Selera Pasar Furnitur Berubah, Kerajinan Bambu Tak Lagi Pilihan Utama

3 Min Read
Open-air furniture workshop with many wooden bamboo chairs under a corrugated roof, power lines overhead.
Di Cebongan, Sleman, para perajin mengubah strategi bertahan hidup dengan menggeser produksi dari mebel besar ke ornamen dan peralatan rumah tangga berbahan bambu. (Foto: Setiaky A Kusuma)

Mabur.co- Perubahan selera pasar furnitur membuat kerajinan bambu tak lagi menjadi pilihan utama masyarakat.

Di Cebongan, Sleman, para perajin mengubah strategi bertahan hidup dengan menggeser produksi dari mebel besar ke ornamen dan peralatan rumah tangga berbahan bambu.

Salah satu pemilik kerajinan bambu cebongan. Poniyem, menuturkan, menjual lincak, set kursi, dipan.

“Setiap anyaman dan sambungan bambu memperlihatkan kerumitan proses serta ketelitian yang membentuk karakter artistik produk,” tuturnya, Minggu (2/8/2026).

Perubahan selera pasar furnitur membuat kerajinan bambu tak lagi menjadi pilihan utama masyarakat. (Foto: Setiaky A Kusuma)

Poniyem, menuturkan, keterampilan membuat kerajinan bambu tidak secara instan. Sejak kecil, keterampilan ini diwarisi secara turun-temurun dan terus diasah seiring perkembangan zaman.

“Dari kecil dari turun-temurun. Orang tua sudah perajin bambu. Cuma makin lama perkembangan zaman terus berubah. Syukurlah tetap dapat bimbingan dari kantor perindustrian,” ujarnya.

Hanya Dipajang di Rumah

Poniyem bercerita, pada masa awal, hasil kerajinan bambu hanya dipajang di rumah karena belum ada lokasi strategis untuk berjualan.

Baru pada awal tahun 2000-an, mulai menjajakan produk di pinggir Jalan Cebongan–Sidomoyo sebelum akhirnya menempati kios di pasar pusat kerajinan bambu Cebongan.

“Kalau di rumah itu kan cuma disetor. Umpamanya harga Rp200.000. Ya sudah Rp200.000 terus. Berapa tahun belum pernah ada peningkatan,” ujarnya.

Awalnya, pesanan didominasi lincak. Namun seiring waktu, permintaan semakin beragam. Pecinta kerajinan bambu kerap datang membawa gambar atau sampel desain dan meminta dibuatkan produk serupa.

Proses ini membuat perajin semakin terampil menghasilkan bentuk-bentuk baru.

“Ya, orang request, pesan-pesan itu. Awalnya bawa gambar bisa bikin seperti ini tidak? Terus bisa,” ujarnya.

Poniyem menilai kualitas kerajinan bambu Cebongan sejatinya mampu bersaing, bahkan lebih baik dibanding produk pasar daring.

“Yang online itu ada produksi dari lain sini. Kualitasnya saya jamin lebih bagus sini. Itu kan cuma asal-asalan mirip-mirip saja. Jadi harganya lebih murah,” tuturnya.

Kejayaan Kerajinan Bambu Sendari

Poniyem masih mengingat masa kejayaan kerajinan bambu Sendari. Pada awal 2000-an, produk Cebongan diminati hingga pasar internasional.

“Kalau dulu itu mungkin perajinnya belum banyak. Tapi sekarang kan banyak. Jadi orang asing itu dulu banyak yang belanja di sini, pesenan-pesenan itu besar. Kalau dulu paling kontaineranlah. Sekarang enggak ada sama sekali,” ujarnya.

Seiring perubahan zaman, tren kerajinan bambu pun bergeser. Kini, ornamen dekoratif dan peralatan rumah tangga berbahan bambu lebih diminati.

“Lincak dan set kursi masih memiliki pasar, tetapi tidak lagi menjadi sandaran utama,” katanya.

Menurut Poniyem, penjualan kini tak menentu. Ada hari-hari sepi, ada pula waktu tiba-tiba ramai. Setidaknya, dalam sepekan masih ada produk yang terjual. Mayoritas pembeli berasal dari wilayah DIY, berbeda dengan masa lalu ketika pembeli dari Jepang, Prancis, hingga Australia mendominasi.

“Dulu kan dari Jepang, dari Perancis, Australia. Kalau pesan banyak. Sekali pesan bisa dikerjakan tiga bulan, itu satu negara. Kebanyakan itu kursi yang bahannya dari bambu petung. Bentuknya kayak sofa-sofa itu,” ujarnya.

Share This Article
Teruslah Berbuat baik kepada siapapun karena hal baik itu, akan kembali padamu dengan berbagai cara
Avatar photo
Pemimpin redaksi mabur.co
Tidak ada komentar