Kalau hari ini Anda terjerembab dengan menyenangkan dalam ketiak Hari Tertawa Internasional, maka syukurilah.
Karena hanya tertawa yang bisa membebaskan diri dari kungkungan hari-hari yang belakangan ini bagaikan menghimpit dada, menyesakkan napas.
Bayangkan, perang di Timur Tengah entah sampai kapan berakhir, imbas masalah bahan bakar kendaraan dan harga kebutuhan lainnya, mengancam di depan mata.
Belum lagi panas bumi yang makin menyengat, perubahan iklim tak terkendali, membuat setiap orang harus keras menyesuaikan diri dengan alam atau apa pun saja.
Rileks. Boleh jadi itulah salah satu rumus menghadapi guncangan semesta yang tak menentu.
Tertawa pun menjadi salah satu cara untuk menghibur diri yang menyehatkan mental.
Beruntung sebagai manusia Indonesia kekerabatan masih kuat. Masih memungkinkan munculnya canda yang membahagiakan antar-manusia.
Aspek ketahanan mental ini perlu mendapat perhatian serius. Melihat situasi dunia yang bisa saja semakin carut-marut.
Oleh karena itu, selamatkanlah lingkungan terdekat kita, dimulai dari keluarga, untuk bisa menjalani hari-hari dengan tetap berusaha membebaskan diri dari represi.
Memang sulit membuat gembira dalam situasi yang penuh tekanan: global, nasional, lokal. Namun setidaknya sebenarnya kita sudah menemukan caranya. Yaitu dengan gembira itu sendiri atau tertawa itu.
Jika itu memang menjadi salah satu cara terbaik mengapa tidak dicoba? Asal jangan kebablasan saja, tertawa tak terkendali. Panjang dan tak berhenti. Menembus semesta hingga Bulan!
Soal tertawa lepas itu, kalau terjadi pada saya, pemicunya bisa macam-macam. Salah satu saja, menonton lawak.
Kelompok lawak yang menemani masa kecil hingga remaja saya pastilah Srimulat. Saat ini di YouTube lawakan ala Srimulat mudah dijumpai.
Saya senang dengan karakter melawak mereka yang spontan dan lugu. Meskipun kadang tampak tidak begitu percaya diri dan rada canggung namun justru mampu menunjukkan ciri budaya yang sesungguhnya: begitulah cara orang Jawa menghibur.
Tokoh yang tampil juga berkarakter kuat: ada Tarzan yang berlagak kukuh pendirian, diplomatis, tegas, dan tegar. Ada pula Gogon yang rambutnya hampir plontos, hanya menyisakan jambul sedikit saja, dan banyak lagi lainnya.
Di masa sekarang, era stand up comedy merajalela.
Generasi Z dan Alpha lebih suka gaya ala itu dan Mamiek Prakoso, salah satu aktor Srimulat, pernah juga tampil ala stand up comedy.
Seolah-olah berusaha menjembatani ragam zaman yang saling bertolak belakang dan Mamiek Prakoso pun mampu tampil aduhai bagusnya, keluar dari kotak Srimulat dan menjadi komika!
Demikianlah. Peradaban tawa kita harus selalu dijaga. Apa pun format pertunjukannya, tontonan lawak harus selalu ada!
Hahaha…. ***



