Mabur.co – Tanggal 25 Januari selalu diperingati sebagai Hari Gizi Nasional (HGN), sebuah momen untuk mengapresiasi perjuangan tenaga gizi yang telah berjuang membangun kesehatan masyarakat.
Salah satu yang cukup identik dengan peringatan HGN adalah jargon “4 sehat 5 sempurna” yang pertama kali diperkenalkan pada 1952 silam.
Jargon ini memiliki arti bahwa porsi makanan sehari-hari haruslah memiliki kandungan gizi lengkap, mulai dari karbohidrat, protein, vitamin, lemak, dan juga mineral.
Ada pun “4 sehat 5 sempurna” sejatinya merujuk pada nasi, lauk-pauk, sayur, buah, dan susu, sebagai penutup yang menyempurnakan empat bahan makanan sehat sebelumnya.
Namun pada 2026 ini, apakah jargon “4 sehat 5 sempurna” masih benar-benar berlaku, termasuk di kalangan pemerintahan? Apalagi dengan perkembangan zaman yang begitu pesat dan canggih seperti sekarang?
Well, jargon “4 sehat 5 sempurna” sayangnya sudah tidak lagi menjadi pedoman resmi kesehatan dari pemerintah. Tepatnya pada 2014 lalu, pemerintah melalui Kementerian Kesehatan resmi menggantinya dengan istilah baru yakni “Pedoman Gizi Seimbang” (PGS).
PGS dinilai lebih tepat melambangkan perkembangan gizi kekinian, karena “4 sehat 5 sempurna” dinilai sudah usang dan pemaknaannya terlalu luas, sehingga kurang cocok jika terus diterapkan di era sekarang ini.
Apalagi perkembangan gizi dan teknologi pada makanan juga terus berubah dari waktu ke waktu, sehingga PGS dianggap lebih tepat sebagai pedoman pola makan rakyat Indonesia, setidaknya sampai sekarang.
Istilah “4 sehat 5 sempurna” juga hanya membahas secara umum makanan yang perlu dikonsumsi yakni nasi, lauk-pauk, sayur, buah, dan susu, tanpa menyebutkan takaran atau pun kapasitas yang diperlukan untuk kebutuhan masing-masing individu.
Di sisi lain, PGS secara spesifik menekankan pada pemenuhan asupan sehari-hari dengan sumber gizi yang bervariasi (dan itu tidak selalu berasal dari makanan “4 sehat 5 sempurna”), serta jumlahnya yang disesuaikan dengan kebutuhan setiap individu.
Selain itu, PGS juga menambahkan beberapa pilar penting lainnya sebagai bagian dari pemenuhan gizi seimbang (selain tentang makanan), di antaranya adalah membiasakan jenis makanan yang bervariasi, menjaga pola hidup bersih, rajin berolahraga, rutin memantau (dan menjaga) berat badan, serta rutin minum air mineral.
Pilar-pilar di atas, tentunya tidak pernah terpikirkan pada periode 1950-an lalu, saat pertama kali memperkenalkan jargon “4 sehat 5 sempurna”.
Meskipun diakui bahwa branding “4 sehat 5 sempurna” masih begitu melekat di telinga masyarakat Indonesia sampai hari ini, meskipun sudah lama dimodifikasi dan disempurnakan sesuai perkembangan zaman.
Namun sebenarnya, “4 sehat 5 sempurna” masih bisa diberlakukan dalam makanan keseharian Anda sampai hari ini, hanya saja sudah tidak lagi digunakan sebagai pedoman resmi milik Pemerintah.
Karena tentu saja makanan seperti nasi, lauk-pauk, sayur, buah, serta susu masih tetap menyehatkan dan baik untuk dikonsumsi oleh tubuh hingga saat ini. Asalkan jumlahnya tetap terukur dan tidak berlebihan. (*)



