Mabur.co – Menteri Kebudayaan RI, Fadli Zon, mengajak para penerima beasiswa Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) Angkatan 280 “Amerta Karsa” untuk tidak hanya mengejar keunggulan akademik, tetapi juga membawa misi kebudayaan Indonesia ketika menempuh pendidikan di dalam maupun luar negeri.
Pesan tersebut disampaikan Menbud saat menjadi narasumber dalam Program Persiapan Keberangkatan (PK) LPDP Angkatan 280 di Sekolah Bahasa Lemdiklat Polri, Jakarta Timur.

Dalam rilis yang diterima mabur.co, Jumat (14/8/2026) dijelaskan, kegiatan yang berlangsung pada 10-15 Agustus 2026 tersebut diikuti 230 penerima beasiswa LPDP jenjang Magister (S2) dan Doktor (S3), dengan 130 peserta melanjutkan studi di 16 negara dan 100 peserta menempuh pendidikan di dalam negeri.
Mengusung nama angkatan “Amerta Karsa” dan tema: “Refleksi Merah Putih: Aku Pergi Untuk Kembali,” PK LPDP 280 membekali para awardee dengan wawasan kebangsaan, pengembangan potensi diri, rencana studi, peta masa depan, serta rencana kontribusi bagi Indonesia.
Menbud menekankan bahwa kesempatan belajar di berbagai perguruan tinggi terbaik dunia harus diiringi tanggung jawab untuk kembali memberikan kontribusi bagi bangsa.
Strategis Kenalkan Kekayaan Budaya Indonesia
Menurutnya, para awardee LPDP memiliki posisi strategis untuk memperkenalkan kekayaan budaya Indonesia kepada masyarakat internasional.
“Kita boleh belajar ke mana saja, berpendidikan setinggi-tingginya, menjelajah dunia mana pun, di universitas terbaik mana pun, dan bekerja sama dengan siapa pun. Tetapi jangan pernah melupakan bahwa kita punya tanggung jawab kepada bangsa dan negara kita,” ujar Menbud Fadli.
Menbud menjelaskan, kebudayaan merupakan amanat konstitusi sebagaimana tertuang dalam Pasal 32 ayat (1) UUD 1945 dan telah dielaborasi melalui Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan.
Menbud mengingatkan bahwa kebudayaan tidak semata-mata berkaitan dengan seni dan musik, tetapi mencakup 10 objek pemajuan kebudayaan, termasuk bahasa, tradisi lisan, manuskrip, ritus, adat istiadat, pengetahuan tradisional, teknologi tradisional, seni, permainan rakyat, dan olahraga tradisional.
Indonesia memiliki kekayaan budaya yang sangat besar sekaligus peradaban yang panjang. Kekayaan tersebut menjadi modal penting untuk memperkuat identitas nasional sekaligus meningkatkan posisi Indonesia di tengah pergaulan dunia.
Perkuat Diplomasi Budaya
Karena itu, Menbud mendorong para awardee untuk menjadi bagian dari upaya memperkuat the power of culture, baik melalui diplomasi budaya, pengembangan ekonomi dan industri budaya, maupun penguatan harmoni sosial.
Ia menilai kebudayaan memiliki potensi besar sebagai kekuatan Indonesia di masa depan. Dalam kesempatan tersebut, Menbud juga mengajak para awardee mengenal lebih dekat warisan budaya Indonesia, termasuk museum, cagar budaya, serta berbagai ekspresi budaya yang berkembang di masyarakat.
Ia menyampaikan bahwa pemerintah terus memperkuat ekosistem kebudayaan, termasuk melalui pengembangan film, musik, seni rupa, seni pertunjukan, dan sastra.
Menbud juga menyinggung upaya pemerintah dalam melakukan repatriasi dan restitusi benda budaya sebagai bagian dari penguatan kedaulatan sejarah dan cultural and historical justice.
Menurutnya, berbagai kekayaan budaya tersebut perlu terus dilindungi, dikembangkan, dan dimanfaatkan secara berkelanjutan. Hadir pada acara tersebut, diantaranya Direktur Utama LPDP, Yon Arsal, dan Kepala Sekolah Bahasa (Sebasa) Lemdiklat Polri, Kombes Pol. Joni Getamala.
Sementara itu hadir mendampingi Menbud dari jajaran Kementerian Kebudayaan, diantaranya Staf Ahli Menteri Bidang Hukum dan Kebijakan Kebudayaan, Masyitoh AR Alkatiri; Staf Ahli Menteri Bidang Ekonomi dan Industri Budaya, Anindita Kusuma Listya; Kepala Biro Perencanaan dan Keuangan, Puguh Wiyatno; serta Sekretaris Direktorat Jenderal Diplomasi, Promosi, dan Kerja Sama Kebudayaan, Undri.
Menutup paparannya, Menbud kembali menitipkan misi kebudayaan kepada para awardee yang akan melanjutkan pendidikan di dalam maupun luar negeri.
Ia berharap para penerima beasiswa LPDP kelak menjadi pemimpin dan pengambil keputusan di bidang masing-masing yang tetap berakar pada jati diri dan kebudayaan Indonesia.
“Kalau kita mimpi sendiri, itu hanya ilusi. Tetapi kalau kita mimpi bersama-sama, itu bisa menjadi fajar,” pungkasnya.
