Kenapa Saya Jadi Ngefans Kritik Seni Rupa Gara-gara Dave Hickey - Mabur.co

Kenapa Saya Jadi Ngefans Kritik Seni Rupa Gara-gara Dave Hickey

Dulu, dunia kritik seni rupa itu bagi saya terasa ribet banget.

Saya cuma tahu seni itu “bagus” atau “jelek”, nggak pernah mikir lebih jauh soal bagaimana cara menilai atau menafsirkan karya.

Tapi pas saya mulai baca tulisan Dave Hickey—khususnya di Air Guitar: Essays on Art & Democracy sama The Invisible Dragon: Essays on Beauty— saya merasa dunia itu langsung terbuka.

Tiba-tiba, saya mengerti kalau seni itu bukan cuma soal visual atau teknik, tapi juga soal pengalaman, perasaan, dan cara berinteraksi dengan karya.

Di Air Guitar, Hickey menunjukkan bagaimana kritik seni bisa jadi sesuatu yang demokratis.

Dia nggak ngomongin seni kayak sesuatu yang eksklusif buat kalangan elit atau akademisi saja, tapi seni itu sesuatu yang bisa dinikmati siapa pun.

Saya langsung klik sama ide ini karena selama ini saya sering merasa “saya nggak mengerti seni” pas liat pameran atau galeri.

Tapi Hickey bilang, pengalaman pribadi itu sah-sah saja.

Kami bisa merasakan senang, bahkan nggak nyaman sama karya tertentu, dan itu bagian dari kritik yang valid.

Dia juga sering menunjukkan bahwa kritik seni itu bisa jujur, blak-blakan, dan nggak harus sok ilmiah. Ini membuat saya berani punya opini sendiri soal karya yang saya lihat.

Kalau menggunakan bahasa pergaulan Generasi Z atau Generasi Alpha jadi begini:

Selain itu, Air Guitar ngajarin gue untuk nggak takut sama seni kontemporer yang kadang terlihat aneh atau nggak familiar.

Hickey sering nyorot karya-karya yang mungkin kontroversial atau nggak konvensional, tapi dia ngajak pembaca buat nyoba ngerasain pengalaman estetiknya dulu, sebelum menilai.

Ini penting banget buat gue, karena sebelumnya gue sering mikir, “Ah, ini seni apa nggak ya?” atau “Lo harus ngerti teori dulu buat apresiasi.”

Sekarang gue belajar, kadang yang penting adalah gimana karya itu bikin lo ngerasa, bukan cuma seberapa formal atau kompleks teorinya.

Sementara itu, di The Invisible Dragon, Hickey banyak ngomong soal keindahan.

Tapi menariknya, dia nggak membahas keindahan sebagai sesuatu yang kaku atau terikat aturan.

Dia ngajarin bahwa keindahan itu subjektif, personal, dan bisa muncul dari hal-hal yang sederhana.

Misalnya, sapuan kuas, permainan warna, atau komposisi yang nggak simetris bisa bikin pengalaman estetik yang kuat.

Gue jadi belajar buat peka sama detail yang sebelumnya gue lewatkan, dan ngerti bahwa kritik seni itu bisa lebih tentang perasaan daripada sekadar analisis formal.

Hickey juga sering menekankan bahwa kritik seni itu bisa personal, tapi tetap berbobot.

Dalam The Invisible Dragon, dia bilang bahwa pengalaman estetik tiap orang itu unik, dan kritik seni nggak harus cuma menilai karya dari perspektif “ahli” atau teori akademik.

Hal ini bikin gue lebih pede untuk menulis catatan pribadi tentang karya yang gue liat —gue bisa ngerasain dulu, kemudian menafsirkan sesuai pengalaman gue.

Gue jadi nggak takut bilang kalau gue nggak terlalu ngerti satu karya, yang penting adalah refleksi dan pengalaman gue sendiri.

Selain mengubah cara gue melihat karya, buku-buku Hickey ini juga ngajarin gue untuk menghargai seni tanpa harus terlalu serius.

Gue belajar buat menikmati, mengamati, dan meresapi karya sebelum berpikir terlalu banyak.

Hickey menunjukkan bahwa kritik seni itu bukan soal menang atau kalah, atau soal siapa yang lebih ngerti, tapi tentang dialog: antara penikmat, karya, dan kadang juga senimannya.

Gue mulai dateng ke galeri dengan cara baru: lebih observatif, lebih reflektif, dan lebih terbuka buat pengalaman yang unik.

Salah satu pelajaran penting dari kedua buku itu adalah bagaimana kritik seni bisa menggabungkan kejujuran dan apresiasi.

Hickey nggak takut bilang kalau suatu karya “menarik” atau “nggak berhasil” dengan alasan yang jelas, tapi selalu menekankan pengalaman estetik sebagai dasar.

Dari situ, gue belajar bahwa kritik bukan sekadar menilai, tapi juga mencoba memahami, merasakan, dan menghargai karya dalam konteksnya.

Bahkan kalau karya itu nggak sesuai selera gue, gue tetap bisa menghargai ide dan proses di baliknya.

Seiring waktu, pengalaman baca Hickey bikin gue mulai menulis sendiri tentang seni.

Gue belajar untuk nggak cuma menyalin teori atau istilah, tapi ngegabungin observasi visual dengan refleksi pribadi.

Gue nyatet apa yang gue rasain, gimana warna atau komposisi mempengaruhi gue, dan kenapa gue merespons karya tertentu dengan cara itu.

Itu semua berangkat dari filosofi Hickey bahwa kritik seni harus berangkat dari pengalaman pribadi, tapi tetap bisa nyambung sama pemikiran kritis.

Kalau gue harus nyimpulin, membaca Air Guitar dan The Invisible Dragon itu kayak nemuin temen yang ngerti gue banget.

Hickey ngajarin gue bahwa kritik seni bukan cuma soal teori atau sejarah, tapi soal pengalaman, perasaan, dan keberanian buat punya opini sendiri.

Gue jadi lebih peka sama detail kecil, lebih terbuka sama karya yang nggak biasa, dan berani mengekspresikan perspektif pribadi.

Dunia kritik seni rupa sekarang nggak lagi jauh atau menakutkan; malah jadi seru, asik, dan penuh rasa penasaran.

Sekarang, setiap kali gue dateng ke galeri atau liat mural di Jakarta, gue nggak cuma liat “bagus atau nggak”.

Gue liat komposisi, warna, tekstur, dan gimana karya itu bikin gue ngerasa.

Gue catet, gue refleksi, kadang gue diskusi sama temen, dan itu semua berangkat dari ketertarikan gue sama tulisan-tulisan Hickey.

Kritik seni rupa sekarang jadi semacam ritual pribadi buat gue: cara ngobrol sama seni, ngobrol sama diri sendiri, dan kadang ngobrol sama orang lain yang juga mulai ngehargain karya dengan cara lebih hidup.

Dan jujur, baru setelah baca tulisan-tulisan Dave Hickey, gue jadi punya dorongan buat nengok buku-buku kritik seni rupa lain, khususnya yang diterbitin sama penerbit Gang Kabel.

Sebelumnya gue nggak terlalu aware sama publikasi lokal atau tulisan kritikus Indonesia, tapi sekarang gue pengen baca lebih banyak perspektif lain, sambil tetap ngejalanin prinsip yang gue dapet dari Hickey: kritik itu harus personal, jujur, dan nyambung sama pengalaman nyata gue sendiri. ***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *