Tahun ke-8 sebagai Penyintas Stroke - Mabur.co

Tahun ke-8 sebagai Penyintas Stroke

Hari ini, dini hari 2018, di hotel Z, London, saya diserang stroke.

Baru saja menginap. Saya tersadar akan menanggung sakit serius, tentu saya pasrah.

Satu yang membuat saya nelangsa sedang di negeri orang. Akses menuju rumah sakit akan menjadi masalah teknis.

Saya, baru keesokan harinya terkapar satu malam di College Hospital.

Itu pun setelah pulang dari Stadion Wembley nonton pertandingan Tottenham Hotspurs.

Diantar kawan saya, Meirizal Zulkarnain. Kami bertiga ke London bersama sahabat Eko Taufik Wibowo.

Sepulang dari London, dokter (profesor) Satya Nagara yang menangani.

Saya tetap tenang ketika dia memberi tahu, “Sumbatan di batang otak.”

Tenang, tapi bertahun-tahun lamanya saya baru berani cerita kepada yang bertanya sumbatannya di mana?

Sebagai penyintas stroke, harapan pulih, tidak pernah pupus sampai tahun ke-8 hari ini.

Sekalipun jalan pulih seperti naik, turun, datar.

Di mata semua kawan, penyemangat saya, mereka bilang Afnan orangnya nekat, tidak pernah patah.

Nyetir mobil masih ngebut, Jogja-Jakarta dan sebaliknya.

Paling jauh, sekarang jarak sebatas ke Solo ke tempat kakak ipar atau Semarang ke rumah ibu mertua.

Waktu pameran di Tan Artspace, Semarang Februari lalu, saya membawa semua lukisan, nyetir sendiri.

Kalau bekerja saya seriusan orangnya dan betah, serta cepat.

2019 setelah tidak lagi di Kementerian Pertanian, selama 5 tahun, saya menulis puisi secara intens.

Puisi, dunia yang sempat tersendat ketika mahasiswa saya jalani lagi.

2025 akhir, malam tahun baru saya melukis.

Saya putuskan untuk intens di dunia yang pernah saya asah, juga tersendat-sendat, sempat beberapa kali jadi kurator pameran.

Dulu saya aktif menulis artikel opini, dunia yang tidak mungkin saya tekuni kembali.

Lebih berkelas menulis puisi, tentu. Punya komunitas pula yang secara berkala ketemu, senang tak jumpa-jumpa.

Dunia tulis menulis tidak seberkelas dulu, kini tenggelam diserobot buzzer.

Penulis mati, yang hidup para pemuja kuasa. Dunia pengacara, sepertinya harus kandas juga.

Melukis, lagi-lagi saya punya kawan-kawan pemberi semangat, seperti stroke, tentu tidak ada yang mudah.

Tapi bagi saya lebih susah bertahan sebagai penyintas, tanpa melakukan apa-apa.

Untung saya tidak pernah masuk kategori yang menerima SK sebagai orang pensiunan.

Yuk, tetap punya tantangan. ***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *