Bahagia itu Tergantung Ekspektasi Setiap Individu, Guys!

6 Min Read
Two male Indonesian students in white shirts with blue ties read papers at a wooden desk, smiling; others sit in rows behind them in a classroom.
Ilustrasi orang A (krii) dan orang B (kanan) yang bereaksi berbeda meskipun mendapat nilai yang sama persis ketika ujian sekolah (Foto: istimewa)

Mabur.co – Jika Anda perhatikan dalam kehidupan sehari-hari, misalnya dalam konteks ujian sekolah, ada orang yang bahagia ketika mendapat nilai 9, tapi ada juga orang lain yang justru sangat kecewa, ketika memperoleh nilai 9, dan sebagainya.

Nilai yang diperoleh sama-sama 9, namun ekspresi yang ditimbulkan dari nilai itu bisa berbeda 180 derajat untuk dua orang yang berbeda.

Ada yang merasa bahagia dengan pencapaian itu, tapi ada juga yang justru merasa sedih ketika memperoleh hasil semacam itu, dan sebagainya.

Lalu, mengapa hal itu bisa terjadi? Apakah ada yang salah dari cara pandang kedua orang itu dalam memaknai nilai pelajaran di sekolah?

Dilansir dari laman resmi Universitas Airlangga (Unair) Surabaya, Selasa (25/8/2026), berikut adalah cara lebih rinci dalam memaknai kebahagiaan terhadap situasi tertentu.

Ekspektasi vs Realita

Secara psikologis, kebahagiaan seringkali dirumuskan sebagai selisih antara realita dan ekspektasi. Jika realita lebih tinggi atau sama dengan harapan atau ekspektasi, maka kebahagiaan akan muncul.

Sebaliknya, terlalu banyak berharap alias berekspektasi tinggi, sering kali memicu kekecewaan, manakala hasil atau realita yang didapat tidak sesuai atau lebih rendah dari ekspektasi di awal.

Dalam contoh kasus di atas, orang A merasa memperoleh nilai 9 saat ujian sekolah merupakan sebuah kebahagiaan, karena ia tidak pernah berekspektasi akan mampu meraih nilai tersebut sebelumnya.

Sementara untuk orang B, nilai 9 seolah merupakan sebuah bencana, alias suatu ketidakbahagiaan. Karena sebelumnya ia berekspektasi tinggi akan mampu meraih nilai 10 atau sempurna, bukan 9 seperti yang akhirnya didapatkan.

Dalam hal ini, perlu ada kendali yang lebih realistis terhadap sebuah ekspektasi, agar tidak kadung kecewa dengan realita yang harus dihadapi, dan sebagainya.

Melakukan Perbandingan Sosial

Selain soal ekspektasi personal, standar kebahagiaan setiap individu juga menjadi semakin rumit, ketika ekspektasi itu dibentuk oleh standar orang lain atau media sosial.

Individu yang bahagia biasanya akan lebih fokus pada perjalanan diri mereka sendiri, alih-alih membandingkan kebahagiaan dirinya dengan orang lain yang dilihat di media sosial, didasarkan pada cerita-cerita tetangga, saudara, dan seterusnya.

Cukup selalu bersandar pada standar ekspektasi diri sendiri, yang itupun juga tidak terlalu berlebihan, dan tetap pada batasan yang wajar, alias realistis. Serta tidak mudah terpengaruh oleh pencapaian orang lain.

Pasalnya setiap orang pasti mempunyai cerita dan perjalanannya masing-masing, yang tidak bisa dibandingkan begitu saja, termasuk soal standar kebahagiaan yang diperoleh.

Dalam konteks nilai ujian di atas, perjalanan orang A yang mensyukuri pencapaian nilai 9.

Tentunya sangat berbeda jauh dengan orang B, yang merasa kecewa berat dengan nilai 9 tersebut. Karena keduanya berasal dari background keluarga yang berbeda, tingkat pendidikan yang berbeda, dan lain sebagainya.

Berharap pada Sesuatu di Luar Kendali

Kekecewaan terbesar biasanya datang saat kita menggantungkan ekspektasi pada sesuatu yang tidak bisa dikontrol, misalnya penilaian atau sikap orang lain.

Akibatnya, standar ekspektasi akan semakin bertambah, dan menyasar ke hal-hal yang tidak bisa ditentukan oleh diri sendiri, dan sebagainya.

Dalam contoh nilai ujian di atas, orang B kemungkinan besar telah mempersiapkan postingan khusus yang menyatakan bahwa dirinya telah berhasil meraih nilai sempurna alias 10, kemudian postingan itu akan dikomen oleh teman-temannya dengan ucapan “Selamat” dan sejenisnya.

Namun karena (dianggap) gagal, alias merasa tidak bahagia, akhirnya ia terpaksa memposting nilai 9 tersebut, dan mendapat komentar-komentar yang justru tidak diinginkan. Karena ia dianggap telah melanggar janji (sebelumnya yakin akan mendapat nilai 10), telah berbohong, omon-omon, dan sebagainya.

Definisi yang Subjektif

Setiap orang pastinya memiliki nilai hidup yang berbeda-beda antara satu dengan yang lainnya. Ada yang mendefinisikan kebahagiaan dari pencapaian materi, namun banyak juga yang menemukannya dalam hal sederhana, seperti melalui ketenangan batin atau spiritualitas, dan masih banyak lagi.

Dalam konteks nilai ujian sekolah tadi, angka 9 bisa dimaknai secara berbeda oleh orang A dan B, mengingat mereka punya definisi sendiri-sendiri terkait makna dari nilai 9 tersebut.

Untuk itu, kebahagiaan setiap individu memang tidak bisa diukur dari satu parameter tertentu yang seragam untuk semua orang. Sehingga sifatnya sangatlah subjektif, dan tidak bisa dikait-kaitkan satu sama lain.

Karena setiap orang tentunya mempunyai cerita dan pengalamannya masing-masing, yang tidak pernah sama persis antara satu dengan yang lainnya, sekalipun kedua orang itu memiliki wajah kembar, berasal dari keluarga yang sama, selalu bersama setiap saat, dan sebagainya.

***

Apapun dan bagaimanapun standar kebahagiaan setiap orang, hanya dirinya sendiri yang berhak mengetahui dan mengaturnya. Karena kembali lagi, standarisasi kebahagiaan sangatlah subjektif dan penuh dengan nilai-nilai personal di dalamnya.

Ketika Anda lebih fokus pada standar kebahagiaan diri sendiri (yang realistis), maka Anda setidaknya sudah mampu mengatur standar kebahagiaan diri Anda sendiri, tanpa perlu merasa kecewa apabila ada sesuatu yang ternyata tidak sesuai dengan kenyataan, dan seterusnya. (*)

Share This Article
Avatar photo
Lulusan program studi Jurnalistik STMM Yogyakarta, Jurnalis mabur.co, Writing Is Journey Of My Life
Avatar photo
Pemimpin redaksi mabur.co
Tidak ada komentar