Bandara Kemayoran Masuk dalam Cerita Komik Legendaris ‘Dunia Tintin’

4 Min Read
Six-panel comic strip set at an airport. A group of travelers discuss whether they are in Jakarta, then debate calculus and misadventures, ending with a comical explosion and flight of the characters.
Komik Tintin berjudul Flight 714 to Sydney yang terbit pada 1968 menceritakan Bandara Kemayoran Jakarta. (Foto: Tintin.com)

Mabur.co – Pada tahun 1970-an Indonesia pernah memiliki bandara internasional yang begitu dikenal dunia. Tak hanya memiliki peran strategis dalam dunia penerbangan, bandara itu juga menjadi yang tercanggih dan tersibuk di kawasan Asia Tenggara.

Saking terkenal dan pentingnya, bandara tersebut bahkan sampai diabadikan menjadi sebuah jalan cerita dalam komik legendaris Dunia Tintin karya kartunis Belgia, Hergé, yang terbit tahun 1968.

Bandara tersebut adalah Bandara Kemayoran, Jakarta, yang merupakan bandara Internasional pertama di Indonesia. 

Tokoh Tintin Mendarat di Bandara Kemayoran

Dalam komik Flight 714 to Sydney (Penerbangan 714 ke Sydney) yang terbit pada 1968, tokoh Tintin bersama Kapten Haddock dan Profesor Lakmus diceritakan mendarat di Bandara Kemayoran sebelum melanjutkan perjalanan menuju Australia.

Pada panel awal komik tersebut bahkan terlihat pesawat Qantas Boeing 707 dengan nomor penerbangan QF 714 sedang mendarat di Kemayoran. 

Saat itu, penerbangan dari Eropa menuju Australia memang hampir selalu singgah di Jakarta untuk menurunkan penumpang maupun mengisi bahan bakar.

Bandara Changi di Singapura saat itu belum beroperasi sehingga posisi Kemayoran menjadi salah satu titik transit paling strategis di Asia.

Comic page titled 'Flight 714 to Sydney' showing a red‑and‑white Qantas jet on a runway, with dialogue panels about Jakarta and catching a flight in transit.
Komik Tintin di antaranya menceritakan tentang Bandara Kemayoran Jakarta (Foto: Tintin.com)

Kehadiran Bandara Kemayoran dalam komik Tintin menjadi bukti bahwa bandara yang dibangun pemerintah kolonial Belanda pada 1934 dan diresmikan pada 8 Juli 1940 ini pernah memiliki posisi penting dan strategis  dalam jaringan penerbangan internasional dunia.

Dikutip dari Pusat Pengelolaan Kompleks Kemayoran (PPK Kemayoran), Selasa (7/7/2026), pada masa itu Bandara Kemayoran merupakan fasilitas penerbangan paling modern di Indonesia. 

Bandara ini memiliki dua landasan pacu yang saling bersilangan, terminal penumpang dua lantai, hanggar perawatan pesawat, hingga menara pengawas lalu lintas udara paling modern di Asia Tenggara.

Pada dekade 1950 hingga 1970-an, Kemayoran menjadi pusat aktivitas penerbangan nasional maupun internasional.

100 Ribu Pergerakan Pesawat

Bahkan pada masa jayanya di era 1970-an, frekuensi penerbangan di Bandara Kemayoran mencapai sekitar 100 ribu pergerakan pesawat setiap tahun, menjadikannya salah satu bandara tersibuk di kawasan Asia Tenggara.

Meski bandara resmi ditutup pada 31 Maret 1985 setelah operasional dipindahkan ke Bandara Soekarno-Hatta, sejumlah jejak sejarahnya masih dapat ditemukan hingga kini.

Menurut PPK Kemayoran, bangunan bekas terminal penumpang masih berdiri meski tidak lagi difungsikan. Sementara itu, Menara ATC yang dibangun pada 1938 masih berdiri dan telah ditetapkan sebagai bangunan cagar budaya melalui Keputusan Gubernur DKI Jakarta Nomor 495 Tahun 1993.

Vintage propeller airplanes parked on the tarmac in front of Kemayoran International Airport terminal building.
Bandara Kemayoran difoto pada Juni 1972 (Foto: oldjets.net)

Menara inilah yang kemudian populer dijuluki “Menara Tintin” karena tampil dalam komik Flight 714 to Sydney.

Selain menara ATC, kawasan bekas terminal juga masih menyimpan relief beton modern pertama di Indonesia yang dibuat pada 1957 atas permintaan Presiden Soekarno.

Relief Maestro Seni Rupa Indonesia

Relief karya maestro seni rupa Indonesia seperti S. Sudjojono, Harijadi Sumodidjojo, dan Surono tersebut menggambarkan pembangunan bangsa, kekayaan flora-fauna Nusantara, hingga kisah legenda Sangkuriang.

Kini kawasan bekas Bandara Kemayoran telah bertransformasi menjadi kawasan bisnis dan permukiman modern, termasuk kompleks Pekan Raya Jakarta (PRJ) dan berbagai fasilitas publik lainnya.

Meski begitu sisa-sisa kejayaan Bandara Kemayoran masih dapat dikenang melalui menara ATC, bekas terminal, serta sejumlah ruas jalan seperti Jalan Benyamin Sueb dan Jalan HBR Motik yang dahulu merupakan bagian dari landasan pacu.

Begitu terkenal dan istimewanya nilai sejarah bandara ini bahkan tak jarang membuat sejumlah warga masyarakat kerap berkunjung untuk sekadar berfoto dengan latar belakang sisa peninggalan bangunan tersebut. 

Bahkan pada 2019 lalu, rombongan Duta Besar Belgia, Stephane de Loecke, sampai turut mengunjungi bangunan bersejarah Menara Kemayoran dan melihat relief yang berada di ruangan VVIP eks terminal lama Bandara Kemayoran karena tertarik dengan sejarahnya. ***

Share This Article
Avatar photo
Jurnalis lahir dan tinggal di Jogja
Avatar photo
Pemimpin redaksi mabur.co
Tidak ada komentar