Bagaimana Awal Mula Pohon Joho Bisa Dibudidayakan sebagai Pewarna Batik Alami?

3 Min Read
Ilustrasi. Salah satu pohon joho yang masih berdiri di Kabupaten Gunungkidul. (Foto: Istimewa)

Mabur.co – Tidak banyak masyarakat yang tahu, termasuk dari kalangan pembatik sendiri, bahwa pohon joho memiliki khasiat yang sangat baik, sebagai sumber pewarna alami bagi kain batik.

Di tengah maraknya pewarna sintetis serta batik printing sebagai bahan pewarna batik masa kini, ekstraksi dari pohon joho dinilai juga mampu menghasilkan pewarna batik secara alami, dengan kualitas yang lebih baik dari produk hasil sintetis.

Hanya saja, pohon ini semakin sulit ditemukan di berbagai tempat. Di provinsi DIY sendiri, tercatat hanya ada 13 pohon joho yang masih tersisa, yang tersebar di wilayah Gunungkidul dan juga Bantul.

Lalu bagaimana kemudian pohon joho bisa menjadi salah satu sumber pewarna batik alami?

Sanggar Wani Migunani, salah satu penemu dari budidaya tanaman joho, memaparkan bagaimana kilas balik perjalanan mereka menemukan tanaman joho ini, sebagai warisan pewarna batik alami.

“Kita mulai tertarik untuk membudidayakan pohon joho, karena dia (pohon joho) sudah mulai langka, termasuk di DIY. Di mana sekarang ini hanya tersisa dua pohon yang sudah berusia ratusan tahun. Lalu ada seorang pembatik di Bantul namanya Pak Dedi, dia awalnya juga punya pohon yang sudah tumbuh sekitar 10 tahun, tapi akhirnya rubuh karena faktor cuaca. Dia sudah berusaha keras untuk menumbuhkan si joho ini, tapi tak kunjung berhasil.

Saya pun jadi penasaran (agar pohon joho bisa benar-benar ditumbuhkan dan menghasilkan pewarna batik alami). Akhirnya kita coba meneliti dan melakukan ujicoba selama dua tahun. Dan baru tahun ini (2026), kita bisa dapet biji yang lumayan banyak dari Gunungkidul, bahkan nyampe sekarung. Di situ kita akhirnya bisa lebih leluasa untuk melakukan ujicoba lebih banyak lagi,” papar Ketua Sanggar Wani Migunani, Awit Radiani, beberapa waktu lalu.

Berbicara dengan Pohon untuk Meminta Izin

Dalam prosesnya, Awit juga mengaku sempat meminta izin (nembung) kepada pohon joho tersebut, agar pengambilan biji yang dilakukannya tidak membuat pohon ini punah, dan lain-lain.

“Waktu di situ (sebelum bijinya diambil) aku sih berdoa juga, gitu. Aku bilang ‘mbah (joho), aku minta bijinya dong. mbah. Dua biji aja’ gitu. Takutnya nanti punah, gitu. Padahal saat itu sedang tidak musimnya loh. Nemu aja cuman dua biji loh, itu pun nyelip di bawah akar beneran cuman dua gelintir aja gitu. Aku pikir sih pohon itu memang ada unsur spiritualnya juga gitu. Jadi aku beneran harus kayak nembung atau semacam minta izin gitu sama pohonnya,” tambah Awit.

Setelah menemukan formula yang tepat dalam membudidayakan tanaman dari pohon joho tersebut, Awit bersama sanggarnya pun mulai serius terhadap proyek yang satu ini, demi memaksimalkan tanaman dari pohon joho, sebagai sumber pewarna batik alami, yang dapat digunakan oleh para pembatik di seluruh Nusantara. (*)

Share This Article
Avatar photo
Lulusan program studi Jurnalistik STMM Yogyakarta, Jurnalis mabur.co, Writing Is Journey Of My Life
Avatar photo
Pemimpin redaksi mabur.co
Tidak ada komentar