Nilai Tukar Rupiah Tak Jadi Pembicaraan Publik, Kondisi yang Membahayakan

3 Min Read
Close-up of hands counting US $100 bills and Indonesian 100,000 rupiah notes.
Karyawan menghitung uang pecahan dolar Amerika Serikat (AS) di gerai penukaran mata uang asing. (Ilustrasi CNBC)

Mabur.co-  Nilai tukar rupiah pada Selasa pagi bergerak datar 0 poin atau 0,00 persen menjadi Rp17.995 per dolar AS dibandingkan penutupan sebelumnya di level Rp17.995 per dolar AS.

Ekonom UMY, Ahmad Ma’ruf, SE. M.Si, menuturkan, terkait nilai rupiah yang melemah dan tidak menjadi pembicaraan publik menurutnya ini kondisi yang justru membahayakan.

Rupiah Tersengat Kanker

“Ibarat dalam tubuh kena penyakit kanker tapi tidak dirasakan gitu. Tahu-tahu bisa merontokkan. Sama dengan nilai tukar rupiah. Nilai tukar rupiah kita ini melemah sebenarnya bukan 2 bulan terakhir saja. Sebenarnya kita sudah melemah pada posisi yang sudah lama. Ketika kita tidak bisa kembali ke angka 12.000 saya kira itu periode di mana kita kena kanker ya ekonomi kita,” katanya, Selasa (7/7/2026).

Ahmad mengatakan, apakah periode dulu saat mendongkrak neraca perdagangan ada korelasinya. Jika dilihat dalam bulan ini neraca perdagangan minus. Padahal nilai rupiah melemah.

“Kalau dalam konsep transaksi internasional itu kan kalau rupiah kita di mata dolar melemah, maka relatif nilai ekspor kita harusnya dipandang murah dalam kacamata perdagangan internasional. Tapi faktanya kita minus,” ucapnya.

Ahmad mengatakan lagi, salah satu penyebabnya karena ada hold ekspor dari batubara kemudian juga produk perkebunan seperti sawit. Artinya rupiah sebenarnya kondisinya memburuk. Beberapa waktu terakhir muncul namanya inflasi.  

“Inflasi tidak hanya sekadar dipengaruhi oleh kurs, tapi juga banyak faktor. Namun demikian inflasi tetap sangat terkait dengan adanya nilai tukar ini,” ucapnya.

Barang Konsumsi Banyak Impor

Ahmad menuturkan, barang-barang konsumsi banyak impor. Fakta di lapangan, cermati produk-produk di marketplace. Mayoritas impor dan menjadi kebutuhan masyarakat Indonesia secara luas.

Sisi lain dengan nilai tukar rupiah yang melemah maka mau tidak mau harga harus disesuaikan. Siapa yang kena beban? Yang kena beban dari kanker ekonomi masyarakat secara luas.

“Kita bisa ngerasain sekali. Betapa Indonesia sekarang dalam bulan terakhir saja, inflasi kita di atas kondisi yang tahun sebelumnya, kita memburuk.

Oleh karena itu kita jangan mengabaikan rupiah kita yang melemah, kemudian inflasi. Terlebih ada sinyal tentang neraca perdagangan yang tahun ini atau bulan-bulan ini negatif.

Ini tidak boleh diabaikan dalam konteks pengelolaan ekonomi makro. Karena sekali lagi itu juga menunjukkan kerentanan struktur ekonomi kita,” katanya. ***

Share This Article
Teruslah Berbuat baik kepada siapapun karena hal baik itu, akan kembali padamu dengan berbagai cara
Avatar photo
Pemimpin redaksi mabur.co
Tidak ada komentar