Agama Itu Bukan Kualitas Formalitas Materialitas

Fenomena yang ditemukan dalam hidup manusia, dan sesungguhnya merupakan bagian dari keniscayaan tak tertolak adalah kebudayaan. Kemampuan individu dalam memahami pengetahuan dan keyakinan transendental yang kita kenal sebagai agama.

Tidak ada manusia seorang pun yang bisa menentukan dan memilih kapan ia lahir dan mati, tempatnya, asal usul dan orang tuanya, bahkan jenis kelamin dan kemampuannya.

Karena keniscayaan itu nyaris mutlak, muncullah keanekaragaman dalam hidup, perbedaan sudut pandang, persepsi, perspektif dan kepentingan akan selalu mewarnai hidup manusia dari dulu sampai kapan pun.

Sehingga secara etika sosial, kita tidak bisa mengukur tinggi rendah atas kebudayaan yang berbeda, pintar bodohnya orang dari penguasaan ilmu dan pengetahuannya yang berbeda, serta sesat atau tidaknya manusia dari penganutan agamanya.

Apalagi kalau mengukurnya hanya dari satu sudut pandang, dari satu ukuran, tanpa memahami secara holistik kehidupan kemanusiaan yang terikat pada hukum besi keniscayaan.

Manusia yang memakai baju berupa “koteka” hakikatnya tidak bisa begitu saja dibilang lebih “rendah” daripada manusia yang berbaju “brukut”.

Manusia tidak bisa dibilang pandai hanya dari satu ukuran, misalnya hanya diukur dari penguasaan ilmu pasti. Sebab yang pinter melukis, menyanyi pun harus dianggap sejajar dengan semua kemampuan yang berbeda. Tidak bisa, pinter atau bodoh hanya diukur dari kepentingan, satu perspektif.

Saya berani mengatakan, demikian halnya penganutan agama.

Religiusitas secara terminologis berasal dari bahasa latin ‘Religare’ yang berarti kemampuan mengikatkan diri untuk memahami dan menyadari tanda-tanda yang bersifat transendental.

Memahami bahwa di balik peristiwa ada penyebab ada akibat, di balik gejala ada fakta, suka duka bukan realitas dan fakta melainkan tanggapan atas fakta, di balik ciptaan ada Pencipta, semua terangkum dalam tata jenjang nilai, ruang, dan waktu.

Agama yang berhenti pada ritus, yang terhenti pada formalitas, terjebak pada baju dan penampilan bukan religiusitas yang sesungguhnya. Bukan berarti ritus, formalitas tidak penting, fisik tidak diperlukan, namun sejauh mana semua itu tertransendensikan dalam makna yang lebih mendalam.

Agama menurut pahamku bukan saling bangga atas banyaknya pemeluk. Agama bukan usaha “Multi Level Marketing” yang berusaha melipatgandakan pelanggan. Yang kemudian kita tiba-tiba “marah dan tersinggung” kalau ada seseorang yang keluar dari agama dan pindah ke yang lain.

Apalagi agama bukan sekadar akun media sosial dengan berbangga-bangga memiliki jumlah besar “followers” dan “friends“.

Pemelukan agama tidak bisa dibanding-bandingkan semata dari jumlah penganutnya. Dalam hal keyakinan jumlah tidak menjamin bahwa yang mayoritas pasti benar.

Itu berlaku bagi jumlah penganutan agama di satu daerah, negara atau bahkan di bumi ini.

“Agama” yang tidak menyentuh dimensi rohani, akan membuat hati nurani menjadi tidak berfungsi. Kita menjadi tidak heran ketika mendengar di kementerian yang mengurusi agama bahkan juga terjadi penyelewengan dana dan korupsi.

Kita menganut agama pun, kebanyakan karena keniscayaan hidup. Kita sekali lagi tidak bisa memilih dan menentukan lahir kapan, di mana, orang tua, jenis kelamin, lingkungan hidup kita.

Keyakinan itu tumbuh dan kuat dari itu. Agama itu lingkup privat dalam hidup kita. Seandainya dalam perjalanan hidup, ternyata harus “pindah” agama, sebagai pilihan, tidak perlu harus menjelek-jelekkan agama yang sebelumnya kita anut.

Jangan secara brutal mengatakan bahwa agama liyan itu sesat, plagiat, pasti salah, dan harus ditobatkan bahkan harus dimusnahkan. Karena agama apa pun, bagi penganutnya itu satu kebenaran yang “ultimate“, yang sangat dipercaya menyelamatkan hidupnya baik di dunia sekarang maupun kehidupan sesudah kematian.

Agama semestinya ditunjukkan oleh sikap dan perilaku religiusitas pemeluknya, dan itu pasti tidak terlepas dari kemampuan interpretatif atas ajaran yang lebih matang dan lebih dewasa.

Itulah yang akan membuat kehidupan kemanusiaan lebih indah. Sebab sekali lagi, perbedaan itu tidak bisa dihilangkan sampai kapan pun. Itu bagian dari “kehendak maha luhur” dari penciptaan semesta.

Kemajemukan budaya, perbedaan dalam ilmu pengetahuan dan kemampuan, perbedaan keyakinan sampai dengan keanekaragaman hayati, memang harus dirawat dan dijaga, dengan cara saling menghormati, oleh manusia yang, konon katanya, makhluk mulia ini. ***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *