Mabur.co – Menteri Kebudayaan RI, Fadli Zon, membuka pameran fotografi sejarah bertajuk “My Wish, Our Wish: Road to Freedom” pada 12 Agustus 2026 di ANTARA Heritage Center, Pasar Baru, Jakarta.
Dalam rilis yang diterima mabur.co, Kamis (13/8/2026) siang, pameran yang diselenggarakan oleh Korean Cultural Center Indonesia (KCCI) bekerja sama dengan Lembaga Kantor Berita Nasional (LKBN) ANTARA ini menjadi ruang untuk menelusuri kembali perjalanan sejarah, perjuangan, serta harapan menuju kebebasan melalui karya-karya fotografi.
Peringati 150 Tahun Kelahiran Kim Koo
Pameran tersebut digelar dalam rangka memperingati 150 tahun kelahiran Kim Koo, tokoh penting dalam sejarah perjuangan kemerdekaan Korea, yang kiprahnya turut menjadi bagian dari warisan dokumenter yang diakui dalam program Memory of the World UNESCO.
Melalui dokumentasi fotografi dan arsip sejarah, masyarakat diajak melihat kembali berbagai peristiwa yang merekam semangat perjuangan dan cita-cita kebebasan.
Menteri Kebudayaan, Fadli Zon, mengapresiasi penyelenggaraan pameran yang mempertemukan sejarah, fotografi, dan diplomasi kebudayaan.
Menurut Menbud, pameran bersama ini menunjukkan pentingnya fotografi dan arsip. Tema yang diangkat pun relevan dalam suasana menyambut Hari Kemerdekaan Republik Indonesia.
Pameran ini menampilkan impian, perjuangan, dan semangat kemerdekaan tokoh Korea Selatan Kim Koo. Turut dipamerkan berbagai arsip dan dokumentasi Proklamasi Kemerdekaan Indonesia.
“Setiap bangsa tentu ingin bangsanya merdeka. Kim Koo seorang tokoh kemerdekaan dari Korea Selatan. Bagi kita, ada Bung Karno dan Bung Hatta, proklamator yang memproklamasikan kemerdekaan Indonesia tahun 1945. Kami mendukung kegiatan yang menggunakan arsip sejarah, termasuk foto-foto dan dokumen, manuskrip, bagian dari upaya terus mengingat masa lalu sebagai bagian memahami hari ini. Jika tidak ada berita dan penyebaran informasi, tidak ada bukti proklamasi,” tutur Menbud Fadli Zon.
Sejalan dengan hal tersebut, Wakil Duta Besar Republik Korea untuk Indonesia, Chung HaeKwan, menilai pemilihan Gedung ANTARA sebagai lokasi pameran memiliki makna istimewa.
Menurutnya, gedung tersebut tidak hanya menjadi bagian dari sejarah perjuangan dan kemerdekaan Indonesia, tetapi juga menjadi ruang yang mempertemukan perjalanan sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia dan Korea.
Figur Simbolis Sejarah Kemerdekaan Korea
“Kim Koo merupakan figur yang sangat simbolis dalam sejarah pergerakan kemerdekaan Korea. Meskipun Indonesia dan Korea memiliki tradisi serta warisan budaya yang berbeda, kedua bangsa berbagi satu kesamaan warisan sejarah yang sangat penting, yakni pergerakan dan proklamasi kemerdekaan. Pemilihan lokasi pameran di Gedung ANTARA yang merupakan salah satu situs warisan sejarah proklamasi kemerdekaan Indonesia merupakan suatu hal yang sangat bermakna bagi Korea dan Indonesia untuk bersama-sama menelusuri dan mengangkat kembali perjalanan kedua negara dalam memperjuangkan kebebasan dan kemerdekaan. Selain itu, saya berharap pameran ini dapat menjadi kesempatan bagi generasi muda kita untuk belajar dan meneruskan semangat para pendahulu,” ungkap Chung HaeKwan.
Menanggapi hal ini, Menteri Kebudayaan mendorong Gedung ANTARA Heritage Culture menjadi cagar budaya nasional agar juga lebih mudah untuk menjamin pemeliharaan berkelanjutan, dan juga merupakan aset nasional yang tak terpisahkan dari perjuangan bangsa terutama dalam menyiarkan berita-berita proklamasi ketika itu.
Hadir dalam acara ini, antara lain Wakil Duta Besar Republik Korea untuk Indonesia, Chung Hae-kwan; Direktur Korean Cultural Center Indonesia (KCCI), Lee Sang-Jun; Direktur Utama Kantor Berita ANTARA, Benny Siga Butarbutar; Direktur Pemberitaan Kantor Berita ANTARA, Virgandhi Prayudantoro; Direktur Komersial, Pengembangan Bisnis dan Teknologi Informasi, Rachmat Hidayat; dan Direktur Keuangan dan Manajemen Risiko, Aria Bimo Pramono.
Turut hadir mendampingi Menteri Kebudayaan, di antaranya Staf Khusus Menteri Bidang Media dan Komunikasi Publik, Asrian Mirza; Kepala Biro Hubungan Masyarakat dan Informasi Publik, Ridwan; Sekretaris Direktorat Jenderal Pengembangan, Pemanfaatan, dan Pembinaan Kebudayaan, Judi Wahjudin; serta Kepala Pusat Data dan Teknologi Informasi, Andi Syamsu Rijal. ***
