Perupa Jumaldi Alfi Kehilangan Maestro Nasirun yang Suka Bercanda

2 Min Read
Green coffin draped with tassels being carried through a crowded outdoor procession by mourners holding phones and people watching.
Kepergian maestro seni rupa Indonesia, Nasirun, pada Sabtu (1/8/2026) pagi, meninggalkan duka mendalam bagi keluarga, sahabat, maupun komunitas seni. (Foto: Setiaky A Kusuma)

Mabur.co-  Kepergian maestro seni rupa Indonesia, Nasirun, pada Sabtu (1/8/2026) pagi, meninggalkan duka mendalam bagi keluarga, sahabat, maupun komunitas seni.

Sesama perupa sekaligus tetangga dekatnya, Jumaldi Alfi Chaniago, merasa sangat kehilangan sosok Nasirun.

Alfi mengatakan, Nasirun merupakan mentor.

“Nasirun itu orang yang tulus, dan dia tidak pernah bisa marah. Jadi tidak mungkin ada yang membencinya,” ujarnya.

Close-up profile of a man wearing a black hat indoors, looking to the left with sunglasses hanging from his shirt.
Perupa kontemporer Jumaldi Alfi Chaniago. Foto: Setiaky A Kusuma

Menurut Jumaldi, Nasirun bukan hanya sosok yang sangat baik dan rendah hati, tetapi juga tidak sungkan untuk memberi bantuan. Pergaulan Nasirun juga tidak tersekat hanya di ranah seni budaya semata.

“Kalau boleh saya bilang, dia itu manusia yang tidak punya musuh,” ucapnya.

Tak Pernah Sedih

Bagi Jumaldi, di balik reputasi Nasirun sebagai pelukis besar Indonesia, ia adalah pribadi yang nyaris tak pernah memperlihatkan kesedihan ataupun mengeluhkan penyakitnya kepada orang lain.

Bahkan keluarga dan sahabat dekat pun baru mengetahui almarhum memiliki riwayat pneumonia dan gangguan lambung setelah kondisinya memburuk.

“Sakit atau senang sama saja kelihatannya. Tidak pernah terbuka soal sakitnya. Saya kenal beliau sejak 1990-an, seumur hidup saya hampir tidak pernah lihat beliau tidak tertawa. Hanya sekali waktu beliau ambeien. Selebihnya, beliau selalu tertawa, selalu membuat orang lain ikut tertawa,” kenangnya.

Menurut Jumaldi, saat ini dirinya menjadi pengurus Lembaga Seni Muhammadiyah. Sering bercanda dengan Nasirun yang dari Nahdlatul Ulama.

Orang kalau lama-lama ikut Muhammadiyah, dia akan jadi NU. Tapi orang NU lama-lama akan serius jadi Muhammadiyah.

“Saya banyak belajar cara-cara hidup sederhana, cara-cara hidup ikhlas, tulus  dengan Nasirun,” katanya.

TAGGED:
Share This Article
Teruslah Berbuat baik kepada siapapun karena hal baik itu, akan kembali padamu dengan berbagai cara
Avatar photo
Pemimpin redaksi mabur.co
Tidak ada komentar