Sisa Produksi Dapur SPPG Bisa Disulap Bernilai Ekonomi

3 Min Read
Penanggung Jawab SPPG Palbapang 2, Dr. (Can) Wahyu Indro Widodo, SST., M.Par., menunjukkan tanaman organik yang dimanfaatkan untuk menu MBG. (Foto: Setiaky A Kusuma)

Mabur.co- Tak sekadar menjadi dapur umum penyedia makanan bergizi, Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Palbapang 2 di Jalan Manunggal, Taskombang, Palbapang, Kapanewon Bantul, melaksanakan program inovatif berbasis lingkungan hidup di tengah hiruk-pikuk pemenuhan gizi bagi anak-anak SD, SMP, dan SMA/SMK.

Penanggung Jawab SPPG Palbapang 2, Dr. (Can) Wahyu Indro Widodo, SST., M.Par., mengatakan, dalam membuat dapur umum penyedia makanan bergizi, Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), pemanfaatan lahan melalui program Kabeh Mubeng lan Migunani.  

Dari Ompreng Kembali ke Ompreng

Filosofi program ini sederhana namun mendalam yakni Dari Ompreng, Kembali ke Ompreng. Sebuah siklus yang memastikan setiap sumber daya dimanfaatkan kembali sehingga menciptakan sistem tanpa limbah.

Implementasi yang dilakukan melalui dua siklus utama yang mengintegrasikan pengelolaan sisa produksi dapur dengan sistem budidaya mandiri.

Pada siklus pertama, sisa makanan dimanfaatkan sebagai bagian dari proses budidaya ikan lele yang menghasilkan nilai ekonomi dan manfaat lingkungan.

Setiap sisa makanan dari ompreng, wadah makan stainless steel yang digunakan untuk menyajikan makanan program MBG, yang tidak habis dikonsumsi tidak berakhir menjadi limbah.

Sisa makanan tersebut diolah secara higienis menjadi pakan lele berkualitas. Ketika panen tiba, lele hasil budidaya tersebut kembali masuk ke rantai pasok dapur SPPG untuk disajikan sebagai menu protein hewani bagi anak-anak.

Sampah Organik dan Budi Daya Sayuran

Siklus kedua bergerak melalui jalur pengelolaan sampah organik dan budidaya sayuran. Sampah organik yang berasal dari proses pra-produksi dapur, seperti kulit sayuran dan sisa potongan bahan pangan, diolah melalui instalasi pengomposan hingga menjadi pupuk alami yang menyuburkan berbagai tanaman sayuran, seperti tomat, terong, selada air, dan selada romain (romaine lettuce) yang dibudidayakan di green house mandiri, dibangun berdampingan dengan dapur.

“Saat masa panen tiba, sayuran segar tersebut kembali diolah menjadi menu bergizi dan disajikan dalam ompreng, menutup siklus kebermanfaatan yang menjadi roh dari konsep Kabeh Mubeng lan Migunani,” ujarnya, saat ditemui, Senin (15/6/2026).

Wahyu menuturkan, limbah non-organik seperti botol plastik, cup minuman, dan kaleng dipilah secara ketat sebelum dikirim ke Dinas Lingkungan Hidup (DLH) untuk masuk ke dalam rantai pengelolaan dan daur ulang.

“Penerapan ekonomi sirkular ini mampu mengoptimalkan pemanfaatan setiap sumber daya, mengurangi potensi pemborosan, dan menciptakan nilai tambah dari setiap siklus produksi, tanpa mengurangi nilai bisnis dan kualitas,” katanya.

Wahyu mengatakan, dalam menghadapi anak-anak yang belum terbiasa mengonsumsi sayuran atau lebih menyukai makanan dengan cita rasa yang kuat, seperti pecel lele kremes, memilih melakukan pendekatan secara learning by doing (belajar sambil melakukan).

Prinsip tersebut diterapkan melalui proses adaptasi menu secara berkelanjutan, termasuk diskusi antara tim dapur, chef, dan melakukan trial dan research and development (RnD) untuk merancang sajian yang tidak hanya bergizi, tetapi juga sesuai dengan preferensi anak-anak.

“Edukasi gizi tidak bisa sekadar teori. Siswa dan orang tua harus mempraktikkannya langsung di rumah dan di sekolah. Belajar menyukai sayur adalah proses praktik yang konsisten,” katanya.

TAGGED:
Share This Article
Teruslah Berbuat baik kepada siapapun karena hal baik itu, akan kembali padamu dengan berbagai cara
Avatar photo
Pemimpin redaksi mabur.co
Leave a Comment