Mabur.co – Bagi Anda yang akrab dengan belanja secara online (di marketplace, media sosial, dan lain-lain), pastinya sudah tak asing lagi dengan istilah “promo”.
Promo adalah salah satu strategi pemasaran yang digunakan perusahaan sebagai brand awareness mereka, sekaligus upaya untuk meningkatkan target penjualan.
Biasanya promo dilakukan dalam bentuk diskon, bonus, hadiah, dan seterusnya.
Salah satu jenis promo yang paling populer, apalagi di jagat online, adalah promo yang ditandai dengan tanggal dan bulan yang sama setiap bulannya, seperti 2.2 (2 Februari), 3.3 (3 Maret), 4.4 (4 April), dan seterusnya hingga Desember (12.12).
Selain itu tentu saja ada promo-promo lain macam promo akhir/awal tahun, promo Ramadan, promo Lebaran, promo Natal, promo Imlek, dan masih banyak lagi.
Bisa dibilang, 365 hari dalam satu tahun kalender adalah full promo bagi siapa saja, agar tercipta aktivitas belanja setiap harinya.
Ancaman Terselubung di Balik Setiap Promo
Di balik berbagai kemudahan dan keuntungan yang ditawarkan dari setiap promo, biasanya tersimpan ancaman terselubung di dalamnya.
Tentu saja, ancaman-ancaman semacam itu tidak akan diberitahukan kepada calon konsumen, agar mereka tetap tertarik membeli.
Beberapa ancaman itu di antaranya pencurian data pribadi (phising), penyalahgunaan akun, dan seterusnya.
Selain soal risiko cyber, promo belanja akan sangat merugikan jika selalu dikejar. Ada pun penjelasannya adalah sebagai berikut.
Memicu Perilaku Konsumtif
Promo sering kali merupakan “senjata ampuh” untuk bisa menjaring konsumen. Apalagi setiap promo umumnya memiliki batas waktu maupun syarat-syarat lainnya (misalnya harus follow akun media sosial terlebih dahulu, belanja minimal sekian ribu, dan seterusnya).
Sehingga hal itu akan memacu orang untuk bergegas membeli produk tersebut agar tidak ketinggalan atau takut kehabisan, meskipun sebenarnya tidak terlalu dibutuhkan.
Hal semacam ini mengakibatkan terjadinya perilaku konsumtif tanpa disadari, yang berujung pada pemborosan.
Manipulasi Harga
Tak jarang sebelum masa promo, penjual telah lebih dulu menaikkan harga dasar produk yang akan diobral.
Sehingga pada dasarnya harga promo yang tertera itu masih sama atau hanya berkurang sedikit dari harga normal.
Kualitas Produk Lebih Rendah
Selain soal harga, promo besar-besaran biasanya hanya diterapkan pada produk-produk bekas, atau yang berkualitas lebih rendah dari yang ada di pasaran atau tertera di iklan.
Mengganggu Prioritas Keuangan
Selalu mengejar promo di mana-mana sudah jelas akan menguras keuangan Anda. Karena Anda mau tidak mau harus mengalokasikan lagi anggaran yang tersedia, hanya untuk mengakomodir promo tersebut, padahal barangnya belum tentu mendesak untuk dimiliki sekarang.
Faktor Psikologis
Hadirnya promo mampu memberikan sensasi “menang” secara semu. Di mana hal itu seringkali memicu keinginan impulsif dan kepuasan sementara, namun akhirnya berujung pada penyesalan yang lebih besar.
***
Sebenarnya sah-sah saja jika selalu tergiur dengan setiap promo. Namun ketika setiap hari selalu ada promo di mana-mana (dengan berbagai nama dan syarat yang berbeda-beda di dalamnya), maka pemilihannya haruslah sangat selektif, dan benar-benar memperhatikan semua syarat dan ketentuan (S&K) yang tertera di dalamnya.
Agar Anda tidak tertipu sekaligus menyesal di kemudian hari, hanya karena selalu tergiur dengan semua promo yang tiada habisnya itu. (*)



