Serikat Guru: Korban Keracunan MBG Jangan Disebut “Hanya” Apalagi “0 Koma” - Mabur.co

Serikat Guru: Korban Keracunan MBG Jangan Disebut “Hanya” Apalagi “0 Koma”

Mabur.co – Banyaknya kasus keracunan yang terjadi dalam program MBG (Makan Bergizi Gratis) telah mengundang reaksi keras dari sejumlah pihak. Salah satunya dari Serikat Guru.

Ketua Dewan Pakar Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI), Retno Listyarti, mengatakan bahwa maraknya kasus keracunan akibat MBG dalam 1,5 tahun terakhir ini, seharusnya menjadi pembelajaran serius bagi negara, agar tidak main-main dengan setiap data yang ada.

Bahkan Retno juga mengingatkan pemerintah agar tidak memandang remeh kasus keracunan ini, apalagi dengan narasi “hanya” (misalnya “keracunan itu ‘hanyalah’ gangguan (sakit) perut biasa”), atau “0 koma’ (misalnya “yang keracunan dari MBG hanya 0,00017% saja”), dan seterusnya.

“Kita tidak bisa menyebut korban (keracunan dari MBG) itu, apalagi ini anak-anak, dengan mengatakan ‘hanya’. Lalu yang kedua dengan menyebut angka ‘0 koma’,” ucap Ketua Dewan Pakar Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI), Retno Listyarti, sebagaimana dilansir dari kanal YouTube KOMPASTV, Selasa (14/4/2026).

Retno pun turut menyindir program yang satu ini, sebagai program yang terlalu dimanjakan oleh negara. Lantaran fasilitasnya yang begitu mewah dan terkesan “diada-adakan” (meskipun tidak terlalu dibutuhkan).

“Program ini tuh saya lihat dimanjakan banget (oleh negara). Udah (pegawainya) jadi ASN, dapet gaji misalnya Kepala SPPG itu 6 juta per bulan. Padahal masih dapet lagi gaji dari APBD, (karena berstatus ASN daerah). Kemudian dikasih motor (listrik) juga. Nilainya (harga) pun nggak kira-kira gitu ya. Ini jelas bukan motor murah, karena satu motor saja harganya Rp 42 juta,” tambah Retno.

Sebagai Ketua Serikat Guru, Retno pun turut membandingkan fasilitas mewah yang didapatkan oleh petugas SPPG, dengan nasib para guru honorer yang masih dianaktirikan oleh negara, sekalipun sudah berganti rezim.

Karena di beberapa daerah, masih ada guru honorer yang digaji hanya Rp300 ribu atau bahkan Rp150 ribu per bulan.

Sementara petugas SPPG yang datang ke sekolah mereka justru membawa motor listrik seharga Rp42 juta, untuk mengantarkan menu MBG kepada siswa-siswi yang diajar oleh guru honorer tersebut. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *