Tradisi Nyekar, Ini Makna Bunga Mawar, Kenanga, Melati, dan Kantil 

Mabur.co – Memasuki bulan Ruwah seperti saat ini, sejumlah warga masyarakat di Pulau Jawa rutin menggelar tradisi Nyadran dengan menggelar berbagai macam ritual untuk menyambut datangnya bulan suci Ramadan.

Selain menggelar doa bersama yang diikuti para tokoh desa maupun sesepuh kampung, warga biasanya juga akan berbondong-bondong melakukan ziarah ke makam leluhur atau biasa disebut Nyekar.

Dalam setiap pelaksanaannya, kegiatan ziarah atau Nyekar ini tak bisa dilepaskan dari penggunaan berbagai macam sesaji atau ubo rampe yang sarat akan makna simbolik dan ajaran luhur.

Salah satunya adalah penggunaan empat jenis macam bunga, yakni kantil, mawar, kenanga, dan melati.

Keempat bunga tersebut hampir selalu digunakan dalam setiap prosesi Nyekar ini.

Biasanya bunga-bunga ini ditaburkan di pusara makam atau diletakkan dalam wadah khusus bersama sesaji lainnya.

Lalu kenapa mesti 4 jenis bunga ini? Apakah makna tersembunyi di baliknya?

Menurut salah seorang tokoh masyarakat yang masih trah HB VII, Lulut Triyono, keempat bunga ini memiliki makna filosofi tersendiri.

Kata ‘kantil’ dalam bahasa Jawa bermakna melekat atau selalu terhubung. Karena itu bunga kantil digunakan sebagai lambang atau simbol doa agar hubungan batin antara manusia dengan leluhurnya bisa terus terjaga.

Sementara itu, bunga mawar dipilih sebagai lambang ketulusan dan keberanian. Aroma harum bunga mawar dipercaya menjadi perantara penyampai doa kepada Tuhan, sekaligus wujud rasa hormat kepada arwah para leluhur.

Sejumlah warga saat melakukan tradisi Nyekar Foto JH Kusmargana

Sedangkan bunga kenanga memiliki makna keluhuran budi dan pengharapan akan tuntunan hidup. Aromanya yang khas dipercaya membawa ketenteraman batin serta simbol permohonan agar generasi penerus senantiasa diberi arah dan kebijaksanaan dalam menjalani kehidupan.

Ada pun bunga melati melambangkan kesucian dan keikhlasan. Warna putihnya dimaknai sebagai lambang hati yang bersih saat berdoa, sekaligus pengingat agar manusia senantiasa menjaga perilaku dan niat yang tulus.

“Keempat bunga itu juga ada kaitannya dengan ajaran luhur Mulat Sariro Hangroso Wani.  Bahwa dalam hidup, manusia harus selalu melakukan introspeksi dan mawas diri,” ujar Lulut kepada mabur.co.

Dalam hidup, manusia dikatakan harus melakukan banyak hal yang disimbolkan dengan bunga mawar yang berlapis-lapis.

Namun sebanyak apa pun upaya yang dilakukan, manusia harus meninggalkan suatu hal baik yang disimbolkan dalam bunga kenanga. 

“Karena bagaimana pun semua manusia akan mati. Sehingga harus membawa oleh-oleh atau uthil-util yang disimbolkan bunga kantil. Sedangkan sikap selalu hati-hati dalam menjalani hidup  disimbolkan dengan bunga melati,” katanya.

Menurut Lulut, selain 4 bunga tadi sebenarnya ada satu lagi ubo rampe yang harus dibawa saat melakukan ziarah kubur. Yakni air kendi. Air ini merupakan simbolisasi dari pitutur Jawa urip mung mampir ngombe. 

“Saat Nyekar kita diingatkan kembali bahwa hidup di dunia ini hanyalah sementara dan tidak abadi,” katanya. ***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *