Menakar Potensi Kericuhan di Laga “El Clasico Indonesia”

Mabur.co – Akhir pekan ini, pentas BRI Super League akan memainkan laga panas. Salah satu laga yang paling dinanti-nantikan sepanjang musim, layaknya El Clasico di La Liga Spanyol, yakni antara Persib Bandung melawan Persija Jakarta. Keduanya akan saling berhadapan pada Minggu sore (11/1/2026) di Stadion Gelora Bandung Lautan Api (GBLA), Bandung, Jawa Barat.

Laga yang disebut-sebut sebagai “El Clasico Indonesia” ini sarat akan kericuhan. Bahkan dalam pertemuan terakhir mereka pada Februari 2025 lalu, tercatat ada sekitar 37 orang supporter Persib dan Persija yang diamankan pihak kepolisian, sementara 12 orang lainnya dirawat di rumah sakit, akibat mengalami luka serius di bagian wajah. Kerusuhan juga sempat menyebar ke stasiun Jatinegara.

Itu masih belum termasuk deretan kasus lainnya yang kerap mewarnai laga ini sejak puluhan tahun silam.

Meskipun dalam beberapa tahun terakhir PSSI dan PT LIB selaku penyelenggara kompetisi telah memberlakukan larangan supporter tim tamu atau away, namun tetap saja potensi kericuhan masih bisa terjadi, termasuk di kalangan supporter tim tuan rumah sendiri.

Dilansir dari ayobandung.com, untuk mengatasi kemungkinan tersebut, Pemerintah Jawa Barat bersama tim kepolisian telah berinisiatif untuk mengadakan nonton bareng (nobar) di beberapa titik di Jawa Barat. Hal itu dilakukan guna mengantisipasi hadirnya Bobotoh (sebutan pendukung Persib Bandung) dalam jumlah yang besar, terutama bagi yang tidak memiliki tiket.

Sementara itu pihak kepolisian Jawa Barat dikabarkan telah menyiapkan 3.000 personel untuk pengamanan laga ini. Personel ini berasal dari Polda Jabar, Polrestabes Bandung, Polres-polres sekitar stadion GBLA, TNI, serta pemerintah daerah setempat. Pengamanan diawali dari ring terluar hingga terdalam di stadion, pemeriksaan berlapis, sterilisasi area sejak pagi, dan larangan membawa benda-benda berbahaya seperti flare, senjata tajam, minuman keras, dan seterusnya.

Tidak Ada Jaminan Pasti

Meskipun segenap usaha telah dilakukan untuk mengamankan laga super big match ini, termasuk juga larangan supporter away yang masih berlaku, namun rivalitas keduanya beserta tensi tinggi yang kerap terjadi masih bisa menjadi pemicu lahirnya kericuhan baru.

Biasanya masih ada saja orang-orang yang tiba-tiba menyelinap masuk ke dalam stadion, meskipun tidak memiliki tiket.

Hal ini tentunya patut diwaspadai, mengingat penjagaan yang super ketat dari berbagai elemen masih bisa ditemukan celahnya untuk diterobos, sehingga peluang terjadinya kerusuhan tetap selalu ada.

Selain soal pengamanan, satu hal lainnya yang tak kalah penting adalah bagaimana mendewasakan supporter, untuk tidak fanatik secara membabi-buta, sampai-sampai menganggap supporter tim lawan adalah musuh yang harus “dibunuh” setiap kali bertemu. Karena tentu saja tidak ada yang ingin menonton sepakbola dan pulang dalam keadaan luka-luka, cedera, apalagi kehilangan nyawa, hanya demi rivalitas sesaat di lapangan hijau. Sedangkan efeknya bisa terus membekas selama bertahun-tahun. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *