30 Tahun Berlalu Kasus Pembunuhan Wartawan Udin, Siapakah Dalangnya?

5 Min Read
Speaker standing at a podium on a stage in a large conference hall, with seated panelists and a large banner that reads 'Festival Udin' behind them
Mantan Direktur LBH Yogyakarta, Budi Santoso (berdiri memegang mikropon), Ketua Tim Kijang Putih investigasi kasus penganiyaan Udin, Heru Prasetya (dua dari kiri), di sela-sela screening film dan diskusi 'The Year of Blur', Kamis (13/8/2026), di Concert Hall ISI Yogyakarta. (Foto: Setiaky A Kusuma)

Mabur.co –  Tahun ini genap 30 tahun kasus pembunuhan wartawan Fuad Muhammad Syafruddin, atau Udin, menggantung tanpa titik terang.

Udin meninggal pada 16 Agustus 1996 pukul 16.58 WIB di RS Bethesda, tiga hari usai dianiaya berat di rumahnya di Dusun Gelangan, Samalo, Jalan Parangtritis KM 13, Bantul, Yogyakarta.

Kasus ini sudah melintasi 7 Presiden RI, 13 Kepala Kepolisian Republik Indonesia (Kapolri), 2 Gubernur DIY, 24 Kepala Kepolisian Daerah (Kapolda) DIY, dan 8 Bupati Bantul. Tak satu pun dari mereka menuntaskan siapa dalang di balik pembunuhannya. Yang jelas, Udin dibunuh karena berita-beritanya.

Indoor art installation with large colorful banners depicting historical scenes and people; visitors observe the displays in a gallery setting.
Pameran lukisan di Festival Udin yang diselenggarakan di Concert Hall ISI Yogyakarta. (Foto: Setiaky A Kusuma)

Sebelum diserang, Udin menulis berita-berita yang menyentil langsung kekuasaan Orde Baru di Bantul. Salah satunya soal rencana Bupati Bantul saat itu, Kolonel Art. (Purn.) Sri Roso Sudarmo, menyetor Rp1 miliar ke Yayasan Dharmais milik Soeharto demi memuluskan pencalonan periode kedua.

Nilai itu, pada 1996, setara ratusan ribu liter bensin, karena harga bensin kala itu masih Rp2.000 per liter. Udin juga membongkar pungutan liar dana Instruksi Presiden (Inpres) Desa Tertinggal di Imogiri, serta kerusakan lingkungan proyek wisata Parangtritis.

Tim Kijang Putih

Ketua Tim Kijang Putih investigasi kasus  penganiyaan Udin, Heru Prasetya menuturkan, upaya untuk mengungkap dalang pembunuhan Udin dilakukan oleh sejumlah pihak.

Bahkan dibentuk Tim Kijang Putih oleh wartawan untuk mengungkap kasus tersebut. Tak ketinggalan, PWI DIY juga membentuk Tim Pencari Fakta untuk mengungkap kasus tersebut.

Hasil investigasi yang dilakukan oleh Tim Kijang Putih dan PWI DIY mengarah pada kesimpulan bahwa wartawan Udin dibunuh berkaitan dengan berita-berita yang ditulisnya.

“Data hasil investigasi tersebut bahkan sempat diserahkan kepada kepolisian. Kepolisian saat itu menetapkan sopir mikrolet Dwi Sumaji alias Iwik sebagai tersangka dengan motif perselingkuhan.  Namun dalam perjalanan, majelis hakim PN Bantul membebaskan Iwik pada 1997,” katanya di sela-sela screening film dan diskusi, “The Year of Blur”, Kamis (13/8/2026), di Concert Hall ISI Yogyakarta.

Heru mengatakan, dalam persidangan, Iwik saat itu mengaku diculik, disekap.

“Dipaksa mengakui pembunuhan Udin oleh seseorang bernama ‘Frankie’. Sosok tersebut disebut Iwik merupakan Edy Wuryanto, yang ketika itu memimpin penyidikan kasus Udin. Sejumlah kejanggalan dalam proses penyidikan juga kembali disoroti menjelang peringatan 30 tahun kasus tersebut,” katanya.

Heru menuturkan, aneh juga jika garis polisi baru dipasang 13 hari setelah kejadian. Blocknote milik Udin juga disita dan tidak pernah dikembalikan. Bahkan, sampel darah Udin disebut pernah dilarung ke Pantai Parangtritis dengan alasan mencari petunjuk gaib.

Sampai Meninggal Ayah Udin Tak Tahu Pembunuh Anaknya

“Ayah Udin, Wagiman Jenggot, saat meninggal dunia tak pernah mengetahui siapa pembunuh anaknya,” ucapnya.

Heru Prasetya mengenal Udin secara dekat sebagai rekan kerja di Harian Bernas. Udin merupakan sosok wartawan yang berani menulis isu-isu sensitif, terutama ketika pers masih berada di bawah tekanan rezim Orde Baru.

“Kalau kita mau ikut kehendak rezim, sebenarnya beritanya ya lurus saja. Tapi kalau misalnya kita tidak ikut kehendak rezim, beritanya bisa bebas sebenarnya,” katanya.

Heru mengenang Udin sebagai sosok yang secara fisik terlihat keras, tetapi justru memiliki karakter lembut. Udin bertubuh kekar, tinggi, dan besar sehingga sekilas lebih menyerupai preman daripada wartawan.

“Udin itu lembut, saya sering ke rumah dia,” ujarnya.

Mantan Direktur LBH Yogyakarta, Budi Santoso, mengatakan, Udin hampir setiap hari datang ke kantor LBH Yogyakarta untuk berkonsultasi, terutama mengenai aspek hukum dari kasus-kasus yang ia temui dalam pekerjaan jurnalistik.

“Udin itu udah hampir tiap hari ke kantor. Kalau enggak, ya dia telepon. Telepon saya itu biasanya dia konsultasi. Mas, ini ada kasus seperti ini. Kalau saya tulis secara hukum gimana,” ujarnya.

Budi mengatakan, dua hari sebelum penganiayaan, Udin sempat datang ke kantor LBH Yogyakarta. Saat itu, ia berkonsultasi setelah mendapat panggilan dari sebuah instansi secara lisan.

“Saya menyarankan Udin mengikuti rekomendasi organisasi profesinya karena pemanggilan tersebut dinilai tidak dilakukan melalui prosedur resmi,” katanya.

Budi menilai, kematian Udin terjadi dalam periode penting menjelang runtuhnya Orde Baru. Kasus Udin memang bukan satu-satunya faktor, tetapi menjadi bagian dari berbagai persoalan yang  memperlihatkan semakin kuatnya tekanan terhadap rezim saat itu.

“Kasus Udin ini juga mempercepat pembusukan Orde Baru,” katanya. ***

Share This Article
Teruslah Berbuat baik kepada siapapun karena hal baik itu, akan kembali padamu dengan berbagai cara
Avatar photo
Pemimpin redaksi mabur.co
Tidak ada komentar