Reuni Seniman, Mau Nangis Tapi Macet - Mabur.co

Reuni Seniman, Mau Nangis Tapi Macet

Nyetir dalam perjalanan dari utara kota Jogja, mau pulang ke rumah di bilangan JOGSEL (orang jadul nyebutnya Bantul) tetiba ponselku berdering.

“Sedang di mana?” aku kaget tentulah ditelepon kawan yang pulang kampung karena sakit, meninggalkan Jakarta.

“Aku sedang di Jogja, Ye.”

Lebih kaget lagi Weye Haryanto, yang nelepon menjawab, “Ya, aku di Jogja juga.”

Aku pikir dari Purbalingga dia mau berobat.

Ternyata, aku sengaja ke Jogja mau lihat pameranmu bareng Kaji dan Luwi.

“Rasanya airmataku sudah start mau rebutan netes keluar.”

“Ketemuan yuk, kamu di mana, Ye.”

“Ketemuan kapan,” katanya.

“Yo saiki balasku.”

“Wah cocok,” timpalnya.

“Heri Kris isone yo saiki. Besok ke Jakarta dia.”

Kami meluncur ke Pendhapa Art Space di Ringroad Selatan.

“Kualat kalau nggak ngontak penguasa wilayah utara, M Thoriq, pendukung diam-diam paling antusias aku melukis.”

Weye angkatanku di Jurusan Lukis, ISI. Berkawan sudah beberapa tahun sebelumnya termasuk dengan Thoriq.

Waktu dia wartawan Eksponen sudahlah pasti
puisi-puisiku dimuat (ordal dia, haha).

Waktu Ospek, Kaji yang menggunting separo kumis tebalnya.

Luwi tentu dekat pula, Weye ini juga biasa bertandang ke rumah ayah dan ibu Luwi (Mas Bambang-Mbak Sri) di Karangkajen.

Airmata rebutan tumpah ketika ngumpul semeja aku, Thoriq, Weye, Heri.

Cuma karena rebutan akhirnya sama-sama macet.

Malah jadi bahagia, ngakak-ngekek haha huhu dan hihi jelaaas.

Tahun sekian, Heri, Weye, dan kawan-jawan ISI pameran bareng di Museum Affandi.

Pameran tersebut, diulas oleh kawan baik mereka, namanya Afnan Malay dimuat di Harian Bernas. Hahaha…

Terima kasih kawan-kawan terbaik. ***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *