Kurator Suwarno Wisetrotomo Kenang Terakhir Bertemu Nasirun, Biasanya Tak Diantar Sampai Parkiran

4 Min Read
Kurator Suwarno Wisetrotomo saat main ke rumah Nasirun menyiapkan sebuah pameran bertajuk Tonggak Ziarah. (Foto: Dok. Suwarno)

Mabur.co- Maestro seni lukis Indonesia, Nasirun, berpulang. Kematian pelukis berusia 60 tahun itu meninggalkan luka mendalam bagi dunia seni Tanah Air.

Kurator Suwarno Wisetrotomo merasa kehilangan sahabat, kolega, dan sosok yang selama lebih dari tiga dekade menjadi contoh bagaimana seorang seniman harusnya menjalani hidup.

Hubungan dirinya dengan Nasirun bukanlah hubungan yang lahir ketika nama Nasirun telah mendunia.

“Saya orang pertama yang menjadi kurator pameran tunggal pertama Nasirun pada 1993, ketika pelukis kelahiran Cilacap itu masih belum dikenal luas. Saat pameran digelar di Mirota Kampus Godean,” ujarnya, Sabtu (1/8/2026).

Portrait of a man in a dark shirt and checkered blazer wearing round glasses and a brown hat, standing against a beige wall.
Kurator Suwarno Wisetrotomo. (Foto: Setiaky A Kusuma)

Menurut Suwarno, saat itu dirinya masih menjadi kurator muda. Begitu pula Nasirun yang baru memulai perjalanan profesionalnya sebagai perupa.

Sama-sama Pemula

“Saya mulai dekat dengan Nasirun itu 1993, saya orang pertama yang menguratori pameran tunggalnya. Tahun itu Nasirun belum siapa-siapa. Saya juga kurator yang baru latihan. Kami sama-sama sedang memulai perjalanan,” kenangnya.

Menurut Suwarno pula, karier Nasirun melesat. Pada 2000 ia kembali dipercaya menjadi kurator pameran tunggal Nasirun di Galeri Nasional Indonesia.

“Secara akademik dia selalu menganggap saya guru karena memang saya lebih tua dan mengajar. Tapi dalam keseharian kami teman dekat. Saya menulis tentang Nasirun berkali-kali, menguratori pamerannya, bahkan tiap semester saya bawa mahasiswa S-2 dan S-3 ISI atau UGM belajar langsung di rumahnya,” katanya.

Bagi Suwarno, rumah Nasirun bukan hanya tempat tinggal seorang pelukis, melainkan ruang belajar yang hidup.

“Mahasiswa diajak berdialog langsung mengenai proses kreatif, perjalanan hidup, hingga cara seorang seniman membangun gagasan,” katanya.

Menyiapkan Pameran

Suwarno sebenarnya juga sedang menyiapkan sebuah pameran bertajuk ‘Tonggak Ziarah’ yang dijadwalkan berlangsung pertengahan Agustus nanti.

Pameran tersebut akan mengangkat arsip para pendiri Akademi Seni Rupa Indonesia (ASRI).

“Saya sedang menyiapkan pameran yang pakai arsip-arsip koleksi Nasirun.  Saya sangat hormat cara dia merawat arsip. Sampai dibuat area khusus untuk menyimpannya. Kemarin kami sedang memastikan banyak hal untuk pameran itu,” ujarnya.

Suwarno menceritakan, Jumat dirinya bermain ke rumah Nasirun, sekitar pukul 09.30 WIB.

“Saya melihat wajah Nasirun tampak lebih pucat dibanding biasanya. Nasirun kemudian bercerita baru pulang dari Rumah Sakit malam sebelumnya karena mengeluhkan sesak napas. Dia bilang semalam ke Panti Rapih karena sesak. Katanya dicek darah dan ternyata asam lambung. Tapi tidak ada firasat apa pun,” tuturnya.

Berdua juga sudah menyepakati jadwal wawancara khusus yang akan direkam pada 7 Agustus mendatang sebagai bagian dari dokumentasi pameran.

“Menjelang salat Jumat saya pamit pulang dan Nasirun mengantar sampai ke area parkir. Biasanya dia tidak antar sampai depan. Kemarin dia antar saya sampai parkiran. Saya masuk mobil, dia masih menunggu. Saya bilang, ‘Run, istirahat wae.’ Dia jawab, ‘Yo Mas, hati-hati.’ Saya sama sekali tidak mengira itu jadi pertemuan terakhir kami,” katanya.

Bagi Suwarno, karya Nasirun banyak bertumpu pada tradisi Jawa, mitologi, ritual, tahayul, hingga realitas sosial-politik yang kemudian diolah menjadi bahasa visual khas.

Nasirun mengagumi Affandi, Sudjojono, Hendra Gunawan, Widayat, hingga Fajar Sidik. Namun, kekaguman itu tidak menjadikan Nasirun sebagai peniru.

“Kalau melihat karya Nasirun, kita diingatkan pada Widayat, pada Affandi, pada Sudjojono, pada Hendra Gunawan. Tapi saat lihat keseluruhannya, itu bukan mereka. Itu tetap Nasirun,” katanya.

Penguasaan Teknik Luar Biasa

Suwarno menambahkan, salah satu kekuatan lain Nasirun terletak pada penguasaan teknik yang luar biasa.

“Lukisannya rumit, penuh detail. Hampir seluruh bidang kanvas disentuh dengan warna dan kuas. Craftsmanship-nya sangat tinggi. Dia benar-benar menguasai dasar-dasar seni rupa dengan sangat baik,” katanya.

TAGGED:
Share This Article
Teruslah Berbuat baik kepada siapapun karena hal baik itu, akan kembali padamu dengan berbagai cara
Avatar photo
Pemimpin redaksi mabur.co
Tidak ada komentar