Permainan Tradisional, Media Edukasi Alternatif bagi Anak

3 Min Read
Museum display case with numbered wooden artifacts mounted on the wall; glass barrier reflects visitors in the foreground.
Seorang pengunjung sedang melihat permainan tradisional ketapel, senapan, peluit burung, seruling bambu, peluit perkutut, kapal othok-othok, yoyo, kodok-kodokan, gangsingan, klotokan, paser, onthong-onthong, dan kasti yang dipamerkan di Museum Negeri Sonobudoyo. (Foto: Setiaky A Kusuma)

Mabur.co – Jika membicarakan tentang budaya dan kekayaannya, kebanyakan orang akan lebih terfokus pada seni dan tempat-tempat bersejarah. Padahal, ada bagian lain yang tidak  kalah pentingnya, sebut saja permainan tradisional. 

Hal tersebut dikarenakan permainan tradisional bukanlah hanya sekadar kegiatan untuk bersenang-senang, melainkan gambaran dan kebiasaan seseorang dalam menjalankan kehidupan sehari-hari.

Pengunjung di Museum Negeri Sonobudoyo sedang menikmati aneka permainan tradisional. (Foto: Setiaky A Kusuma)

Ketika masih anak-anak, salah satu aktivitas paling menyenangkan dan ditunggu adalah bermain. Berbeda dengan kebanyakan anak sekarang yang lebih banyak di depan monitor, anak dahulu lebih senang bermain secara langsung dengan teman sebaya. Hal tersebut tentu sangat berpengaruh dalam hal kecerdasan dalam berkomunikasi dan bersosialisasi.

Dua orang pengunjung di Museum Negeri Sonobudoyo Yogyakarta. (Foto: Setiaky A Kusuma)

Apabila melihat perkembangan anak saat ini, tentu tidak terlepas dari perkembangan teknologi di mana ia berada (lingkungan rumah dan lingkungan sekolah). Perkembangan teknologi memengaruhi bentuk permainan yang tersaji di lingkungan sekitar.

Vintage black-and-white photo of young women in patterned saris standing in a line outdoors; one resting a hand on another's shoulder.
Foto permainan ancak ancak alis yang ada di Museum Negeri Sonobudoyo Yogyakarta menunjukkan bahwa permainan tersebut benar adanya dimainkan oleh orang-orang terdahulu. (Foto: Setiaky A Kusuma)

Kini jarang terlihat sekumpulan anak yang bermain permainan tradisional di area-area terbuka, akan lebih mudah menemui anak yang sedang asyik dengan memainkan perangkat modern di tangannya.

Display shelf of wooden crafts labeled with numbers 4–11, including a blue model boat on the left, a carved wooden bowl in the center, and other wooden objects.
Aneka permainan tradisional yang dipamerkan di Museum Negeri Sonobudoyo Yogyakarta.
(Foto: Setiaky A Kusuma)

Kepala Museum Negeri Sonobudoyo, Ery Sustiyadi, mengatakan, kehadiran permainan tradisional di museum memberikan pengenalan terhadap anak yang terbiasa dengan permainan pada perangkat modern bahwa permainan tradisonal memiliki keseruan yang tidak kalah dengan perangkat modern.

Koleksi permainan tradisional yang dimiliki Museum Negeri Sonobudoyo di antaranya dakon atau congkak, engrang bathok, ketapel, senapan, peluit burung, seruling bambu, peluit perkutut, kapal othok-othok, yoyo, kodok-kodokan, gangsingan, klotokan, paser, onthong-onthong, dan kasti.

Ada juga foto zaman dulu yang memperlihatkan permainan cublak-cublak suweng, ancak-ancak alis, dolanan jamuran, tempat adu jangkrik, bumbung adu jangkrik, alat angin-angin jangkrik.

Black-and-white photo of four women sitting in a circle, heads close together, around a large woven basket on the ground.
Foto permainan tradisional Cublak-cublak Suweng yang ada di Museum Negeri Sonobudoyo menunjukkan bahwa permainan tersebut benar adanya dimainkan oleh orang-orang terdahulu. (Foto: Setiaky A Kusuma)

“Bentuk dan aturan sederhana dari permainan tradisional memberikan gambaran bahwa anak dapat menciptakan suasana menyenangkan dengan mudah. Sekaligus membentuk lingkungan bersosialisasi yang sehat dengan teman sepermainannya,” ujarnya saat diwawancarai via telepon, Sabtu (6/6/2026).

Vintage photo of three people in traditional dress posing together, two women with ornate headpieces flanking a man in center.
Foto permainan tradisional Dakon yang ada di Museum Negeri Sonobudoyo menunjukkan bahwa permainan tersebut benar adanya dimainkan oleh orang-orang terdahulu. (Foto: Setiaky A Kusuma)

Ery mengatakan, kehadiran artefak permainan tradisional yang masih dapat ditemui di berbagai tempat jual-beli diharapkan mampu menjadi salah satu variasi bermain bagi orang tua dalam mendidik anak di era modern ini.

“Hal ini mendorong kehadiran orang tua ke dalam dunia anak sebagai guru dan teman bermain yang mampu menjadi pembelajaran pertama anak di usia dini,” katanya.

Share This Article
Teruslah Berbuat baik kepada siapapun karena hal baik itu, akan kembali padamu dengan berbagai cara
Avatar photo
Pemimpin redaksi mabur.co
Leave a Comment