Unggahan Kehidupan Pribadi di Medsos Makin Berkurang, Apa Sebabnya?

6 Min Read
Ilustrasi. Seluruh anggota keluarga yang sibuk bermain ponsel masing-masing. Satu pemandangan yang umum terjadi di era modern saat ini. (Foto: Getty Images)

Mabur.co – Sejak awal milenium kedua, media sosial telah menjadi bagian yang tak terpisahkan dalam kehidupan manusia modern.

Di awal kemunculannya, media sosial seperti Friendster, Facebook, Twitter, Blackberry Messenger, dan lain-lain, lebih banyak digunakan sebagai penghubung dengan teman-teman lama yang sudah jarang bertemu secara fisik, alias menerapkan prinsip “mendekatkan yang jauh”.

Secara umum, media sosial adalah panggung bagi masyarakat untuk memamerkan kegiatan yang dilakukannya sehari-hari, seperti makan, bekerja, dandan, jalan-jalan, bertemu dengan artis/pejabat, atau memperlihatkan pencapaian pribadi tertentu, seperti wisuda, memenangkan piala tertentu, dan masih banyak lagi.

Dengan kata lain, media sosial di awal kehadirannya adalah semacam “galeri kehidupan” seseorang, dengan berbagai dinamika dan sudut pandang yang digambarkan sendiri oleh sang pemilik akun, untuk diperlihatkan kepada teman-teman lamanya di luar sana.

Semakin Melenceng

Lambat laun, penggunaan media sosial semakin jauh dari tujuan awalnya, yakni “media” (medium/wadah/tempat/lokasi) untuk melakukan aktivitas “sosial” (socializing on society) di ranah digital.

Dengan terbukanya kemungkinan untuk memperoleh audience dalam jumlah yang besar, dan difasilitasi dalam fitur “Followers” (seperti di IG/Twitter), maka kesempatan untuk menjual sesuatu kepada mereka pun menjadi lebih besar.

Audience itu pun tidak semuanya merupakan orang-orang yang dikenal oleh si pemilik akun, seperti halnya penggunaan medsos di awal tadi. Karena dalam beberapa medsos tertentu, setiap orang dibebaskan untuk mem-follow atau di-follow oleh siapa saja, tanpa kecuali.

Akhirnya, mereka yang sudah kadung memiliki banyak followers, seolah mendapatkan privilege untuk mem-posting segala sesuatu yang sifatnya komersil. Para followers-nya pun seperti mudah dipengaruhi begitu saja, dan tergiur dengan segala macam postingan komersil alias “promosi” yang diposting oleh akun-akun yang memiliki banyak followers tersebut.

Ketika postingan berbau promosi tersebut bisa menghasilkan pundi-pundi tambahan, tentu saja keinginan untuk memposting kegiatan atau pencapaian pribadi sebelumnya akan semakin berkurang.

Selain karena tidak menghasilkan apa-apa, orang-orang yang menyaksikannya pun biasanya hanya bereaksi “oh dia sekarang lagi melakukan hal ini”, dan sebagainya, yang hampir dipastikan tidak akan sesuai dengan tujuan awal postingan Anda tersebut.

Lagi pula tidak semua hidup manusia itu menarik dan selalu bisa dikontenkan setiap saat, apalagi jika sifatnya terlalu personal (terkait keluarga dan lain-lain).

Akhirnya, postingan-postingan berbau jualan pun semakin marak dilakukan, dan cepat menyebar kepada pengguna medsos lainnya.

Menariknya, postingan-postingan semacam itu justru mampu menghasilkan lebih banyak uang, ketimbang bekerja selama satu bulan di kantor.

Seketika rasa ketagihan pun muncul, dan medsos pun langsung mengubah wajah aslinya. Dari yang tadinya sebagai “galeri kehidupan”, kini benar-benar hanya difungsikan sebagai media jualan, mencari cuan, mencari popularitas (melalui konten viral), dan semacamnya.

Artinya, medsos sudah benar-benar menjadi “mesin pencetak uang” alternatif bagi banyak generasi muda, selain bekerja full time di kantor.

Bahkan tak jarang, beberapa orang rela memilih keluar dari status kantorannya, demi serius mengurusi akun medsosnya, yang rupanya masih bisa dikembangkan dengan lebih baik lagi, untuk bisa menghasilkan cuan yang lebih besar lagi.

Mengalahkan Media Konvensional

Dilansir dari salah satu jurnal Universitas Nahdlatul Ulama Sulawesi Tenggara, Senin (6/7/2026), efek dari medsos yang begitu dahsyat rupanya juga telah berhasil membangkrutkan sejumlah media konvensional, sebut saja radio, majalah, koran, dan beberapa jenis media mainstream lainnya.

Atau setidaknya, jenis-jenis media tersebut terpaksa beradaptasi, dan ikut membuat akun media sosial baru, demi bisa bertahan dan tetap all in dengan perkembangan terbaru, yakni media sosial.

Karena disadari atau tidak, media sosial adalah wadah yang bisa membuat semua orang bekerja sebagai jurnalis atau wartawan dengan seketika. Mereka bisa melaporkan segala sesuatu yang terjadi di sekitarnya, secara real time, bahkan juga bisa disiarkan secara LIVE (untuk platform tertentu).

Selain itu, penyampaian dari akun-akun personal ini juga seringkali bersifat lebih natural, sehingga hasil tulisannya juga cukup sering menjadi viral atau naik ke permukaan, ketimbang tulisan atau konten dari media-media mainstream pada umumnya, yang penuh dengan kepentingan, dan seterusnya.

Ketika media sosial telah mampu menjadikan semua orang bertindak sebagai “pewarta” di lingkungan sekitarnya, maka kesempatan untuk pamer-pamer kehidupan pribadi juga hampir dipastikan akan sulit terjadi. Kecuali hanya untuk iseng, atau mencoba sesuatu yang baru, dan lain-lain.

***

Alih-alih sebagai “galeri kehidupan” seperti di awal kemunculannya, kini semua orang lebih sering menjadikan media sosial sebagai “galeri dunia”, alias mengabarkan segala sesuatu yang terjadi di dunia ini dengan begitu cepat, sesuai dengan versi dan kreativitasnya masing-masing.

Dan ketika konten berupa “galeri dunia” itu berhasil mendatangkan pundi-pundi yang sangat menarik, atau setidaknya berhasil mengundang perhatian banyak orang sehingga menjadi viral, tentunya kegiatan semacam ini akan tetap mendominasi dunia medsos hingga tahun-tahun mendatang.

Sebelum nantinya dunia akan kembali berubah ke arah yang semakin tidak karuan. (*)

Share This Article
Avatar photo
Lulusan program studi Jurnalistik STMM Yogyakarta, Jurnalis mabur.co, Writing Is Journey Of My Life
Avatar photo
Pemimpin redaksi mabur.co
Tidak ada komentar