Membaca Ulang Kartini: Sejarah, Tafsir, dan Penyuntingan - Mabur.co

Membaca Ulang Kartini: Sejarah, Tafsir, dan Penyuntingan

Setiap 21 April, jutaan anak sekolah mengenakan kebaya, menyanyikan lagu, dan mendengar pidato tentang perempuan yang berjuang untuk emansipasi. Yang tidak mereka dengar adalah kenyataan ini: Kartini yang mereka rayakan adalah ciptaan. Rekonstruksi. Karya edit yang sudah dipoles sedemikian rupa sehingga yang tersisa hanyalah seorang perempuan penurut yang cantik, bukan pemikir radikal yang marah.

Kartini aslinya mengecam kebijakan candu kolonial Belanda. Kartini aslinya menyerang feodalisme Jawa dari dalam. Kartini aslinya menulis tentang Tuhan dengan cara yang akan membuat banyak ulama abad ke-21 tidak nyaman. Dan Kartini aslinya perempuan yang menulis semua itu, sudah dipendam jauh sebelum perayaan 21 April pertama kali digelar.

Ada empat cara Kartini dikubur hidup-hidup. Empat cara berbeda. Oleh empat tangan yang berbeda. Dan semuanya terjadi atas nama penghormatan.

Perang Tafsir: Siapa yang Membajak Kartini?

Pada 1964, Presiden Soekarno menetapkan 21 April sebagai Hari Kartini. Keputusan itu bukan tanpa perdebatan, Soekarno sendiri sempat mempertimbangkan apakah lebih baik menetapkan Hari Ibu yang lebih inklusif. Tapi 21 April menang, dan sejak saat itu dimulailah proses paling sistematis dalam sejarah Indonesia: mengubah seorang pemikir menjadi simbol.

Orde Baru melanjutkan proses itu dengan tangan yang lebih berat. Dalam kurikulum sekolah era Soeharto, Kartini hadir sebagai pahlawan emansipasi yang tahu batas. Ia diperjuangkan haknya bersekolah, ya. Tapi bersekolah untuk menjadi ibu yang lebih baik, istri yang lebih terdidik, perempuan yang tetap tahu tempatnya dalam keluarga. Buku-buku pelajaran menampilkan Kartini dalam kebaya, bukan dalam suratnya yang paling berbahaya.

Titik Balik

Kartini Fonds yang didirikan Van Deventer dan Abendanon membiayai sekolah-sekolah perempuan, tetapi sekolah itu mengajarkan keterampilan rumah tangga sebagai kurikulum utama. Warisan Kartini dipakai untuk mendirikan institusi yang justru membatasi perempuan pada ranah domestik. Ironi yang tidak pernah diajarkan di kelas.

Padahal surat-surat Kartini yang sesungguhnya berisi kecaman terhadap sistem yang jauh lebih luas dari sekadar hak bersekolah. Ia menulis tentang kemiskinan struktural akibat kolonialisme. Ia menulis tentang pengisapan candu yang merusak keluarga-keluarga Jawa. Ia menulis tentang feodalisme bupati yang menjadikan rakyat sebagai alat kekuasaan, termasuk ayahnya sendiri.

Seorang perempuan yang berani mengkritik ayahnya dalam surat yang beredar di kalangan intelektual Eropa bukan perempuan yang sedang berjuang untuk hak pakai kebaya. Ia sedang berjuang untuk sesuatu yang jauh lebih besar: pembongkaran total tatanan yang mengunci seluruh bangsanya.

“Kartini yang diajarkan di sekolah adalah Kartini yang sudah jinak. Kartini yang asli terlalu berbahaya untuk dirayakan.” M. Basyir Zubair

Siapa yang membajak Kartini? Jawabnya bukan satu nama. Ia dibajak secara berlapis: pertama oleh Abendanon yang menyunting suratnya, kemudian oleh pemerintah kolonial yang menjadikannya simbol Politik Etis yang jinak, lalu oleh Soekarno yang menjadikannya ikon nasional, dan akhirnya oleh Orde Baru yang mengubahnya menjadi ibu ideal. Setiap generasi memoles Kartini sesuai kebutuhan zamannya. Dan setiap poles itu mengikis satu lapisan lagi dari perempuan yang sesungguhnya.

Jurnalis Tanpa Kartu Pers, Perempuan yang Membentuk Opini Eropa dari Jepara

Ada sebuah fakta tentang Kartini yang hampir tidak pernah disebutkan dalam perayaan 21 April: ia adalah jurnalis. Bukan secara formal, tidak ada kartu pers, tidak ada meja redaksi, tidak ada honorarium. Tapi dalam pengertian yang paling hakiki, seseorang yang menulis untuk publik, membentuk opini, dan mengubah cara orang melihat sebuah kenyataan. Kartini dapat dipandang sebagai salah satu penulis pribumi paling berpengaruh dalam membentuk opini tentang Hindia Belanda di mata pembaca Eropa.

Artikel-artikelnya dimuat di De Hollandsche Lelie, majalah perempuan Belanda yang terkemuka. Ia menulis tentang adat Jawa, tentang kehidupan perempuan pribumi, tentang praktik pingitan yang membelenggu. Pembaca Eropa yang tidak pernah menginjakkan kaki di Jawa membaca tulisannya dan membentuk gambaran tentang Hindia Belanda, bukan dari laporan pejabat kolonial, tapi dari tangan seorang perempuan Jawa yang dikurung di belakang tembok.

Fakta

Artikel-artikel Raden Ajeng Kartini tentang kehidupan perempuan Jawa dimuat di De Hollandsche Lelie pada periode 1899–1903. Ia menulis dalam bahasa Belanda yang fasih, tanpa pernah belajar di sekolah Eropa, tanpa editor yang membimbingnya, dan dalam kondisi mobilitas yang sangat terbatas oleh adat pingitan, meskipun dalam beberapa kesempatan ia sempat bepergian ke kota-kota lain. Seluruh reportasenya lahir dari ruang hidup yang sempit, namun menjangkau dunia yang luas.

Lebih dari itu: tulisan-tulisannya dibaca oleh Conrad van Deventer, yang kemudian menjadi arsitek Politik Etis. Gagasan Kartini tentang hak pendidikan bagi pribumi, tentang tanggung jawab moral pemerintah kolonial, tentang potensi yang terpendam di balik tembok-tembok pingitan, semua itu menjadi amunisi intelektual dalam perdebatan di parlemen Den Haag.

Namanya disebut. Buah pikirannya dikutip. Seorang perempuan yang hidup dalam batasan adat dan ruang gerak yang sempit turut mempengaruhi wacana kebijakan kolonial di negeri yang menjajah tanah kelahirannya.Tapi tidak ada yang menyebutnya jurnalis. Tidak ada yang mengakui kontribusinya sebagai kerja jurnalistik.

Dalam sejarah pers Indonesia, nama Kartini tidak muncul di baris pertama, atau bahkan baris mana pun. Ia ditempatkan di rak emansipasi, bukan di rak jurnalisme. Seolah menulis untuk publik, membentuk opini, dan mempengaruhi kebijakan tidak cukup untuk disebut kerja pers jika dilakukan oleh perempuan, dari balik tembok, tanpa izin keluar.

“Dari Jepara, tanpa akreditasi pers, tanpa redaktur, Kartini membentuk opini publik Eropa tentang Hindia Belanda. Dan sejarah pers Indonesia tidak mencantumkan namanya.” M. Basyir Zubair

Ada ironi yang dalam di sini. Hari Pers Nasional diperingati setiap 9 Februari, merujuk pada hari berdirinya Persatuan Wartawan Indonesia. Tapi perempuan yang jauh lebih awal dari itu, yang menulis tanpa organisasi, tanpa gedung, tanpa mesin cetak, yang menggunakan satu-satunya alat yang tersedia untuknya, selembar kertas dan sebatang pena tidak pernah masuk ke dalam narasi pers nasional itu. Kartini hadir sangat awal dalam tradisi penulisan publik pribumi, bahkan sebelum profesi kewartawanan terlembaga di Hindia Belanda, namun namanya tidak masuk dalam silsilah tersebut.

Surat-surat yang Disembunyikan, Bukan Hanya Belanda yang Menyensor Kartini

Narasi yang umum beredar adalah ini: Abendanon menyunting surat-surat Kartini, membuang bagian-bagian yang terlalu berbahaya, dan menerbitkan versi yang lebih aman dalam Door Duisternis tot Licht (1911). Narasi itu benar. Tapi ia tidak lengkap, karena ia menyiratkan bahwa Belanda-lah satu-satunya penyensor. Padahal ada tangan lain yang jauh lebih dekat.

Keluarga Jawa Kartini sendiri adalah bagian dari sistem yang membungkamnya. Ayahnya, Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat, adalah seorang bupati yang beroperasi dalam dua loyalitas yang saling bertentangan: kepada tradisi feodal Jawa dan kepada pemerintah kolonial Belanda. Ia memberikan akses pendidikan awal yang luar biasa kepada Kartini, tapi ia juga orang yang menutup pintu pingitan ketika Kartini berusia dua belas tahun. Dan ketika surat-surat Kartini mulai beredar dan memancing perhatian, keluarga bukan hanya diam, mereka aktif mengelola narasi.

Cermin Dunia

Joost Coté, penerjemah surat Kartini ke bahasa Inggris, menemukan dalam arsipnya bahwa sejumlah surat Kartini yang paling sensitif tidak hanya disunting oleh Abendanon, tetapi ada indikasi bahwa sebagian tidak seluruhnya sampai atau terpublikasikan, kemungkinan karena proses seleksi dalam lingkaran terdekatnya. Mereka berhenti di tangan keluarga. Kita tidak tahu isi surat-surat yang tidak pernah dikirim itu. Kita tidak tahu berapa banyak pikiran Kartini yang mati dalam perjalanan dari kamar tidurnya ke kotak surat.

Kemudian ada sistem adat itu sendiri. Pingitan bukan hanya membatasi Kartini secara fisik, ia membatasi siapa yang bisa berbicara dengannya, tentang apa, dan kapan. Surat-surat yang masuk dan keluar melewati pengawasan yang berlapis. Dalam konteks itu, bahwa Kartini masih bisa menulis sesumbar dan seradikal yang ia tulis adalah keajaiban tersendiri. Tapi kita perlu bertanya: berapa banyak yang tidak lolos?

Dan ada satu lapisan lagi yang jarang dibicarakan: sistem penerjemahan. Ketika Armijn Pane menerjemahkan Door Duisternis tot Licht ke dalam bahasa Indonesia pada 1938 dan menerbitkannya sebagai Habis Gelap Terbitlah Terang, ia menerjemahkan dari teks yang sudah disunting Abendanon, bukan dari surat asli. Artinya pembaca Indonesia selama puluhan tahun membaca Kartini yang sudah melewati dua lapisan penyaringan: Abendanon dan Armijn Pane. Kartini yang sampai ke tangan kita adalah Kartini generasi ketiga, sudah sangat jauh dari sumbernya.

“Kita tidak sepenuhnya membaca Kartini yang asli, melainkan teks-teks yang telah melewati beberapa lapisan penyuntingan dan penerjemahan.” M Basyir Zubair

Yang paling pedih: bahkan surat-surat yang lolos pun masih belum sepenuhnya kita baca. Edisi lengkap terjemahan bahasa Inggris oleh Joost Coté, Letters from Kartini: An Indonesian Feminist 1900–1904 (1992), memuat 46 surat tambahan dari adik-adik Kartini dan sejumlah surat Kartini yang tidak ada dalam versi Abendanon. Buku itu tidak pernah diterjemahkan ke bahasa Indonesia.

Puluhan tahun setelah Kartini wafat, versi paling lengkap dari pemikirannya tersedia hanya dalam bahasa Inggris, hanya untuk mereka yang cukup terdidik dan terhubung untuk menemukannya.

Kartini dan Tasawuf, Wali yang Tidak Pernah Dipanggil Wali

Ada aspek dari Kartini yang paling sering disalahpahami, paling sering dipotong dari narasi resmi, dan paling sering membuat orang tidak nyaman: pemikiran spiritualnya tentang agama.
Dalam surat kepada E.C. Abendanon, 31 Januari 1903, Kartini menulis:

“Agama yang sesungguhnya adalah kebatinan, dan agama itu bisa dipeluk baik sebagai Nasrani, maupun Islam, dan lain-lain. Kalau orang mau juga mengajarkan agama kepada orang Jawa, ajarkanlah kepada mereka Tuhan yang satu-satunya, yaitu Bapak Maha Pengasih, Bapak semua umat, baik Kristen maupun Islam, Buddha maupun Yahudi, dan lain-lain.”
Surat Kartini kepada E.C. Abendanon, 31 Januari 1903

Kalimat itu bukan toleransi beragama dalam pengertian dangkal abad ke-21 yang hanya berarti ‘rukun antar umat beragama.’ Itu adalah pernyataan teologis yang jauh lebih mendalam: bahwa inti dari setiap agama adalah pengalaman batin tentang Yang Maha Kasih, dan bahwa semua nama yang berbeda-beda, Allah, Tuhan, Brahma, Buddha, hanyalah nama-nama berbeda untuk satu realitas yang sama.

Itu adalah tasawuf. Bukan tasawuf yang dipelajari dari buku, bukan tasawuf yang diterima dari guru tarikat, tapi tasawuf yang tumbuh dari dalam, dari pengalaman berpikir seorang perempuan yang hidup dalam keterbatasan ruang dan dipaksa menghadap dirinya sendiri.

Debat Ilmiah

Apakah Kartini seorang Sufi? Secara formal tidak, ia tidak bergabung dengan tarikat apapun, tidak memiliki guru mursyid, tidak menjalani suluk dalam pengertian teknis. Tapi jika tasawuf dipahami sebagai orientasi spiritual yang melihat Tuhan sebagai Yang Maha Kasih yang melampaui batas agama formal, yang bisa dijangkau melalui kejernihan batin bukan sekadar ritual, maka pemikiran Kartini dapat dibaca dalam kerangka sufistik, meskipun ia tidak berada dalam tradisi tarekat formal.

Dalam tradisi Jawa, ada kategori yang lebih lama dari semua kategorisasi itu: wong alus orang yang halus batinnya, yang kata-katanya mengandung kedalaman, yang cara berpikirnya melampaui yang kasar dan permukaan. Kartini adalah wong alus dalam pengertian paling penuh. Tapi karena ia perempuan, dan karena pemikirannya tentang agama dianggap terlalu longgar untuk zaman yang semakin mengeras, ia tidak pernah mendapat tempat di silsilah itu.

Para wali diakui karena karamahnya, mukjizat kecil, kesaktian, tanda-tanda dari langit. Kartini tidak punya itu, atau setidaknya tidak ada yang mencatatnya. Yang ia punya adalah sesuatu yang lebih langka: kemampuan untuk melihat menembus dinding agama formal dan menemukan di baliknya sesuatu yang jauh lebih besar. Itu bukan karamah yang membuat orang terkagum-kagum. Tapi dalam jangka panjang, itu jauh lebih berbahaya, karena ia membongkar salah satu tembok yang paling kuat yang memisahkan manusia dari manusia lainnya.

“Kartini menulis tentang Tuhan dengan cara yang hanya bisa ditulis oleh seseorang yang sudah sangat dekat dengannya bukan melalui ritual, tapi melalui penderitaan dan kejernihan batin.” M Basyir Zubair

Dan inilah yang paling tidak nyaman dari Kartini: ia tidak minta izin. Tidak kepada ulama, tidak kepada bupati, tidak kepada pemerintah kolonial. Ia mengambil hak untuk berpikir tentang Tuhan dengan caranya sendiri, dan ia menulisnya dalam surat yang beredar ke seluruh Eropa. Untuk ukuran perempuan Jawa tahun 1903, itu bukan hanya radikal. Itu berbahaya.

Epilog: Membaca Kembali Kartini

Setiap 21 April kita merayakan Kartini. Tapi Kartini yang mana?

