Mabur.co– Bagi masyarakat Jawa, kelahiran manusia di bumi harus mendapatkan perlakuan yang patut.
Tidak hanya kepada setiap bayi yang lahir, melainkan juga kepada ari-ari atau plasenta.
Dalam tradisi Jawa, mendem (mengubur) ari-ari atau plasenta merupakan adat istiadat yang lumrah dilakoni usai melahirkan.
Menurut kepercayaan turun-temurun, ari-ari dianggap sebagai kembaran sang jabang bayi ketika berada dalam kandungan.
Selain itu ari-ari telah dianggap berjasa dalam menjaga sang bayi, sehingga perlu diberikan tempat yang layak, yakni ritual khusus yang dikenal dengan istilah mendem ari-ari.
Selain itu dalam pandangan medis, ari-ari akan jauh lebih tepat ketika dikubur dibandingkan jika dibuang sembarangan.
Hal itu karena berisiko membusuk dan mengundang bakteri, yang justru mendatangkan penyakit.
Dosen program studi (prodi) Etnomusikologi Fakultas Seni Pertunjukan (FSP) Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta, Sigit Purwanto Siklun menjelaskan, lahirnya bayi merupakan sebuah anugerah dari Tuhan yang harus disyukuri.
Bagi masyarakat Jawa, bentuk syukur diwujudkan dengan menggelar upacara adat.
Salah satunya merawat ari-ari dan mencuci jarit yang dipakai saat melahirkan.
“Dalam kebudayaan Jawa, ari-ari disimbolkan sebagai seorang adik, kemudian kawah (air ketuban) disimbolkan sebagai kakak. Untuk bayi disimbolkan sebagai pancer,” ungkapnya kepada mabur.co, Jumat (17/4/2026).
Sigit, mengatakan, penting memperlakukan ari-ari dan kawah dengan baik.
Hal tersebut dianggap sebagai bentuk etika manusia menghargai peran ari-ari (plasenta) dalam memberi makan bayi sewaktu di dalam kandungan, dan kawah (air ketuban) dalam membantu bayi tetap hidup di dalam kandungan.
Cara merawat ari-ari juga beragam. Ada yang dikubur di dekat rumah, menyimpan di dalam kendi lalu digantung pada langit-langit rumah, maupun dilarung ke sungai atau laut.
“Sesuai kepercayaan masyarakat Jawa, bentuk perlakuan pada ari-ari memiliki makna berbeda. Kalau disimpan, maka ari-ari ini akan lebih dekat dan selalu menemani sang bocah. Berbeda jika dilarung, maka suatu saat si anak akan suka berkelana,” paparnya. ***



