Lentera Almamater - Mabur.co

Lentera Almamater

Saudaraku, tiga puluh lima tahun setelah saya lulus dari Universitas Padjadjaran, hari ini kembali dan mendapati kampus ini bukan lagi ruang yang sama.

Ia telah berubah —secara lokasi, tampilan fisik, maupun cara menghidupinya.

Mahasiswa kini hidup dalam ritme zaman yang dipercepat: sigap dalam merespons, cair dalam berjejaring, akrab dengan teknologi, tetapi juga lebih rentan tercerabut dari kedalaman.

Saya datang bukan lagi sebagai mahasiswa yang percaya dunia bisa diubah dalam satu malam, melainkan sebagai seseorang yang tahu perubahan berjalan lebih lambat daripada hasrat.

Dulu, suara kami lantang. Kini, saya berbicara dengan jeda —karena pengalaman mengajarkan bahwa yang tak terucap kerap sama pentingnya.

Namun getar itu tetap ada: ingatan tentang berdiri untuk sesuatu yang lebih besar dari diri sendiri.

Kepulangan ini dalam rangka memberi kuliah umum di prodi hukum tata negara. Di sini, saya berdiri di perlintasan: bukan alumni hukum, tetapi juga bukan orang asing.

Wajah-wajah lama hadir —kawan seperjuangan yang dulu berdebat di jalanan, kini berbicara dari podium sebagai profesor.

Waktu tidak menghapus kami ia hanya menggeser posisi dalam percakapan yang sama.

Berbicara tentang nomokrasi (rule of law) dan demokrasi, saya sadar keduanya bukan sekadar konsep yang selesai di ruang kuliah.

Dulu kami meneriakkannya sebagai tuntutan; kini saya membacanya sebagai kenyataan yang terus bernegosiasi —rapuh, kerap diselewengkan, tetapi tak pernah sepenuhnya hilang.

Pengalaman memberi kedekatan, jarak memberi kejernihan, memahami berarti terus bersedia meragukan.

Sebagai generalis, saya percaya pada pandangan yang naik lebih tinggi —seperti elang rajawali yang membaca lanskap.

Hukum dan politik saling menyilang dan mengoreksi. Nomokrasi tanpa demokrasi membeku, demokrasi tanpa nomokrasi kehilangan arah. Di sanalah bangsa diuji.

Maka hubungan alumni dan almamater bukan nostalgia, melainkan tanggung jawab.

Kampus harus tetap menjadi lentera nalar —ruang yang berani gelisah dan menjaga integritas. Dari sanalah nomokrasi berakar, demokrasi bermartabat.

Jika cahaya itu redup, yang hilang bukan hanya kampus, melainkan masa depan bangsa. ***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *