Mabur.co – Para akademisi dari berbagai kampus baru saja membuat “parodi politik” berupa perkumpulan gerakan yang disebut sebagai “Kabinet Bayangan”, yang terdiri dari 15 Menteri di bidangnya masing-masing, mirip seperti Menteri sesungguhnya yang ada di Kabinet Merah Putih bentukan Presiden Prabowo Subianto.
Kabinet ini bertugas untuk mengawasi setiap kebijakan yang dikeluarkan oleh kabinet yang sesungguhnya, sekaligus memberikan kritik dan masukan yang sesuai dengan kajian akademis, guna merumuskan bagaimana setiap kebijakan tersebut mampu membawa dampak yang signifikan bagi kemakmuran rakyat Indonesia secara keseluruhan.
Kehadiran “Kabinet Bayangan” juga sekaligus menjadi semacam oposisi bagi pemerintahan saat ini, yang cenderung tidak memiliki oposisi sama sekali, karena sudah banyak dikuasai oleh koalisi yang hampir semuanya mendukung setiap kebijakan yang dikeluarkan oleh pemerintah, serta Presiden Prabowo Subianto.
Namun anehnya, beberapa ASN (Aparatur Sipil Negara) maupun jajaran dari partai politik tertentu yang berkoalisi dengan pemerintah, justru menyatakan dukungannya terhadap pembentukan Kabinet Bayangan ini.
Padahal, mereka adalah orang-orang yang sejatinya sudah berada di dalam wilayah kekuasaan, dan bisa langsung memengaruhi segalanya dari dalam (lingkungan Istana dan semacamnya).
“Beberapa orang yang kami kenal baik di Kementerian, partai politik, dan sebagainya, justru mendukung kami (untuk membuat Kabinet Bayangan), dan bilang ‘gas terus’ seperti itu. Jadi ini menurut saya malah dukungan yang aneh. Karena disampaikan oleh orang dalam partai politik atau pemerintahan. Padahal sebetulnya, mereka sendiri juga bisa mengubah dari dalam. Tapi kemudian kenapa malah berharap kepada kami yang di luar ini,” ungkap “Menteri Ekonomi” di “Kabinet Bayangan”, yang juga salah satu peneliti di lembaga CELIOS, Media Wahyudi Askar, seperti dilansir dari kanal YouTube Tempodotco, Minggu (2/8/2026).
“Orang Dalam” Tidak Bisa Berbuat Banyak di Lingkungannya Sendiri
Dukungan yang terasa “aneh” itu membuat media mulai menarik hipotesa baru, bahwa orang-orang “di dalam” sendiri juga sebetulnya memiliki keresahan yang sama dengan rakyat yang berada di luar pemerintahan.
Karena nyatanya mereka sendiri juga tidak mempunyai daya untuk mempengaruhi setiap kebijakan yang dibuat, melainkan hanya bisa mengangguk alias “yes man” terhadap setiap keputusan yang dikeluarkan oleh atasan, dan seterusnya.
“Artinya di dalam (pemerintahan) pun, bottleneck-nya (kinerja sistem keseluruhan menjadi terhambat karena satu bagian tertentu yang cukup lemah) sudah terlalu kuat, tidak ada jalur komunikasi antara staf, kemudian ke middle manajer, lalu, ke sampai ke Dirjen, dan lain-lain.”
“Kita juga khawatir bahwa kita nggak akan sanggup memecahkan kebuntuan yang ada di dalam tersebut. Tapi menurut keyakinan saya, kalau kita sudah sampaikan semua ini ke publik, saya kira mereka (ASN di pemerintahan pusat dan jajaran partai politik) pasti akan berani (untuk menyampaikan sesuatu yang bertentangan dengan atasannya sendiri),” tambah Media.
Media menyebut, beberapa ASN dan jajaran di parpol tersebut (yang berkoalisi dengan pemerintah) justru merasa terkejut, ketika masyarakat sipil dari kalangan akademisi justru memiliki ide brilian untuk membuat kabinet sendiri, yang bertugas “membayangi” kabinet sesungguhnya yang saat ini sedang berkuasa, dan sebagainya. (*)
