Mabur.co – Presiden Republik Indonesia ketujuh periode 2014-2024, Joko Widodo (Jokowi), turut mengingatkan para pemimpin bangsa yang berada di puncak kekuasaan saat ini, agar tidak menggunakan power atau kekuasaannya secara sewenang-wenang untuk menjatuhkan orang lain, termasuk kepada rakyatnya sendiri, atau yang disebut dengan lamun siro sekti ojo mateni dalam istilah Jawa.
Menurut Jokowi, kekuasaan seorang pemimpin hanyalah sementara, sehingga setiap tindakan dan perilaku haruslah benar-benar mencerminkan sikap pemimpin yang baik dan amanah, dan tidak digunakan untuk hal-hal yang tidak semestinya.
“Meskipun kamu ‘sakti’ (mempunyai kekuasaan), jangan suka menjatuhkan atau membunuh. Jangan sampai mentang-mentang kita punya kekuasaan yang besar, kemudian kekuasaan itu dipakai untuk menjatuhkan orang lain. Itu hal yang sama sekali tidak baik,” ujar Jokowi, saat memberikan sambutan dalam peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW, sekaligus Haul ke-8 Al-Maghfurlah KH Musyafa Ali, di Pondok Pesantren Al-Falah, Kebumen, Jawa Tengah, seperti dilansir dari laman Tribunnews, Minggu (30/8/2026).
Tidak Merasa Lebih Pintar dari Orang Lain
Selain itu, Jokowi juga menekankan pentingnya menerapkan prinsip lamun siro pinter ojo minteri, yakni tidak perlu merasa lebih pintar dari orang lain.
Karena setiap orang pasti memiliki kepintaran masing-masing di bidang yang berbeda-beda, sehingga tidak perlu adanya semacam persaingan untuk merasa adu pintar, dan lain sebagainya.
“Sekarang ini, yang belum pintar aja sudah rumongso pinter-pinter udah banyak. Kalaupun memang pinter ya nggak usah diketok-ketokke, ngoten. Nek pinter, meneng, kan malah medeni to. Nggih mboten? Pinter aja durung, wis ngendikane kayak gitu, kayak pintere sak dunyo dipek dewe, ngoten. Kadang-kadang saya kalau pas nonton TV itu kadang mikir ‘kok seperti itu’. Jadi heran saya lihatnya,” lanjut Jokowi.
Bagi mantan Walikota Solo dan Gubernur DKI Jakarta ini, setiap pemimpin di negeri ini harus memiliki adat ketimuran, sopan santun, tata krama, dan lain sebagainya.
Apalagi ketika sosoknya sering malang-melintang di berbagai media massa maupun media sosial, sehingga setiap tindak-tanduknya akan selalu menjadi perhatian publik, dan seterusnya. (*)
