Mabur.co – Dua tahun lalu, Indonesia hancur lebur di ajang AFF 2024 atau ASEAN Championship. Skuad asuhan Shin Tae-yong (STY) harus gugur dari fase grup, lantaran hanya sanggup menghuni peringkat ketiga di grup B, di bawah Vietnam (yang kemudian keluar sebagai juara), serta Filipina.
Pada ajang yang juga bernama ASEAN Hyundai Championship tersebut, PSSI sengaja menempatkan pemain-pemain timnas U-23 ke dalam skuad yang dibawa ke turnamen tersebut, yang diproyeksikan menghadapi Kualifikasi Piala Asia U-23 pada September 2025, serta yang paling utama yakni SEA Games 2025 di Thailand.
Padahal, turnamen AFF 2024 yang berlangsung pada bulan Desember 2024 hingga Januari 2025 tersebut adalah turnamen yang diperuntukkan bagi para pemain senior, alias turnamen paling bergengsi di kawasan Asia Tenggara (bisa juga disebut sebagai “Piala Dunia”-nya negara-negara ASEAN), sehingga skuad yang dibawa harusnya merupakan para pemain terbaik (pemain senior) dari masing-masing negara yang berpartisipasi.
Timnas Indonesia pun saat itu menjadi satu-satunya peserta yang menurunkan skuad U-23 di turnamen AFF 2024 level senior tersebut, dengan rata-rata usia sekitar 20,9 tahun. Cukup jauh dari rata-rata peserta termuda kedua yakni Timor Leste dan Laos, dengan rataan sekitar 23,1 tahun.
Ketika pemain-pemain yang belum matang diharuskan untuk menghadapi pemain-pemain senior dari negara lain, tentu saja timnas Indonesia tidak berada pada level yang seharusnya, ketika berkompetisi di kawasan Asia Tenggara.
Padahal, Indonesia adalah salah satu unggulan di kawasan ini sejak bertahun-tahun lamanya. Bahkan di ajang Asia Tenggara lain seperti SEA Games, Indonesia telah berhasil meraih predikat juara umum sebanyak 10 kali. Sementara untuk cabang sepakbola di SEA Games, Indonesia telah meraih medali emas (juara) sebanyak tiga kali.
Turnamen Terakhir Shin Tae-yong Bersama Timnas Indonesia

Turnamen AFF 2024 juga menjadi kiprah terakhir STY bersama timnas Indonesia. Setelah memimpin Indonesia selama lima tahun sejak akhir 2019, perjalanan STY bersama skuad Garuda akhirnya harus berakhir dengan cara yang terbilang buruk.
Bagaimana tidak, ia hanya dibekali pemain-pemain U-23 untuk mengarungi turnamen level senior. Padahal Indonesia telah dibekali banyak pemain naturalisasi asal Belanda, yang justru tidak dipergunakan secara maksimal di kesempatan kala itu.
Setelah kegagalan di AFF 2024 itu, STY pun resmi dipecat oleh PSSI pada 6 Januari 2025, dan digantikan oleh legenda asal Belanda, Patrick Kluivert, yang ironisnya justru membuat permainan timnas Indonesia menjadi lebih buruk dari periode STY, sampai akhirnya harus gagal menembus putaran final Piala Dunia 2026, yang baru saja usai pada akhir pekan lalu.
Ketika tim U-23 di ajang AFF saat itu diproyeksikan untuk dua turnamen besar lainnya, yakni Kualifikasi Piala Asia U-23 pada September 2025 dan juga SEA Games pada Desember 2025 lalu, nyatanya kedua turnamen tersebut juga dilalui Indonesia dengan mengecewakan.
Indonesia sama-sama tersingkir dari fase grup dalam dua turnamen tersebut, sehingga impian untuk lolos ke Piala Asia U-23 tahun 2026 serta mempertahankan emas SEA Games harus sirna. Momen itu menjadi salah satu blunder terbesar yang dibuat oleh PSSI era Erick Thohir, selain tentunya memberhentikan STY saat Indonesia sedang dalam tren positif di Kualifikasi Piala Dunia 2026.
Betapa pahitnya perpisahan yang harus dialami pelatih asal Korea Selatan tersebut, yang sudah begitu berjasa membawa Marselino dan kawan-kawan merangsek jauh hingga 45 peringkat di ranking FIFA, dalam kurun waktu 5 tahun.
Siap Juara di AFF 2026

Dua tahun berselang, tepatnya di tahun 2026 ini, Indonesia kembali berkesempatan menebus kesalahan fatal pada dua tahun lalu, untuk benar-benar mempersiapkan turnamen AFF dengan lebih matang.
Salah satunya dengan menunjuk mantan pelatih Kanada di Piala Dunia 2022 lalu, John Herdman, untuk menukangi Rizky Ridho dan kawan-kawan di turnamen AFF 2026 kali ini.
Dengan bekal skuad yang benar-benar berusia senior (bukan lagi U-23, kecuali untuk beberapa pemain yang benar-benar berkualitas), skuad Garuda kali ini jelas diharapkan untuk benar-benar meraih gelar juara, yang belum pernah diraih sama sekali oleh generasi manapun sejak turnamen ini digelar pertama kali pada 30 tahun silam.
Tidak perlu lagi membuat alasan bahwa pemain-pemain ini diproyeksikan untuk SEA Games atau semacamnya, karena pemain-pemain senior yang telah dipersiapkan di Bali sejak awal Juli ini merupakan pemain-pemain terbaik dari kompetisi BRI Super League.
Pemain-pemain ini pun tidak hanya berasal dari Indonesia (asli) saja, tapi juga dilengkapi dengan “antek-antek asing” alias pemain naturalisasi dari Belanda, yang kebetulan juga bermain di Liga Indonesia pada musim lalu, sebut saja Thom Haye, Eliano Reijnders, dan Jens Raven, serta dua amunisi tambahan yang baru bergabung di musim depan, yakni Ragnar Oratmangoen dan juga Sandy Walsh. Keduanya memutuskan untuk “pulang kampung” dengan bergabung ke Persib Bandung pada awal musim depan.
Jika sudah begini, rasanya sudah tidak alasan lagi bagi Indonesia untuk tidak menjadi juara di level regional Asia Tenggara. Karena skuad Herdman telah dibekali skuad yang begitu mewah, dan siap menantang lawan-lawan tangguh di kawasan ASEAN seperti Vietnam dan juga Thailand, demi meraih supremasi tertinggi di kancah regional Asia Tenggara untuk pertama kalinya. (*)
