Virus Nipah Apanya Virus Corona?

Mabur.co – Setelah dunia dibuat heboh akibat virus Corona (Covid-19) yang terjadi pada akhir 2019 hingga pertengahan 2022 silam, kini muncul lagi satu virus berikutnya, yang harus segera diwaspadai.

Namanya virus nipah. Virus ini berasal dari infeksi penularan hewan ke hewan lainnya (zoonosis), namun juga bisa menular ke manusia.

Penularan bisa terjadi jika manusia mengonsumsi hewan ternak yang telah terinfeksi atau terpapar oleh cairan tubuh, seperti darah dan kotoran hewan yang terinfeksi virus tersebut.

Selanjutnya, manusia yang telah mengonsumsi makanan ternak dari hewan yang terkena virus nipah, berpotensi menularkan virus nipah ke sesama manusia, melalui kontak erat dengan cairan tubuh, termasuk droplet, darah, dan urine.

Virus ini diketahui sangat berbahaya, termasuk bisa menyebabkan peradangan pada otak. Dan hingga saat ini, belum ditemukan pengobatan maupun vaksin yang efektif untuk mengatasi virus yang satu ini.

Dilansir dari laman Alodokter, wabah virus nipah sebenarnya bukan hanya terjadi baru-baru ini saja, melainkan sudah ada sejak 1999 silam. Saat terjadi penebangan besar-besaran di Sungai Nipah, Malaysia, hingga ke negara Singapura.

Penebangan itu membuat banyak kelelawar berpindah ke area peternakan, sehingga menularkan virus nipah ke babi yang ada di Singapura tersebut.

Lalu, ketika kembali ke pembahasan terkait virus corona tadi, apakah virus nipah akan mengikuti jejak corona menjadi sebuah pandemi, yang menghambat aktivitas dunia secara besar-besaran?

Tidak Semua Virus Akan Menjadi Pandemi

Mengutip dari laman IDN Times, Prof. Dominicus Husada, dr., DTM&H., MCTM(TP)., Sp.A., Subsp.IPT., CTH, menganggap bahwa karakteristik sebuah virus tidak bisa selalu disamaratakan begitu saja.

Melainkan harus dilihat secara objektif dari berbagai aspek, tidak hanya dari informasi yang berkembang di masyarakat maupun media sosial.

Adapun beberapa aspek tersebut meliputi cara penularan, kecepatan penyebaran, serta kemampuan suatu virus bertahan dalam rantai penularan sesama manusia dalam kurun waktu tertentu.

Sebab menurut Prof. Dominicus, tidak semua virus dengan fatalitas tinggi otomatis akan berpotensi menjadi pandemi.

Sedangkan pandemi adalah penularan suatu virus yang menyebar dengan cepat dan masif ke seluruh dunia secara serentak.

Di sisi lain, virus Nipah hanya menular melalui kontak erat dengan cairan tubuh pasien, atau paparan dari hewan yang terinfeksi.

Pola penularan seperti ini cenderung tidak terlalu besar, sehingga tidak serta merta bisa disamakan dengan pandemi corona beberapa tahun lalu.

Meski demikian, ia mengingatkan bahwa virus semacam ini tetap mampu bermutasi, sehingga masyarakat tetap harus waspada, sambil terus menguatkan sistem deteksi dini terhadap diri sendiri dan orang-orang di sekitar.

Selain soal menjaga diri sendiri dan orang-orang sekitar, Prof. Dominicus juga mengingatkan bahwa virus semacam ini kemungkinan bisa menjadi besar hanya secara “regional”, alias hanya terjadi di tingkat lokal atau daerah tertentu.

Mau itu virus atau bukan, menjadi pandemi ataupun tidak, kita tetap harus mampu menjaga diri kita sendiri.

Menerapkan hidup sehat tidak perlu menunggu wabah virus atau penyakit datang. Karena sakit dan ajal bisa datang dari mana saja dan kapan saja. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *