Apem Bu Wanti, Kuliner Ikonik di Pasar Ngasem - Mabur.co

Apem Bu Wanti, Kuliner Ikonik di Pasar Ngasem

Mabur.co- Yogyakarta selalu punya cara unik untuk memikat hati para pelancongnya, baik melalui keramahan penduduknya, keindahan bangunannya, maupun kelezatan kulinernya.

Salah satu titik yang paling sering dibicarakan oleh para pemburu takjil pagi dan penikmat sarapan autentik adalah Pasar Ngasem.

Terletak di Kalurahan Patehan, Kecamatan Kraton, Yogyakarta pasar ini memiliki sejarah panjang yang melekat erat dengan kehidupan sosial masyarakat Yogyakarta.

Dulu Pasar Ngasem dikenal sebagai pasar burung terbesar di kota ini sebelum akhirnya direlokasi ke PASTY, namun semangat kulinernya tidak pernah padam. Justru semakin berkembang pesat menjadi pusat jajanan tradisional yang sangat lengkap.

Menyusuri lorong-lorong Pasar Ngasem di pagi hari adalah sebuah pengalaman sensorik yang luar biasa.

Bau harum adonan apem yang dibakar, kepulan asap dari tungku kayu, hingga riuh rendah tawar-menawar dalam bahasa Jawa yang halus menciptakan simfoni khas Jogja yang menenangkan.

Kuliner di sini bukan hanya sekadar urusan perut, melainkan sebuah bentuk pelestarian warisan budaya. Banyak pedagang merupakan generasi kedua atau ketiga yang tetap konsisten menggunakan bahan-bahan alami dan cara pengolahan tradisional untuk menjaga kualitas rasa yang tidak bisa ditemukan di tempat lain.

Daya tarik utama Pasar Ngasem terletak pada variasi makanannya yang sangat beragam, mulai dari camilan ringan yang manis hingga makanan berat yang kaya rempah.

Bagi wisatawan, tempat ini adalah surga untuk mengenal “harta karun” kuliner Jawa dalam satu lokasi yang terjangkau.

Tidak seperti pusat perbelanjaan modern, Pasar Ngasem menawarkan kejujuran rasa dan interaksi sosial yang hangat.

Anda bisa duduk di kursi kayu panjang (lincak), berbincang dengan penjual, dan menikmati hidangan sembari menyaksikan kehidupan warga lokal yang memulai aktivitas mereka dengan penuh semangat.

Jajanan legendaris di Pasar Ngasem eksis sejak tahun 1970-an. Tak seperti apem tradisional lainnya, apem beras khas Pasar Ngasem bisa berbentuk seperti separuh kue dorayaki dengan rasa manis, gurih kelapa dan wangi smokey arang.

Bertahan dengan cara pembuatan tradisional, apem beras Bu Wanti dipanggang dengan tungku arang dalam cetakan.

Apem ini terbuat dari tepung beras, kelapa parut, santan, telur, dan gula pasir. Tekstur parutan kelapa di dalam kue yang gurih manis, membuat apem beras menjadi istimewa.

Doni, generasi kedua apem beras Bu Wanti, mengatakan, satu buah kue apem ia jual seharga Rp4.000. Sementara kue mangkok dan cucur dibanderol Rp3.000 per buah.

Harga tersebut dinilai masih ramah di kantong, baik bagi wisatawan maupun masyarakat lokal.

Menurut Doni, harga yang terjangkau menjadi salah satu alasan dagangannya diminati pembeli dari berbagai kalangan.

“Murah meriah, jadi pembeli bisa beli banyak sekalian,” ujar Doni saat ditemui mabur.co, Sabtu (18/4/2026).

Doni mengatakan, dengan harga yang relatif murah, pembeli tidak ragu untuk mencoba berbagai jenis jajanan sekaligus. Selain harga, variasi jajanan yang ditawarkan juga menjadi daya tarik tersendiri.

“Seperti kue mangkok yang memiliki beragam varian rasa, seperti original, gula aren, pandan, ubi ungu, dan kelapa. Sementara kue apem hanya satu rasa original manis gurih dan cucur yang memiliki cita rasa khas gula aren,” ujarnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *