45 Tahun Tekuni Industri Kreatif, Garin Nugroho Usung Sinema Indonesia ke Panggung Dunia

5 Min Read
Speaker addressing a crowd in an indoor exhibition; wall graphics show a photographer and text panels behind the group behind him.
Sutradara sekaligus budayawan Indonesia, Garin Nugroho (kemeja putih) bersama kurator pameran, Suwarno Wisetrotomo (bertopi) saat exhibition tour pameran. (Foto: Setiaky A Kusuma)

Mabur.co- Gelanggang Inovasi dan Kreativitas (GIK) Universitas Gadjah Mada (UGM) menghadirkan rangkaian pameran seni sepanjang Juni hingga Agustus 2026.

Sedikitnya empat program pameran digelar secara bersamaan dengan menghadirkan beragam pendekatan seni, mulai dari arsip budaya, seni rupa kontemporer, hingga aktivitas kreatif yang melibatkan masyarakat.

Sutradara sekaligus budayawan Indonesia, Garin Nugroho, sudah hampir 45 tahun menekuni perjalanan kariernya di bidang industri kreatif. Sebagai pembuat film yang berhasil membawa sinema Indonesia ke panggung dunia,

Garin Nugroho turut menjadi seniman lintas disiplin yang menjelajahi seni pertunjukan, teater, tari, musik, seni rupa, media baru, pendidikan, hingga pembangunan ekosistem kebudayaan dan regenerasi lintas generasi.

Museum exhibition wall with a large Indonesian text panel and artifacts mounted along the wall; visitors converse in the foreground under gallery lighting.
Sutradara sekaligus budayawan Indonesia, Garin Nugroho (kemeja putih), saat menjelaskan kepada peserta exhibition tour pameran. (Foto: Setiaky A Kusuma)

Karya-karyanya telah hadir di berbagai festival film, museum, dan panggung internasional, sekaligus melahirkan berbagai ruang kreatif, festival, dan komunitas yang menjadi bagian penting dalam perkembangan seni dan budaya Indonesia.

Kali ini, Garin mencoba merefleksikan perjalanan kreatifnya dalam pameran ARCHIVEPELAGO: Jalan Persemaian Garin Nugroho – 45 Tahun Merekam Indonesia, yang berlangsung pada 25 Juni–14 Juli 2026 di Galeri Bulaksumur, Gelanggang Inovasi dan Kreativitas, Universitas Gadjah Mada (GIK UGM), Yogyakarta.

Arsip dan Kerja Sunyi

Kurator pameran, Suwarno Wisetrotomo, mengatakan mengarsip merupakan kerja sunyi yang membutuhkan ketekunan, kecermatan, waktu, biaya, dan daya tahan. Namun, kesadaran untuk mengelola arsip secara serius masih belum tumbuh sebagai budaya.

“Arsip adalah fakta keras yang menunjukkan daya jelajah, pencapaian, dan reputasi seseorang. Sayangnya, belum banyak institusi yang mengabdikan diri pada pentingnya pengelolaan arsip, sementara dukungan dari berbagai pihak juga masih sangat terbatas,” ujarnya, Senin (6/7/2026).

Suwarno, menuturkan, kondisi tersebut menjadi tantangan serius bagi dunia riset di Indonesia. Tidak semua peristiwa, tokoh, karya, maupun artefak terdokumentasi dengan baik sehingga banyak jejak sejarah yang berpotensi hilang.

Dokumentasi, pengarsipan, riset, pengolahan data, hingga penyajiannya kepada publik merupakan rangkaian kerja edukasi yang semestinya dilakukan secara berkelanjutan.

“Atas dasar itulah pameran ini dirancang,” katanya.

Suwarno mengatakan, pameran bertumpu pada kekayaan arsip perjalanan kreatif Garin Nugroho yang selama lebih dari empat dekade merekam beragam dinamika Indonesia.

Mulai dari lanskap alam beserta ancaman kerusakannya, kekayaan budaya yang kerap terabaikan, perubahan sosial, hingga kritik terhadap praktik politik, etika, regulasi, kapasitas, dan integritas yang mewarnai kehidupan berbangsa.

“Selama 45 tahun berkarya sejak era 1980-an, Garin tidak hanya menghasilkan film, tetapi juga mendokumentasikan aktivitas intelektual, artistik, advokasi, dan pengembangan ekosistem kebudayaan. Jejak itu mencakup karya-karya sinematografi, tulisan, pendirian berbagai institusi seperti SET dan JAFF, hingga dinamika yang menyertai perjalanan kreatifnya,” katanya.

Garin sebagai Lanskap Indonesia

Suwarno mengatakan lagi, pameran tersebut merupakan upaya meringkas sekaligus meringkus perjalanan intelektual dan kreatif Garin Nugroho, bagaimana ia memandang Indonesia, dipandang oleh banyak pihak, serta memosisikan dirinya dalam lanskap intelektual, estetik, artistik, dan kebudayaan Indonesia maupun dunia. 

“Garin Nugroho adalah gairah intelektual, narasi kebangsaan, semangat memberdayakan, merekam, dan menghadirkan Indonesia tanpa tepi. Karena itu ia terus dicatat, ditulis, direkam, untuk dan oleh Indonesia,” ujarnya.

Sementara itu, sutradara sekaligus budayawan Indonesia, Garin Nugroho mengatakan, seluruh proses kreatifnya adalah perjalanan panjang sebagai peladang berpindah, menjelajah Indonesia, menanam gagasan, merawat ekosistem seni, sekaligus menyemai talenta-talenta baru di berbagai daerah.

Metafora itu lahir dari sebuah percakapan yang membekas ketika Garin berkeliling Kalimantan pada 1984 untuk mengerjakan film dokumenter. Saat itu, ia mempertanyakan mengapa dirinya selalu berpindah dari satu wilayah ke wilayah lain, berbeda dengan banyak seniman yang berkarya di satu studio atau daerah.

“Seorang sahabat Dayak berkata, ‘Bung Garin memang peladang berpindah, bukan peladang menetap.’ Sejak itu saya mengibaratkan kerja saya sebagai peladang berpindah, mengelola ladang dari satu tempat ke tempat lain, membuat karya dari suatu wilayah ke wilayah budaya lainnya di negara kepulauan ini,” katanya.

Garin menuturkan, perjalanan itu bermula setelah ia membuat film-film pendek menggunakan kamera 8 mm dan 16 mm pada 1981–1983.

Setahun kemudian, pekerjaannya sebagai pembuat film dokumenter membawanya menjelajahi berbagai pulau di Indonesia dan mempertemukannya dengan beragam budaya, persoalan sosial, hingga tokoh-tokoh penting.

Menjadi “peladang berpindah” berarti bekerja secara organik melalui kolaborasi serta menghormati ekosistem budaya setempat.

Pengetahuan dari luar dipadukan dengan kekuatan lokal, sementara proses kreatifnya dibangun dari percampuran berbagai referensi.

“Layaknya peladang dengan bekal nasi campur, cara kerja saya juga serba campuran, mulai dari pengetahuan, referensi, cara pikir lokal dan global, tradisi dan kontemporer, hingga budaya populer dan alternatif,” ujarnya. ***

TAGGED:
Share This Article
Teruslah Berbuat baik kepada siapapun karena hal baik itu, akan kembali padamu dengan berbagai cara
Avatar photo
Pemimpin redaksi mabur.co
Tidak ada komentar