Bukan Kartini yang mengecam monopoli candu Belanda. Bukan Kartini yang menyerang feodalisme dari dalam rumah bupatinya sendiri. Bukan Kartini yang menulis tentang Tuhan dengan cara yang melampaui batas agama formal. Bukan Kartini yang jurnalismenya membentuk kebijakan kolonial tanpa pernah meninggalkan Jepara. Bukan Kartini yang surat-suratnya disensor oleh tiga tangan berbeda sebelum sampai ke kita.Yang kita rayakan setiap 21 April adalah hasil dari proses seleksi, penyuntingan, dan penafsiran sejarah. Sebuah monumen yang berdiri di atas sosok Kartini yang nyata, namun telah dibentuk ulang hingga jauh dari keutuhan dirinya.

Mungkin inilah yang paling perlu kita renungkan: bahwa cara terbaik untuk menghormati Kartini bukan dengan memakai kebaya setahun sekali. Tapi dengan membaca surat-suratnya yang sesungguhnya termasuk yang dipotong, yang disembunyikan, yang sampai hari ini hanya tersedia dalam bahasa Inggris untuk sebagian kecil orang yang cukup beruntung untuk menemukannya.

Kartini berjuang seumur hidupnya untuk didengar. Ia menulis ribuan kata agar pikirannya menembus dinding yang mengurungnya. Dan dua belas dekade setelah ia wafat, kita masih merayakannya dengan cara yang paling ia benci: dengan memotong kata-katanya, memoles wajahnya, dan menaruhnya di balik kaca sebagai simbol yang tidak boleh terlalu disentuh, tidak boleh terlalu dibaca, tidak boleh terlalu dimengerti.

“Habis gelap, terbitlah terang tapi cahaya yang terbit itu sudah terlanjur kita redup-redupkan agar tidak menyilaukan.” M Basyir Zubair

Kartini lahir 21 April 1879. Wafat 17 September 1904. Dua puluh lima tahun, empat hari setelah melahirkan anak pertamanya. Dan dalam dua puluh lima tahun itu, ia menulis lebih banyak kebenaran tentang Hindia Belanda daripada semua laporan resmi pemerintah kolonial dalam periode yang sama. Yang lebih dibutuhkan hari ini bukan sekadar simbol perayaan, melainkan keberanian untuk membaca dan memahami pemikirannya secara utuh. ***

Sumber dan Rujukan

Kartini, R.A. Door Duisternis tot Licht: Gedachten over en voor het Javaansche Volk. Disusun oleh J.H. Abendanon. Amsterdam, 1911. [Terjemahan Indonesia: Habis Gelap Terbitlah Terang, Armijn Pane, Balai Pustaka, 1938]
Coté, Joost (penerjemah). Letters from Kartini: An Indonesian Feminist 1900–1904. Clayton: Monash Asia Institute, 1992.
Kartini, R.A. Surat-surat kepada Ny. R.M. Abendanon-Mandri dan suaminya. Terjemahan: Sulastin Sutrisno. Jakarta: Djambatan, 1979.
Nugraha, Iskandar P. The Theosophical Educational Movement in Colonial Indonesia 1900–1947. Tesis, University of New South Wales.
Nugraha, Iskandar P. 2011. Teosofi, Nasionalisme, dan Elit Modern Indonesia. Jakarta: Komunitas Bambu.
Pramoedya Ananta Toer (penyunting). Panggil Aku Kartini Saja. Jakarta: Lentera Dipantara.
Soeroto, Sitisoemandari. 1977. Kartini, Sebuah Biografi. Jakarta: Gunung Agung.
Vreede-de Stuers, Cora. 1960. The Indonesian Woman: Struggles and Achievements. The Hague: Mouton.

Catatan Metodologi: Kutipan surat Kartini dalam artikel ini bersumber dari teks asli surat yang tersedia dalam berbagai edisi terjemahan yang terdokumentasi. Klaim mengenai penyensoran oleh keluarga mengacu pada catatan metodologis Joost Coté dan memerlukan konfirmasi arsip primer lebih lanjut.

Yogyakarta, April 2026

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *