Mabur.co – Kita pasti sudah familiar dengan komentar-komentar “jahat” netizen Indonesia terhadap artis, pejabat, atau siapa pun yang tiba-tiba viral di lini masa digital tersebut.
Saking jahatnya, komentar-komentar itu bahkan tidak lagi membahas tentang substansi inti dari permasalahan yang membuat sosok mereka jadi viral di dunia maya, melainkan sudah meluas ke hal-hal yang sebenarnya tidak terlalu berhubungan, namun seperti berusaha dihubung-hubungkan sedemikian rupa.
Misalnya saja mengaitkannya dengan pihak keluarga, teman, negara, lawan politik, hingga menyebutkan nama-nama binatang yang sama sekali tidak pantas diucapkan atau dituliskan dalam forum semacam itu.
Anehnya, komentar-komentar yang out of context semacam itu justru sering kali tidak berani diutarakan secara langsung, apabila bertemu langsung dengan orang yang dikomentarinya tersebut.
Seolah ada “tembok pembatas” yang menghalangi untuk berbicara, sehingga membuat tidak seluwes saat dia lihai memainkan jari-jemarinya dalam menuliskan komentar terhadap orang-orang yang viral tersebut.
Lalu, mengapa hal itu bisa terjadi, dan sangat umum dialami oleh setiap orang, termasuk di Indonesia? Dan adakah kiat khusus untuk mengatasi hal tersebut?
Dilansir dari laman Industry.co.id, Selasa (26/5/2026) berikut ini adalah penjelasan selengkapnya mengenai fenomena yang satu ini.
Adanya Fenomena Psikologis
Orang cenderung berani bersuara bahkan menggunakan nama-nama binatang saat berkomentar di media sosial, namun langsung ciut saat bertemu langsung di dunia nyata, itu disebabkan karena adanya fenomena psikologis tertentu, yang disebut Online Disinhibition Effect (efek pelepasan hambatan daring).
Di dunia maya, batasan sosial terasa luntur akibat hilangnya kontak tatap muka (pertemuan fisik), identitas yang tersamarkan, serta ketiadaan konsekuensi langsung atas komennya tersebut.
Selain itu, ada beberapa faktor lainnya yang mendasari fenomena Online Disinhibition Effect tersebut, antara lain sebagai berikut.
1. Anonimitas
Banyak pengguna menganggap bahwa media sosial dapat menyembunyikan identitas aslinya terhadap sorotan publik. Hal itu lantas memicu mereka untuk memisahkan tindakan di dunia maya dari kehidupan di dunia nyata, sehingga mereka merasa tidak akan dikenali atau dilacak sedemikian rupa oleh pengguna lainnya.
2. Minimnya Konsekuensi Fisik & Sosial Langsung
Berbeda dengan interaksi langsung di dunia nyata yang dapat melihat ekspresi lawan bicara secara langsung dan terbuka, interaksi di media sosial tidak memerlukan itu sama sekali.
Mereka hanya “bertarung” melalui untaian kata demi kata yang tertulis di kolom komentar platform media sosial, tanpa mengetahui ekspresi atau makna sebenarnya dari pesan tertulis yang dimaksud oleh si pembuat komentar.
Akibatnya, satu kata atau kalimat bisa dimaknai berbeda oleh orang-orang yang membaca komentar tersebut.
Jika komentar tersebut diucapkan dalam forum terbuka di dunia nyata, kemungkinan terjadinya sanksi sosial akan cukup besar, seperti dikeluarkan dari forum tersebut, diusir oleh panitia, dikucilkan oleh audiens lainnya, di-blacklist dari acara-acara serupa di kemudian hari, dan seterusnya.
Sementara di dunia maya, sanksi sosial terberat hanyalah diblokir, komennya dihapus, dan sejenisnya. Sementara orang tersebut masih bisa membuat akun baru untuk berkomentar sesuatu yang sama di lain waktu, dan seterusnya. Sehingga tidak ada efek jera secara langsung yang dialami oleh orang tersebut, karena efeknya hanya terasa di dalam layar ponselnya saja, dan sebagainya.
3. Jarak Emosional
Berkomunikasi melalui layar menciptakan semacam “perisai psikologis”. Pelaku merasa bahwa kata-kata hanyalah “teks” biasa tanpa dampak yang nyata.
Akibatnya timbul keberanian berlebih untuk menyerang atau mengkritik orang-orang yang viral tersebut secara ekstrem, tanpa memperhatikan bagaimana perasaan mereka saat membaca komentar-komentar “jahat” dari orang-orang tersebut.
4. Pencarian Validasi
Menjadi sosok yang vokal di internet juga sering kali didorong oleh keinginan untuk mendapatkan perhatian, likes, atau pengakuan dari para followers-nya, yang mungkin jarang didapatkan di dunia nyata.
***
Selain di media sosial, situasi seperti ini juga cukup umum ditemui dalam kehidupan sehari-hari, termasuk di Indonesia.
Contohnya dalam sebuah kegiatan seminar atau forum diskusi, setiap ada pembawa acara atau moderator yang memberi kesempatan kepada audiens untuk mengajukan pertanyaan atau pendapatnya mengenai materi yang telah disampaikan, biasanya yang mengangkat tangan atau berani bersuara kemungkinan hanya ada satu sampai tiga orang saja, dari sekitar 50 orang atau lebih yang hadir dalam forum tersebut.
Lain halnya jika forum semacam itu terjadi di sekolah (dalam bentuk materi pelajaran), dari sekitar 20 hingga 30 siswa yang ada dalam satu kelas, paling-paling hanya satu orang saja yang benar-benar berani bertanya kepada guru ataupun dosen yang mengampu pelajaran tersebut.
Namun jika forum seminar atau materi pelajaran tersebut dilaksanakan dalam format online atau digital, orang-orang yang berkomentar hampir pasti akan melebihi angka-angka tersebut. Bahkan bisa jadi, semua orang yang hadir dalam forum online tersebut akan berkomentar, dengan beberapa diantaranya juga tak segan-segan mengucapkan nama-nama binatang di dalamnya.
Orang dewasa pun tak luput dari fenomena yang satu ini. Biasanya orang-orang dewasa (terutama emak-emak) sangat hobi menggosipkan orang lain (biasanya tetangga yang sedang membuat suatu kehebohan tertentu di kalangan masyarakat) sedemikian rupa, alias “ngomongin dari belakang”, baik segala kejelekannya, desas-desus yang mengiringinya, atau apapun yang sekiranya bisa digosipkan oleh orang-orang di sekitarnya.
Namun semua gosip itu seketika mental, dan tidak berani diucapkan sedikitpun, ketika bertemu langsung dengan orang yang digosipkan tersebut. Nyali yang awalnya begitu besar saat membicarakannya “di balik layar”, tiba-tiba sirna begitu saja saat orang itu hadir langsung di hadapannya.
Beberapa psikolog pun menyebutkan bahwa keberanian “di balik layar” semacam itu hanya bersifat semu, dan tidak mencerminkan keberanian yang sesungguhnya.
Pelaku agresi ini (baik di media sosial maupun di dunia nyata (ngomongin di belakang dan lain-lain) biasanya mengalami kesulitan dalam membangun relasi sosial yang sehat dalam kehidupan sehari-hari (di dunia nyata).
Menurut salah satu studi psikologi perilaku manusia, saat orang-orang berhadapan (bertemu) langsung, terjadi semacam hambatan emosional dan norma sosial yang seketika berlaku di dalamnya.
Sehingga orang-orang yang biasanya nyinyir di medsos atau ngomongin di belakang, biasanya akan cenderung menarik diri atau menjadi “ciut”, saat bertemu langsung dengan orang yang menjadi objek dalam komentarnya, dan seterusnya. (*)

