Mabur.co – Film pendek berjudul “Bunga-Bunga di Jala Ikan” karya alumni ISI Yogyakarta, Cinta Setia, menjadi sorotan usai turut tampil dalam ajang Bali International Film Festival (Balinale) ke-19 yang digelar di Denpasar, Bali, 1-7 Juni 2026.
Film yang dalam versi internasional berjudul A Mixed Blessing itu menjadi salah satu film dari 94 film yang ikut tampil dalam festival film internasional yang diikuti berbagai sineas dari 38 negara ini.
Mengangkat tema lokal tradisi sedekah Rawa Pening di Kabupaten Semarang, film ini menceritakan sebuah ritual masyarakat yang dipercaya dapat membuang kesialan dan mendatangkan rezeki.
Kisah Berbasis Tradisi Lokal
Melalui kisah sebuah keluarga yang menghadapi kesulitan ekonomi ini, Cinta Setia berupaya membawa penonton melihat bagaimana tradisi lokal masih hidup dan dipercaya masyarakat hingga hari ini.
“Film ini bercerita tentang keluarga yang mengalami kesusahan finansial dan mereka hanya bisa mengandalkan tradisi melarung tumpeng setahun sekali untuk membuang sial dan memperlancar rezeki,” ujar Setia sebagaimana dikutip Antara, Rabu (3/6/2026).
Tak hanya berhasil lolos ke Balinale 2026, Film “Bunga-Bunga di Jala Ikan” ini ternyata juga diterima dan ikut tampil dalam ajang Art of the Score di Juilliard, Amerika Serikat.
Bagi Cinta dan timnya, mengangkat cerita lokal seperti tradisi masyarakat di suatu daerah, justru memiliki peluang lebih besar untuk bisa tampil di panggung internasional. Selain juga dapat memperlihatkan kekayaan budaya Indonesia yang jarang terekspos.
“Saya jadi mengetahui menariknya cerita-cerita masyarakat yang justru tumbuh di dekat kita, tapi kita tidak sadar, itu di sebuah danau yang tidak sering media meliput, baik kebudayaannya maupun tradisinya, padahal tradisinya ada sampai sekarang,” tuturnya.
Balinale ke-19 sendiri berlangsung pada 1–7 Juni 2026 dan menghadirkan 94 film dari 38 negara. Dari jumlah tersebut, sebanyak 26 film merupakan karya sineas Indonesia.
Selain menjadi ajang unjuk karya, festival ini juga menjadi ruang pertemuan bagi para sineas dunia sekaligus panggung penting bagi perfilman Indonesia dalam memperkenalkan cerita-cerita lokal ke audiens di tingkat internasional.

