Kampung Teletubbies, Monumen Kebangkitan Gempa Bumi Jogja 2006 yang Mulai Dilupakan

5 Min Read
Colorful dome-shaped buildings with large cartoon mural outside, red doors, and a tiled roof, set in a sunny tropical yard.
Suasana Kampung Teletubbies di Kecamatan Prambanan, Sleman, Yogyakarta. (Foto: JH Kusmargana)

Mabur.co — Terletak di Dusun Nglepen, Kalurahan Sumberharjo, Kapanewon Prambanan, Kabupaten Sleman, Kampung Teletubbies menjadi salah satu kawasan relokasi korban terdampak gempa bumi Jogja 2006. 

Pasca-gempa bumi dahsyat berkekuatan 5,9 skala Ritcher yang terjadi tanggal 27 Mei 2026 dan menewaskan lebih dari 6.000 jiwa itu, puluhan keluarga terdampak di wilayah Prambanan harus direlokasi ke tempat ini. 

Meski berada jauh dari pusat gempa, tak sedikit rumah warga Prambanan kala itu mengalami kerusakan parah akibat berada di jalur sesar aktif sehingga harus dipindahkan ke tempat yang lebih aman.

Kenapa Disebut Kampung Teletubbies?

Sunny street in a small neighborhood with a domed building painted with cartoon characters on the left and green houses on the right.
Area kompleks kampung teletubbies. (Foto: JH Kusmargana)

Disebut Kampung Teletubbies karena kampung relokasi ini terdiri dari rumah-rumah tahan gempa berbentuk kubah setengah lingkaran atau dome yang menyerupai rumah pada film anak Teletubbies yang viral sekitar tahun 2000-an.

Kala itu sekitar tahun 2007, kawasan relokasi rumah dome ini dibangun oleh lembaga Domes for the World Foundation bekerja sama dengan WANGO (World Association of Non-Governmental Organizations) serta donatur Emaar Properties dari Dubai.

Bangunan berbentuk kubah atau setengah lingkaran sengaja dipilih karena dinilai lebih kuat menghadapi guncangan gempa maupun terpaan angin, berkat struktur monolitiknya yang dibuat tanpa sambungan atap.

Selain menjadi pusat percontohan kawasan penanganan pasca-bencana gempa bumi Jogja 2006, Kampung Teletubbies ini juga sempat viral sebagai tempat tujuan wisata karena keunikan bentuk arsitekturnya. 

Deretan rumah relokasi berbentuk setengah bola yang dihias dan dicat warna-warni seolah membuat kampung ini nampak seperti perkampungan di negeri dongeng, sehingga selalu ramai dikunjungi wisatawan. 

Kondisi Kampung Teletubbies Kini

Small blue house with a red tile roof and a blue porch, garden hose along the ground, and lush plants surrounding it.
Salah satu bentuk rumah khas di kampung teletubbies. (Foto: JH Kusmargana)

Setelah hampir 20 tahun berlalu, kawasan Kampung Teletubbies kini telah mengalami banyak perubahan. Beberapa hari lalu, wartawan Mabur.co berkesempatan mengunjungi tempat ini. 

Saat pertama kali masuk, kesan Kampung Teletubbies yang unik dan ikonik pun seolah telah luntur dan hampir tak nampak lagi. 

Puluhan bangunan rumah dome memang masih tegak berdiri. Namun dari sekitar 71 bangunan yang ada, hanya sekitar 44 rumah saja yang masih ditempati. Sementara puluhan rumah lainnya nampak telah kosong dan dibiarkan rusak tanpa penghuni.

“Banyak warga yang memilih pindah dan membangun rumah di tempat lain. Tentu dengan berbagai pertimbangan,” ujar salah seorang warga, Lisa Lestari. 

Disamping beberapa rumah mengalami kerusakan, sejumlah bangunan rumah lainnya juga nampak telah mengalami banyak perubahan. Sehingga nampak kurang tertata.

Two gray domed houses with colorful green and blue accents sit along a sunny street, with a small outdoor seating area and a parked motorcycle nearby.
Uniknya rumah yang ada di kampung teletubbies. (Foto: JH Kusmargana)

Mayoritas bangunan yang masih dihuni, bahkan nampak telah direnovasi dengan ditambahkan bangunan lain berupa teras atau kamar belakang, bergaya rumah kampung berdinding tembok dan beratap genteng.

Lisa menyebut, sejumlah penambahan bangunan pada rumah dome ini dilakukan warga dengan pertimbangan kenyamanan serta untuk memperluas area bangunan. 

“Karena kalau hanya bangunan asli sangat sempit. Hanya terdiri dari 2 kamar, 1 ruang tamu dan 1 ruang dapur. Kamar mandi saja tidak ada. Sehingga banyak warga menambah bangunan di sampingnya,” ujarnya.

Selain menghilangkan bentuk asli rumah dome seperti saat pertama kali dibangun, keberadaan bangunan tambahan ini juga telah menghilangkan identitas serta fungsi dari kawasan rumah atau pemukiman tahan gempa itu sendiri. 

Carik Kalurahan Sumberharjo, Budi Rahardjo, mengatakan sejumlah penambahan bangunan di kampung Teletubbies memang dilakukan atas kebutuhan warga. Termasuk juga pembangunan fasilitas umum seperti pos ronda, musala, balai pertemuan, dan lain-lain.

Semakin Sepi dan Dilupakan

Round concrete hut with a painted mural reading 'SENHOR' on the front, framed by yellow and pink doorway columns and decorative patterns, set among trees and greenery.
Rumah teletubbies yang sepi. (Foto: JH Kusmargana)

Meski sempat ramai sebagai destinasi wisata sekaligus pusat edukasi mitigasi bencana di era 2010-2015-an, sejak 3 tahun terakhir kawasan Kampung Teletubbies semakin sepi dan jarang dikunjungi wisatawan. 

Perubahan tren wisata, kurangnya inovasi pengelola, serta munculnya sejumlah destinasi wisata baru di kawasan Prambanan, dinilai menjadi faktor utama penyebab Kampung Teletubbies tak lagi menjadi tujuan favorit wisatawan.

Pihak pemerintah desa sendiri mengaku telah berupaya meningkatkan tingkat kunjungan ke kampung Teletubbies ini melalui berbagai upaya termasuk event kegiatan namun hasilnya masih belum maksimal.

“Wisata Rumah Domes selama ini memang dikelola langsung oleh kelompok wisata, Kalurahan tidak ikut campur. Sehingga kita hanya mendukung saja,” ungkapnya.

Akibat semakin sepinya pengunjung, tak sedikit warga kampung Teletubbies pun mengaku kehilangan pemasukan. Baik itu dari hasil berjualan makanan dan minuman ataupun usaha lainnya.

Melihat besarnya potensi wisata sejarah, budaya serta edukasi yang ada, warga pun berharap adanya pembenahan serta penataan ulang kawasan kampung Teletubbies ini agar bisa kembali menarik minat wisatawan.

Yakni sebagai kawasan edukasi kebencanaan khususnya bagi pelajar, sekaligus monumen atau pengingat kebangkitan masyarakat Yogyakarta pasca-peristiwa bencana gempa bumi dahsyat yang pernah terjadi tahun 2006 silam.

Share This Article
Avatar photo
Lahir di Jogja. Fans Man Utd.
Avatar photo
Pemimpin redaksi mabur.co
Leave a Comment