Hairus Salim: Nasirun Ikon Seni Rupa Indonesia dan Budayawan NU Paripurna

2 Min Read
Crowded indoor event with many people seated shoulder to shoulder, some wearing hijabs, against an orange wall.
Istri almarhum Nasirun, Supartilah, tak kuasa menahan tangis saat pemberangkatan jenazah. (Foto: Setiaky A Kusuma)

Mabur.co-  Kepergian maestro seni rupa Indonesia, Nasirun, meninggalkan duka mendalam bagi keluarga, sahabat, dan dunia seni.

Namun, di balik kepergiannya, karya-karya yang telah lahir dari tangan kreatifnya akan terus hidup. Sementara ketulusan, kerendahan hati, dan kedekatannya dengan berbagai kalangan membuat sosoknya dikenang sebagai pribadi yang tak tergantikan.

Ketua Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Nahdlatul Ulama (Lakpesdam NU) DIY, Hairus Salim, mengatakan, rencananya mau bertemu dengan Nasirun, Sabtu pagi.

“Saya jam sembilan pagi sudah janjian bertemu di rumah beliau. Lewat asistennya, karena Nasirun memang tidak punya HP. Rencananya sekaligus sarapan dan ngobrol. Tapi ternyata hari ini justru kabar duka yang datang. Ini memang takdir,” ujarnya.

Hairus memang  telah lama mengenal nama Nasirun sebagai pelukis besar Indonesia.

“Saya sudah lama mendengar nama beliau. Tapi mulai kenal secara dekat sekitar sepuluh tahun lalu, setelah pameran usia 50 tahun. Sejak itu kami sering berinteraksi,” katanya.

Sosok Rendah Hati

Menurut Hairus, meski telah menjadi seniman yang dikenal hingga mancanegara, Nasirun tetap rendah hati dan selalu lebih dahulu menyapa siapa pun yang dikenalnya.

Rumah Nasirun nyaris tidak pernah sepi dari tamu. Seniman, budayawan, akademisi, tokoh agama, hingga masyarakat biasa diterima dengan tangan terbuka.

“Rumah Nasirun memang terbuka. Tentu dengan janji sebelumnya, tapi beliau tidak pernah menutup diri pada siapa pun yang mau datang. Karena itu saya yakin yang hadir melayat hari ini bukan hanya seniman, tetapi juga banyak kalangan lain,” ujarnya.

Hairus pun mengenang kemurahan hati Nasirun saat dirinya bersama sejumlah kolega merintis Pesantren Bumi Cendekia di Sleman. Nasirun menjadi salah satu orang yang membantu tanpa banyak pertimbangan.

“Saya bilang kami sedang merintis pesantren dan butuh bantuan. Beliau langsung sumbang lukisan. Itu lalu dibeli seseorang dan hasilnya sangat membantu operasional awal pesantren. Itu jasa yang sangat besar bagi kami,” kenangnya.

Bagi Hairus, sebagai seniman yang memiliki kultur NU, ia melihat Nasirun tidak hanya menjadi ikon seni rupa Indonesia, tetapi juga budayawan NU yang paripurna.

“Kalau bicara kehilangan, tentu NU sangat kehilangan sekali,” katanya.

TAGGED:
Share This Article
Teruslah Berbuat baik kepada siapapun karena hal baik itu, akan kembali padamu dengan berbagai cara
Avatar photo
Pemimpin redaksi mabur.co
Tidak ada komentar