Kasus yang menimpa Hogi Minaya, terdakwa karena membela Arista istrinya, menarik dibahas. Dia lelaki, tahu apa yang harus dilakukan saat ada orang lain mengusik istrinya.
Bahwa upayanya menyebabkan dua orang meninggal, lalu dijadikan tersangka, itu hanya representasi bagaimana keadilan di negeri ini.
Sambil berharap kepolisian clear dan adil dalam menangani kasus ini, kita bahas kosa kata Jawa terkait rudapaksa kepemilikan orang lain.
Sama-sama mengambil hak orang lain, ada pola dan konteks yang membedakan. Kita mulai dari yang paling halus sampai kasar.
Util. Biasanya dilakukan secara diam-diam, barang yang diambil relatif kecil atau sedikit, sering dilakukan di pasar. Dia lama mengamati target, begitu pemiliknya terlena, ambil.
Tanpa kekerasan, dan langsung menghilang tanpa terdeteksi. Orang mengutil tak harus karena tuntutan ekonomi, tetapi ada gangguan mental kejiwaan yang disebut kleptomania.
Ada dorongan kuat untuk mengambil barang milik orang lain meski kadang tak berharga. Bila gejala itu mengidap kekuasaan, orang sering menyebut kleptokrasi.
Copet. Ini butuh kelihaian juga. Di kerumunan pasar atau keramaian pasar malam, tiba-tiba saat mau membayar, dompet sudah tidak ada di saku atau tas sudah robek. Itu ulah copet.
Gesit, cepat, lincah, tak terasa. Saat kuliah tahun 1990, dari Klaten turun Janti, oper jalur 7 menuju Bunderan. Saat turun mau bayar, dompet sudah lenyap, dicopet entah oleh siapa. Kecopetan itu baru disadari setelah waktu beranjak. Tak ada kekerasan, tapi menjengkelkan.
Jambret. Ini sudah adu nyali. Dilakukan dengan kekerasan, perampasan, meski di jalan atau keramaian. Sedang naik motor bawa tas, tiba-tiba dari arah belakang dirampas orang lain, biasanya dua orang, lalu tancap gas ngebut.
Teriak pun kadang tak mampu, orang Jawa menyebut “kamisosolen“, tak bisa berkata-kata karena syok. Beda dengan yang dilakukan Arista, punya suami yang gesit.
Grayak. Tindakan pencurian ini agak unik. Hanya dilakukan pada malam hari, melibatkan beberapa orang, dan targetnya orang kaya di desa.
Keunikan lain, kawanan grayak ini lihai menggunakan ilmu sirep, dengan mantra tertentu yang dibacakan menyebabkan para penghuni rumah terlelap. Mereka tak bangun meski isi rumahnya dikuras grayak.
Begal. Ini sudah setingkat di atas jambret. Selain dengan ancaman dan kekerasan, begal sudah melengkapi diri dengan senjata. Target diincar dan dikuntit lama, begitu sampai tempat yang sepi, langsung disergap.
Entah motor atau barang bawaan, jalur pantura disebut bajing loncat, kalau melawan tak segan dihabisi. Ingat kisah Begal Lokajaya sebelum tersadarkan dan menjadi Sunan Kalijaga?
Rampok. Ini sudah terorganisir atau dilakukan secara kelompok. Strategi dan senjata sudah disiapkan, target atau sasaran sudah dipetakan, bahkan mereka paham di mana titik lemah pemilik.
Pernah mendengar perampokan bank, toko perhiasan atau rumah mewah? Itu dilakukan oleh kelompok yang sudah terlatih dan teruji.
Garong. Pola ini dilakukan oleh sekawanan orang yang sudah putus syaraf takutnya. Garong itu dulu dibekali dengan ilmu kesaktian. Setidaknya, pernah berguru pada seorang suhu, mempunyai ilmu kebal, dan cenderung brangasan.
Garong tak hanya merampas barang-barang berharga, kalau ada bisa dikuras semua meski harus merusak perabot rumah tangga dari jendela, pintu, almari sampai brankas.
Ada istilah lain yang menyangkut beragam pola pencurian dan perampasan.
Bandit. Ini merujuk pelaku yang relatif punya nama atau legendaris. Teman kuliah saya sekarang dosen di FIB UGM, Julianto Ibrahim, meneliti keberadaan bandit pada masa revolusi dan dibukukan menjadi “Bandit dan Pejuang di Simpang Bengawan”. Bila ada kisah Robin Hood, kita pun mempunyai tokoh legendaris, Kusni Kasdut atau Slamet Gundul.
Soal istilah, masyarakat Jawa memang memiliki keunggulan yang tak ditemukan padanannya. Di Solo, kita mengenal kecu, istilah yang merujuk aksi premanisme yang muncul pada masa kolonial.
Kehadirannya menakutkan, terutama bagi keluarga Belanda. Hasil perampokan tak selalu untuk kepentingan sendiri, tapi ada yang mendukung perjuangan kemerdekaan.
Sekarang, dengan kasus korupsi yang menggila, siapa dan di mana mereka berada? Apakah sudah mengalami transformasi atau entahlah. ***



