Bandara YIA Ternyata Anti-Gempa dan Anti-Tsunami - Mabur.co

Bandara YIA Ternyata Anti-Gempa dan Anti-Tsunami

Ketika dua tahun terakhir ini Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) sosialisasi dengan gencar mengenai kemungkinan gempa megathrust hingga 8 koma sekian skala Richter di wilayah selatan Jawa, maka bangunan yang dipastikan siap menerima guncangan dan banjir, salah satunya adalah Yogyakarta International Airport (YIA) di wilayah Temon, Kulon Progo, Yogyakarta.

Bahkan jika memang ada tsunami maka bisa menampung hingga 12 ribu orang untuk evakuasi.

Persoalannya bagaimana dengan bangunan yang lain? Hotel, kantor, rumah penduduk? Apakah konstruksinya memang sudah antigempa dan bahkan mungkin antitsunami?

Kini sudah saatnya semua pihak baik yang terkait dengan masalah kebencanaan maupun bukan melakukan refleksi lagi mengenai hal ini.

Mengingat siklus gempa bisa saja tetap akan berulang dalam jangka waktu tertentu.

Edukasi dan mitigasi kebencanaan inilah yang juga perlu ditinjau ulang.

Memang sebagai realisasi edukasi dan mitigasi bencana itu, kini di banyak jalan juga sudah ditulisi dengan penunjuk arah yang berbunyi sebagai jalur evakuasi.

Ada juga tempat tertentu yang ditulisi titik kumpul.

Sirine di pinggir laut sebagai penanda tsunami juga sudah ada meskipun tetap harus dicek lagi apakah masih berfungsi ataukah tidak.

Namun melihat kesemuanya itu menandakan ada kesiapsiagaan secara dini yang tetap ditumbuhkan kepada masyarakat sebagai langkah antisipasi datangnya bencana gempa atau tsunami.

Termasuk mengingatkan lagi kesadaran masyarakat untuk saling melindungi, jika gempa terjadi segera sembunyi di bawah meja atau tempat aman lain dan sebagainya.

Mengingat lagi edukasi dan mitigasi bencana tentu tidak ada salahnya dan baik-baik saja.

Termasuk upaya penyelamatan dokumen keluarga, apakah sudah didigitalisasi semua, atau bagaimana cara menyimpan dan membawa secara fisik yang memang diperlukan saat bencana datang.

Tentu saja kapan datangnya gempa kurang bisa dipastikan namun potensi untuk itu di mana pun sama.

Oleh karena itu membangun kesadaran bersama upaya penyelamatan dini terhadap lingkungan terdekat tetap penting untuk selalu dibangkitkan.

Kita bisa berkaca dari negara lain seperti Jepang misalnya yang dekat dan cepat bisa selalu mengatasi bencana yang datang.

Hanya dalam hitungan bulan yang singkat misalnya maka seusai bencana datang warga Jepang bisa langsung bangkit kembali.

Rupanya kesadaran semacam itulah yang perlu ditumbuhkan secara kolektif di kawasan kita masing-masing, terlebih lagi yang memang berpotensi sebagai jalur atau daerah lintasan gempa.

Begitulah hari-hari kita dikelilingi dengan kemungkinan datangnya bencana kapan pun saja, sekehendak maunya alam.

Hitungan matematis para geolog bisa saja tidak meleset namun sebagaimana pasien biasanya kita cukup mendengar globalnya saja.

Ujaran dokter tidak harus tersampaikan secara detail karena bisa merusak psikologi pasien.

Tetaplah bersahabat dengan alam dan semoga persahabatan kita dengan alam tetap membuahkan hasil untuk selalu saling melindungi.

Serta membangun kembali sesuatu yang bisa saja akan roboh sekejap dan perlu dibangkitkan kembali seperti sediakala.

Begitulah siklus alam, semua saling melengkapi: tanah, air, angin, api, dan udara dengan perannya masing-masing sudah menjelaskan juga.

Kapan bisa bekerja sama dengan manusia, melindungi, menghangatkan, namun bisa juga menyirnakan.

Dalam persahabatan itulah kita perlu selalu saling mawas diri, saling merespons dengan baik-baik. ***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *