Mabur.co – Minat masyarakat Yogyakarta untuk bersepeda memang tak pernah surut dari waktu ke waktu. Tak hanya siang hari, kegiatan bersepeda ini tak jarang juga dilakukan di malam hari.
Gerakan bersepeda pada malam hari di Yogyakarta ini bahkan sudah muncul sejak satu dekade atau 10 tahun terakhir. Namanya Jogja Last Friday Ride (JLFR).
Dalam kegiatan ini ratusan bahkan ribuan pesepeda akan bersepeda bersama-sama dengan rute mengelilingi kota Yogyakarta rutin setiap Jumat malam minggu ketiga setiap bulannya.
Didominasi anak-anak muda, JLFR bahkan telah menjadi semacam budaya urban masyarakat kota Yogyakarta, yakni sebuah gerakan untuk membangkitkan budaya bersepeda, serta merayakan jalanan sebagai ruang publik yang inklusif, aman, dan setara bagi semua kalangan.
Dalam JFLR tak ada batasan usia maupun jenis sepeda. Siapapun, dengan sepeda jenis apapun, dan berasal dari komunitas sepeda manapun bisa ikut meramaikan kegiatan bersepeda secara massal ini.Ā
Gerakan Sosial Kolektif
Tak seperti komunitas lainnya, JFLR juga dirancang tumbuh sebagai gerakan sosial kolektif, tanpa struktur keorganisasian yang baku maupun kepengurusan formal seperti ketua, sekretaris, atau bendahara.
Namun di situlah kelebihannya, dengan berjalan secara organik gerakan ini bisa tumbuh dan berkembang begitu pesat dengan diikuti berbagai kalangan masyarakat umum, pelajar, pekerja, hingga wisatawan.
Terlepas dari berbagai persoalan yang menyertainya seperti menimbulkan kemacetan hingga gangguan lalu-lintas, gerakan bersepeda malam hari JLFR ini telah mampu menginspirasi gerakan serupa di sejumlah daerah.
Yang terdekat ada di Kabupaten Kulon Progo. Pada momen-momen tertentu, JLFR diadopsi menjadi sebuah gerakan bernama WLFR atau Westprog Last Friday Ride hingga disebut juga Gowestprog.Ā

Seperti JLFR, WLFR ini juga akan diramaikan dengan kegiatan bersepeda dengan rute mengelilingi kota Wates dan sekitarnya. Didominasi anak-anak muda, kegiatan ini akan semakin ramai saat momen liburan sekolah.
Biasanya pengumuman penyelenggaraan kegiatan ini akan dilakukan dengan memanfaatkan media sosial. Begitu jadwal, titik kumpul dan rute dirilis, tepat pada hari H, tanpa diperintah rombongan pesepeda dari berbagai wilayah pun akan hadir dengan sendirinya.
Mengisi Waktu Luang
Salah seorang peserta, Bayu, mengaku mengikuti kegiatan ini untuk mengisi waktu luang di momen liburan. Selain bisa bertemu dan berkumpul bersama teman sebaya, lewat kegiatan ini ia juga bisa menikmati jalanan kota kabupaten dengan bersepeda.
“Buat ngisi waktu aja daripada diam di rumah. Di sini bisa senang-senang bareng teman sambil keliling kota naik sepeda,” katanya, Minggu (5/7/2026).
Meski banyak dikeluhkan sebagian masyarakat maupun pengguna jalan, gerakan seperti JLFR maupun WLFR ini membuktikan bahwa kegiatan bersepeda telah menjadi budaya yang tak bisa dilepaskan dari kehidupan masyarakat Yogyakarta.
Karena itu ke depan, gerakan seperti ini perlu mendapat ruang yang lebih baik melalui pengaturan rute, waktu pelaksanaan, serta koordinasi dengan pihak terkait.
Sehingga semangat bersepeda tetap dapat tumbuh tanpa mengurangi kenyamanan pengguna jalan lainnya, yang sekaligus mampu memperkuat identitas Yogyakarta sebagai kota sepeda di Indonesia.

