Mabur.co- Bambu runcing merupakan salah satu benda yang tidak asing bagi bangsa Indonesia. Dalam sejarahnya bambu runcing merupakan senjata tradisonal yang dipergunakan untuk melawan penjajahan asing. Bambu runcing bukan senjata modern tetapi terbukti sakti ketika dipergunakan melawan penjajah di masa lalu.
Penggunaan bambu runcing ini populer di berbagai daerah, terutama saat terjadi pertempuran besar seperti di Surabaya pada 10 November 1945. Para pejuang dari berbagai latar belakang, mulai dari santri, petani, hingga pemuda, berbekal senjata ini untuk melawan pasukan Sekutu yang dilengkapi dengan tank dan senapan modern.
Salah satu tokoh yang sering dikaitkan dengan bambu runcing adalah Kiai Subchi dari Parakan, Temanggung, Jawa Tengah.
Kiai Bambu Runcing
Ia memimpin para santri dan rakyat untuk melawan penjajah dengan bambu runcing. Dengan doa dan semangat patriotisme, bambu runcing di tangan para pejuang seolah menjadi senjata yang tak terkalahkan. Pengaruh Kiai Subchi begitu besar sehingga ia dijuluki sebagai “Kiai Bambu Runcing”.
Melansir dari berbagai sumber, Minggu (2/8/2026), bambu runcing sendiri merupakan sebuah tongkat dari bambu berwarna kuning yang bagian ujungnya dibuat runcing, sebagai senjata yang sederhana namun ampuh. Setelah diberi doa oleh para kiai untuk melawan penjajah Jepang sebelum kemerdekaan RI, di daerah Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah.
Kemudian digunakan melawan penjajahan Belanda setelah Kemerdekaan (1945-1948) di daerah Ambarawa dan wilayah lainnya.
Menurut catatan, sekitar 10.000 orang setiap hari selama sekitar satu tahun, datang ke Parakan untuk mendoakan senjata bambu runcing mereka sebelum digunakan di medan perang.
Dikisahkan, ketika rakyat sedang berjuang, banyak santri yang juga ingin ikut terjun dalam pertempuran. Berawal dari situ, Kiai Subchi kemudian memperkenalkan bambu runcing sebagai senjata kepada para santri.
Para santri dan rakyat yang akan berjuang terlebih dulu diajarkan cara membuat bambu runcing. Bambu-bambu dikumpulkan oleh para santri dari Tegalan. Mereka kemudian meruncingkan bambu tersebut hingga lancip, lalu diolesi dengan cairan.
Beberapa laskar rakyat yang juga menggunakan bambu runcing sebagai senjata adalah Laskar Hizbullah dan Sabilillah, serta Tentara Keamanan Rakyat (TKR).
Senjata bambu runcing cukup membuat penjajah merasa takut. Bahkan bagi Belanda, bambu runcing dianggap sebagai pembunuh dalam keheningan. Ketika bambu runcing dilemparkan, senjata ini tidak akan mengeluarkan suara apa-apa, sehingga tidak mudah diketahui keberadaannya oleh musuh.
Para penjajah juga mengakui bahwa mereka lebih baik mati karena ditembak, dibandingkan dengan senjata bambu runcing. Bagi mereka, luka peluru masih dapat diobati, sedangkan bambu runcing tidak.
