Foto di atas diambil pada satu momen ketika saya berdiri terlalu dekat dengan rak buku dan terlalu jauh dari niat hidup sederhana.
Saya berdiri di sana bukan sebagai pemilik tempat, melainkan sebagai keponakan kultural —orang yang datang, ikut menunjuk buku, lalu pulang dengan kepala penuh ide dan punggung sedikit pegal.
Tempat ini milik Uda Riri Satria, niniak-mamak sastrawi kami, dan Ketua Jagat Sastra Milenia, yang rumahnya —atau lebih tepatnya ruang bukunya— selalu terasa seperti ruang rapat informal bagi pikiran-pikiran yang tidak laku di rapat resmi.
Dalam foto itu, saya memegang satu rak dengan tangan kanan, pose yang oleh sebagian orang mungkin dibaca sebagai “menunjuk bacaan penting”.
Padahal jujur saja, saya sedang memastikan rak itu tidak roboh ke arah saya.
Rak-rak besi ini tampak kokoh, tetapi dengan beban sejarah intelektual dan ambisi manusia di atasnya, siapa pun akan was-was.
Buku-buku di sini tidak mengenal diet. Mereka makan ruang, waktu, dan rasa bersalah pembacanya.
Wajah saya terlihat tenang, sedikit sok kalem, seolah saya sudah berdamai dengan fakta bahwa saya tidak akan pernah membaca semua buku di ruangan ini.
Itu ekspresi pasrah yang sudah naik level: bukan lagi “nanti saya baca”, tapi “kehadiranmu saja sudah cukup membuatku merasa pintar”.
Dan anehnya, di ruang Uda Riri, perasaan itu tidak terasa memalukan.
Rak buku ini bukan rak yang dibuat untuk Instagram.
Tidak ada konsep warna, tidak ada simetri yang disengaja.
Buku ditumpuk vertikal, horizontal, bahkan diagonal —seperti ide-ide yang muncul di kepala jam dua pagi.
Beberapa buku dibungkus plastik, seperti janji masa depan yang belum sempat dibuka.
Ada kardus di lantai, tumpukan yang belum mendapat rumah, dan semuanya seperti berkata: santai saja, kita tidak ke mana-mana.
Yang paling penting —dan ini bagian yang jarang dimiliki perpustakaan resmi— semua buku di ruangan ini boleh kami bawa pulang.
Tidak ada kartu anggota. Tidak ada denda. Tidak ada tatapan curiga. Syaratnya cuma dua: punya koper besar dan tali rafia untuk mengikatnya.
Selebihnya adalah urusan punggung, niat, dan kemampuan menjelaskan ke keluarga kenapa pulang-pulang membawa setengah peradaban manusia.
Sebagai orang yang sering mengaku mencintai buku, saya selalu merasa sedikit diuji di sini.
Uda Riri tidak pernah menguji secara verbal, tentu saja. Ia terlalu santun untuk itu.
Tapi rak-raknya melakukan pekerjaan itu dengan diam-diam.
Setiap punggung buku adalah pertanyaan: “kamu sudah sejauh mana bertahan dengan bacaan yang tidak viral?” Dan tambahan pertanyaannya: “koper kamu muat berapa?”
Di salah satu rak, saya melihat The Song of Achilles karya Madeline Miller.
Buku ini selalu membuat saya merasa aneh: ia mitologi, tapi juga melodrama, ia epik, tapi juga intim.
Kalau saya harus menukil semacam review personal, saya akan bilang: ini buku yang membuat lelaki dewasa mempertanyakan ulang maskulinitasnya sambil diam-diam berharap Achilles memilih hidup lebih lama dan cinta yang lebih sederhana.
Buku ini ringan dibawa pulang—secara fisik—tetapi berat ketika dibaca sendirian malam-malam.
Tak jauh dari sana, Ghost Fleet berdiri dengan aura militer-teknologis yang membuat saya merasa sedikit tidak siap menghadapi masa depan.
Buku ini sering direview sebagai fiksi yang terlalu dekat dengan kenyataan, dan itulah yang membuatnya tidak nyaman tapi penting.
Membacanya seperti membaca prediksi cuaca, lalu sadar Anda lupa membawa payung dan masa depan tampak hujan peluru.
