BANTUL – Jika berbicara tentang film, pikiran kita pasti akan tertuju pada film-film layar lebar yang dibintangi oleh Reza Rahadian, Iko Uwais, Chico Jerico, Anya Geraldine, dan seterusnya, yang tayang di Bioskop XXI dan lain-lain.
Seolah selain nama-nama tadi, tidak ada celah bagi orang-orang biasa apalagi yang tinggal di desa, untuk bersaing dan hidup dari industri yang satu ini.
Padahal kenyataannya, dengan kemajuan zaman yang semakin pesat seperti saat ini, setiap orang sejatinya sudah mampu menghasilkan film dalam versi yang lebih sederhana, serta budget yang lebih terjangkau.
Terlebih bagi masyarakat yang tinggal di desa, mereka seharusnya juga mampu memaksimalkan setiap potensi “tersembunyi” yang ada di wilayah mereka, untuk dijadikan konten film yang mampu membawa desa mereka dikenal oleh masyarakat luas dari seluruh nusantara.
Kesempatan itulah yang berusaha dibawa oleh Forum Desa Sinema, yang bekerjasama dengan berbagai komunitas film desa di DIY dan Jawa Tengah, untuk mengadakan pelatihan bertajuk “Pekan Sinema Desa”, yang berlangsung di Bejen Sinemacamp Bantul (Kelingan Garden & Cafe), selama enam hari pada 25-30 April 2026.
Pekan Sinema Desa menghadirkan kesempatan bagi generasi muda maupun masyarakat umum yang berasal dari desa, untuk belajar membuat film dengan memaksimalkan peralatan yang sederhana, serta pengambilan lokasi yang dekat dengan lingkungan rumah sehari-hari.
Ada beberapa kegiatan yang tersaji dalam Pekan Sinema Desa kali ini, diantaranya diskusi film desa, kelas film making, dan sesi nonton bareng (nobar).
Dalam sesi diskusi film desa, para peserta diajak menggali pembuatan film dari beragam perspektif, dengan menghadirkan narasumber seperti Yoga Cinematani, Tedi Kusyairi, Aswarun Barera, Gepeng Nugroho, Aan Rahmanto, Ninda Filasputri, Ridho Darusman, Shafa, Bakti Saputra, Yulius P. Jati, Tonny Trimarsanto, dan Ahmad Yani.

Sementara untuk sesi kelas film making, para peserta diajak melakukan praktik pembuatan film sederhana di sekitar lokasi kegiatan, dengan panduan dari para mentor seperti Tedi Kusyairi, Naufal Cakradara, Agung Lilik Prasetyo, dan Fitria Eranda.
Setelah itu, dalam sesi screening (nobar), film-film yang pernah diproduksi oleh berbagai komunitas film dihadirkan dan di-screening bersama-sama di hadapan seluruh peserta, untuk kemudian didiskusikan dalam berbagai sudut pandang.
Ketua Forum Desa Sinema, Haryanto, mengaku bangga dengan penyelenggaraan kegiatan Pekan Sinema Desa kali ini, karena antusiasme peserta sangat luar biasa.
“Saya merasa bangga karena ternyata antusias peserta lumayan banyak. Acara ini diikuti oleh hampir 30 peserta, dimana 80% diantaranya selalu mengikuti kegiatan secara aktif, datang dan melakukan tugas kelas,” kata Haryanto di sela-sela kegiatan, beberapa waktu lalu.
Melalui seluruh rangkaian ini, diharapkan para sineas atau filmaker yang berbasis di desa akan menjadi lebih kreatif dan mandiri dalam berkarya, sekaligus mampu mendistribusikannya kepada masyarakat luas.
“Umumnya produk film yang dibuat temen-temen desa ditujukan untuk mengikuti kegiatan seperti pembinaan dinas atau perlombaan festival, kemudian setelah itu hanya tersimpan saja di komputer maupun hape. Padahal film itu harusnya bisa ditemukan dengan publiknya (audiens), diapresiasi, dan jadi bagian riset atas dinamika sosial, untuk itulah kegiatan ini diupayakan oleh Forum Desa Sinema,” tegas Haryanto.
Sementara itu, Tedi Kusyairi selaku pendiri Forum Desa Sinema, berharap agar gerakan sinema di desa bisa terus berjalan dan konsisten memberikan dampak yang nyata bagi masyarakat sekitar.
“Sejak tahun 2007 hingga saat ini sudah banyak inisiasi yang kami lakukan, seperti membuat organisasi Sineas Muda Bantul (OKP-Organisasi Kemasyarakatan Pemuda), Sineas Muda Indonesia (program film Karang Taruna), program rutin Selasa Sinema, menginisiasi Paguyuban Sineas Bantul (tahun 2017), hingga mendorong lahirnya kampung sinema seperti Polaman Kampung Sinema, dan lain-lain. Semoga jejaring semacam ini bisa terus berjalan secara kolaboratif, dalam kerja bareng memajukan perfilman dengan sudut pandang dari masyarakat desa,” kata Tedi Kusyairi. (*)



