Mabur.co- Kepergian maestro seni rupa Indonesia, Nasirun, pada Sabtu (1/8/2026) pagi, meninggalkan duka mendalam bagi keluarga, sahabat, maupun komunitas seni.
Sesama perupa sekaligus tetangga dekatnya, Jumaldi Alfi Chaniago, merasa sangat kehilangan sosok Nasirun.
Alfi mengatakan, Nasirun merupakan mentor.
“Nasirun itu orang yang tulus, dan dia tidak pernah bisa marah. Jadi tidak mungkin ada yang membencinya,” ujarnya.

Menurut Jumaldi, Nasirun bukan hanya sosok yang sangat baik dan rendah hati, tetapi juga tidak sungkan untuk memberi bantuan. Pergaulan Nasirun juga tidak tersekat hanya di ranah seni budaya semata.
“Kalau boleh saya bilang, dia itu manusia yang tidak punya musuh,” ucapnya.
Tak Pernah Sedih
Bagi Jumaldi, di balik reputasi Nasirun sebagai pelukis besar Indonesia, ia adalah pribadi yang nyaris tak pernah memperlihatkan kesedihan ataupun mengeluhkan penyakitnya kepada orang lain.
Bahkan keluarga dan sahabat dekat pun baru mengetahui almarhum memiliki riwayat pneumonia dan gangguan lambung setelah kondisinya memburuk.
“Sakit atau senang sama saja kelihatannya. Tidak pernah terbuka soal sakitnya. Saya kenal beliau sejak 1990-an, seumur hidup saya hampir tidak pernah lihat beliau tidak tertawa. Hanya sekali waktu beliau ambeien. Selebihnya, beliau selalu tertawa, selalu membuat orang lain ikut tertawa,” kenangnya.
Menurut Jumaldi, saat ini dirinya menjadi pengurus Lembaga Seni Muhammadiyah. Sering bercanda dengan Nasirun yang dari Nahdlatul Ulama.
Orang kalau lama-lama ikut Muhammadiyah, dia akan jadi NU. Tapi orang NU lama-lama akan serius jadi Muhammadiyah.
“Saya banyak belajar cara-cara hidup sederhana, cara-cara hidup ikhlas, tulus dengan Nasirun,” katanya.
