan, Candi Siwa memiliki denah dasar berbentuk bujur sangkar seluas 34 meter persegi dengan tinggai 47 meter. Sepanjang dinding candi dihiasi dengan pahatan yang berselang-seling.
Pada salah satu dinding candi terdapat pahatan berupa seekor singa yang berdiri di antara dua pohon kalpataru. Hiasan tersebut terdapat di semua kaki Candi Siwa.
Pada bagian dinding kaki candi di sebelah utara dan selatan candi, ada hiasan singa diampit dengan pahatan berisi relief sepasang binatang yang sedang berteduh di bawah pohon kalpataru. Berbagai binatang yang digambarkan di bagian tersebut adalah kera, kijang, merak, kelinci, kambing, dan anjing.
Pada bagian lain dinding candi, ada panil bergambar binatang berganti dengan gambar kinara-kinari, sepasang burung berkepala manusia, dalam posisi sedang berteduh di bawah pohon kalpataru.
Pada pagar langkan Candi Wisnu terdapat relief naratif Krishnayana yang menceritakan kehidupan Krishna sebagai salah satu awatara (atau inkarnasi Tuhan Yang Maha Esa) Wisnu.
“Relief Krishnayana ini menceritakan kisah hidup Krisna dari sejak lahir hingga dapat menduduki takhta Kerajaan Dwaraka. Salah satunya adalah relief yang menggambarkan Wisnu sebagai pendeta yang sedang duduk dengan berbagai posisi tangan,” ucapnya.
Prof. Timbul mengatakan, Candi Brahma terletak di sebelah selatan Candi Syiwa. Sepanjang dinding pada tubuh candi berderet panil dengan pahatan.
Panil tersebut berisikan kelanjutan cerita Ramayana di dinding Candi Siwa.
“Penggalan kisah Ramayana di Candi Brama ini menceritakan tentang peperangan Rama dibantu adiknya, Laksamana, dan para tentara kera melawan Rahwana. Cerita tersebut berlanjut hingga Sinta pergi mengembara karena diusir oleh Rama yang meragukan kesuciannya. Akhirnya, Sinta melahirkan di hutan dengan perlindungan seorang pertapa,” katanya.

