Mabur.co – Sejak awal berkarir di militer hingga menjadi penguasa selama lebih dari 32 tahun, Presiden kedua RI, Soeharto dikenal sebagai sosok pemimpin yang sangat tenang namun begitu disegani.
Oleh rekan maupun musuh-musuh militer dan politiknya, sosok berjuluk The Smiling General ini tak hanya dikenal sebagai ahli siasat atau perancang strategi ulung, namun juga merupakan seorang eksekutor lapangan yang brilian.
Hal itu terbukti dari keberhasilannya memimpin dan memenangkan berbagai pertempuran penting dalam sejarah perjalanan Republik Indonesia.
Mulai dari saat peristiwa Serangan Umum 1 Maret, Pembebasan Irian Barat, Penumpasan G30S PKI hingga keberhasilannya mempertahankan kekuasaannya selama 32 tahun.
Mungkin tak banyak yang tahu, kemampuan luar biasa yang menjadi keunggulan Soeharto itu ternyata memang sudah dimiliknya sejak masih muda.
Hal itu salah satunya tercermin dalam keberhasilannya menggagalkan upaya kudeta yang dilakukan kelompok Mayor Jendral Soedarsono, hanya dengan siasat cerdik dan tanpa menggunakan satu pun butir peluru.
Dari Mayor ke Jenderal Besar
Dikutip dalam buku ‘Pak Harto, Dari Mayor ke Jenderal Besar’ karya Noor Johan Nuh, peristiwa itu terjadi pada 3 Juni 1946. Saat itu Soeharto yang berpangkat Letkol baru saja menjabat sebagai Komandan Resimen III wilayah teritorial Yogyakarta.
Sebagai komandan resimen ia memiliki tugas berat untuk memastikan dan menjamin keberlangsungan jalannya roda pemerintahan Republik Indonesia, sekaligus menjaga keamanan dan keselamatan Presiden, Wakil Presiden serta seluruh anggota kabinet.
Pasalnya saat itu Yogyakarta merupakan ibukota Republik Indonesia. Sehingga semua pejabat penting pemerintah tinggal dan menetap di Yogyakarta.
Dengan usia yang belum genap 1 tahun, kondisi Republik Indonesia saat itu memang sedang sangat rapuh. Berbagai ancaman pengambilalihan kekuasaan tidak hanya muncul dari pihak asing namun juga dari dalam negeri sendiri.
Salah satunya adalah munculnya upaya kudeta pertama dalam sejarah Republik Indonesia yang melibatkan kelompok Mayor Jenderal Soedarsono yang kala itu merupakan Panglima Divisi III. Kelompok ini bahkan sebelumnya dikaitkan dengan penculikan Perdana Menteri Sutan Sjahrir pada 28 Juni 1946.
Dalam kondisi tersebut, Presiden Soekarno awalnya memerintahkan agar pimpinan kelompok pemberontak tersebut yakni Mayjen Soedarsono ditangkap. Namun Soeharto menolak hal itu mentah-mentah.
Ia menilai tindakan tergesa-gesa berpotensi memicu bentrokan terbuka antara pasukan yang saling berhadapan. Terlebih secara hirarki militer, perintah itu harus melalui Panglima Besar bukan Presiden.
Keputusan berani yang diambil Soeharto jelas membuat Presiden Soekarno berang. Penolakan itu bahkan membuat Presiden Soekarno menjuluki Soeharto sebagai “Opsir Kopig” atau Opsir keras kepala.
Alih-alih melakukan upaya penangkapan langsung Mayjen Soedarsono yang memiliki pasukan sendiri, dan berpotensi menimbulkan bentrokan berdarah sesama anak bangsa.
Soeharto dengan sangat cerdik menyusun strategi untuk membawa Mayjen Soedarsono masuk ke lingkungan istana terlebih dahulu sebelum akhirnya ditangkap.
Langkah itu terbukti efektif. Kudeta berhasil digagalkan tanpa satu pun tembakan dilepaskan maupun tanpa korban jiwa.
Strategi tersebut juga berhasil mencegah kemungkinan pecahnya pertempuran antara pasukan Resimen III dengan kekuatan militer lain yang dapat menyeret banyak pihak ke dalam konflik bersenjata. Dimana hal itu akan dapat mengancam kelangsungan Republik Indonesia yang masih sangat muda.
Peristiwa 3 Juli 1946 sendiri dikenal sebagai salah satu peristiwa sejarah awal pendirian Republik dan sekaligus juga catatan penting dalam perjalanan karier militer Soeharto.
Keberhasilannya menggagalkan upaya makar tanpa pertumpahan darah memperlihatkan kemampuan taktik atau strategi, kesabaran, dan kecermatan seorang komandan muda dalam menghadapi krisis besar di masa awal kemerdekaan Indonesia.