Buku ini tipe yang kalau dibawa pulang, koper Anda terasa seperti membawa dokumen rahasia.
Ada juga The Upstarts, yang selalu saya anggap sebagai buku tentang orang-orang yang terlalu percaya diri tapi cukup beruntung.
Review yang paling saya suka menyebutnya kisah ambisi yang lahir di garasi dan tumbuh menjadi algoritma.
Di rak Uda Riri, buku ini seperti pengingat bahwa disruptif tidak selalu berarti dewasa—dan tidak semua yang dibungkus jargon layak ditaruh di altar masa depan.
Saya juga melihat Upheaval karya Jared Diamond—buku yang membuat saya merasa sedang diajak terapi kelompok bersama negara-negara lain.
Banyak review menyebutnya sebagai usaha memahami krisis nasional dengan pendekatan psikologi individu.
Buku ini berat, baik secara gagasan maupun berat koper.
Biasanya saya menatapnya lama, lalu bertanya dalam hati apakah tali rafia saya cukup kuat untuk krisis peradaban.
Di sudut lain, ada The Digital Mindset dan Digital Bank, buku-buku yang membuat saya merasa tertinggal bahkan sebelum membukanya.
Review-review tentang buku semacam ini biasanya bernada optimistis sekaligus mengancam: penting untuk masa depan Anda.
Di ruangan ini, mereka lebih terasa sebagai artefak zaman—bahwa literasi hari ini juga harus bicara dengan server, sistem, dan ketakutan kita sendiri.
Yang membuat foto ini hangat bagi saya bukan hanya daftar bukunya, tetapi relasi yang mengitarinya.
Saya berdiri di sana bukan sebagai akademisi, bukan sebagai kolektor, melainkan sebagai bagian dari ekosistem obrolan.
Di tempat Uda Riri, buku jarang berdiri sendiri. Mereka selalu punya cerita tambahan: “buku ini dulu bikin ribut satu diskusi”, atau “yang ini dipinjam orang, baliknya tiga tahun kemudian”.
Sebagai niniak-mamak sastrawi, Uda Riri tidak mendikte bacaan. Ia menyediakan ruang —dan koper imajiner.
Rak-rak ini adalah arsip kesabaran: kesabaran membiarkan generasi lebih muda datang, bertanya, sok tahu, lalu pelan-pelan belajar meragukan dirinya sendiri.
Saya salah satu yang menikmati proses itu —meski sering pura-pura sudah paham sambil menghitung kapasitas bagasi.
Secara kekinian, foto ini mungkin terlihat seperti perlawanan kecil terhadap dunia yang serba ringkas.
Di saat orang bangga membaca ringkasan, saya berdiri di depan buku-buku tebal sambil berpikir, “ya, mungkin tidak sekarang, tapi suatu hari —kalau koper saya cukup besar”. Ini adalah optimisme versi realistis.
Ada sisi konyol dari foto ini yang saya sadari belakangan: saya berdiri di antara ratusan buku serius dengan kemeja santai, seperti orang yang datang ke seminar tapi berharap ada makan siang gratis.
Saya terlihat percaya diri, padahal di dalam kepala saya sedang menghitung berapa banyak buku yang sudah saya miliki tapi belum saya baca.
Jawabannya selalu lebih banyak dari jumlah tali rafia di rumah.
Namun justru di situlah kehangatannya. Rak buku ini tidak menuntut kesempurnaan. Ia tidak meminta laporan bacaan.
Ia hanya meminta satu hal: jangan pelit pada rasa ingin tahu. Dan kalau ingin membawa pulang dunia, silakan—asal siap mengikatnya dengan tali sederhana dan tanggung jawab yang tidak kecil.
Foto ini adalah potret kecil dari hubungan saya dengan buku dan komunitas: tidak heroik, tidak rapi, tapi jujur.
Saya berdiri di tempat seorang niniak-mamak sastrawi, dikelilingi bacaan lintas zaman, sambil berpikir bahwa mungkin fungsi utama buku bukan untuk ditamatkan, tetapi untuk dipinjamkan, dibawa pulang, dan pelan-pelan mengubah cara kita pulang ke diri sendiri. ***



