Desa Kotagede, Lahirkan Kuliner Tradisional Roti Kembang Waru

5 Min Read
Kotagede menyimpan kekayaan yang tak kalah berharga, ada kuliner tradisional bernama roti kembang waru yang merupakan salah satu kuliner warisan Kerajaan Mataram Islam. (Foto: Setiaky A Kusuma)

Mabur.co- Desa Kotagede, salah satu sudut di Kota Yogyakarta yang menyimpan sejarah panjang terkait dengan berdirinya kerajaan-kerajaan di tanah Jawa. Terkenal dengan kearifan lokal dan pelestarian situs bersejarah yang memukau.

Tak heran jika kawasan yang melahirkan banyak produk kebudayaan ini menjadi daya tarik para wisatawan asing maupun lokal untuk berkunjung ke Yogyakarta.

Desa Kotagede memiliki tempat pariwisata yang sangat lengkap, mulai dari sejarah, pasar dan masjid tradisional tertua di Jogja, hingga beragam kuliner khas Kotagede. Ada juga kerajinan perak, tembaga, dan kuningan.

Selain wisata sejarah, budaya, dan adat istiadat Jawa yang memiliki keunikan tersendiri, di sini juga terdapat beberapa kuliner tradisional khas yang menjadi sorotan para wisatawan.

Wisata kuliner di Kotagede ini tentu tidak kalah menarik dari wisata sejarah atau seni budayanya. Kotagede banyak menyimpan kuliner legendaris yang hanya bisa ditemukan di kota bekas pusat Kerajaan Mataram Islam ini.

Kotagede selama ini dikenal luas sebagai salah satu destinasi wisata unggulan di Kota Yogyakarta. Kawasan bersejarah ini menjadi magnet wisatawan domestik maupun mancanegara berkat sentra kerajinan perak berkualitas tinggi yang telah melegenda sejak masa Kerajaan Mataram Islam tersebut. 

Roti Kembang Waru

Namun, di balik gemerlap etalase perhiasan perak dan padatnya arus wisata belanja, Kotagede menyimpan kekayaan lain yang tak kalah berharga, yakni kuliner tradisional bernama roti kembang waru yang merupakan salah satu kuliner warisan Kerajaan Mataram Islam.

Stack of golden cookies wrapped in clear plastic bags resting on a white plate.
Pada masa Kerajaan Mataram Islam roti kembang waru ini selalu menjadi hidangan favorit yang ada dalam setiap hajatan atau pun acara adat pada masa itu. (Foto: Setiaky A Kusuma)

Roti ini memiliki bentuk yang cukup unik, bulat serta memiliki delapan sisi di pinggirnya. Kedelapan sisi tersebut bukan tanpa alasan.

Roti sejenis kue yang berbentuk unik ini mengandung filosofi cukup mendalam terkait pinggiran sisinya yang berjumlah delapan.

Pada masa Kerajaan Mataram Islam roti kembang waru ini selalu menjadi hidangan favorit yang selalu ada dalam setiap hajatan atau pun acara adat pada masa itu. Tidak diketahui persis siapa penemu dari jajanan khas yang saat ini cukup populer di wilayah Kotagede tersebut.

Dahulu, Pasar Legi Kotagede sebelum dipenuhi kios-kios seperti saat ini ditumbuhi pohon-pohon lebat yang cukup rindang seperti pohon Beringin dan pohon Gayam. Pada masa Mataram Islam pusat pemerintahan atau ibu kotanya terletak di wilayah Kotagede. Terkenal dengan pohon Gayam yang tumbuh subur di sepanjang jalan.

Di antara pohon-pohon Gayam yang tumbuh terdapat pohon Waru yang juga tumbuh subur dengan bunga yang berwarna cokelat kemerahan. Kemudian dibuatlah roti yang berbentuk bunga tersebut karena bunga waru lebih mudah dibuat dibandingkan bunga kenanga ataupun bunga mawar.

Roti ini memiliki cita rasa sederhana, khas kue-kue tradisional tempo dulu. Rasanya manis dengan aroma harum yang berasal dari perpaduan tepung terigu, gula, telur ayam, dan vanili.

Seluruh bahan dicampur menjadi adonan, lalu dituangkan ke dalam cetakan berbentuk bunga waru yang telah diolesi mentega sebelum dipanggang hingga matang.

Produsen roti kembang waru, Basis Hargito, mengatakan, membuat roti kembang waru bersama dengan istri. Ia menekuni usaha ini selama 43 tahun sejak 1983. Delapan sisi roti kembang waru bermakna delapan kemuliaan. Seorang pemimpin yang memiliki kedelapan nilai tersebut diyakini mampu mengayomi rakyatnya.

Hasto broto, hasto itu delapan, broto itu kemuliaan. Karena dunia ini isinya delapan elemen penting, semua makhluk hidup membutuhkan bumi, geni (api), banyu (air), angin, kemudian matahari, bulan, bintang, langit,” ujar Basis, saat ditemui mabur.co, Jumat (29/5/2026).

Basis memproduksi hampir 300 buah roti kembang waru setiap harinya. Pembuatan roti juga masih menggunakan teknik tradisional, bahkan alat yang digunakan merupakan buatan sendiri.

“Saya bikin roti masih tradisional, mempertahankan seperti dulu, alat dan rasa masih seperti dulu. Cetakannya kami buat sendiri dari kaleng atau seng. Juga panoponnya dari seng, juga dibikin sendiri. Untuk memasak kami menggunakan arang. Kalau anak sekarang sudah pakai kompor. Itu kualitasnya akan lain. Untuk harga roti kembang waru. Dibanderol Rp3.500 per buah, roti ini mampu bertahan 5-7 hari tanpa pendingin, sehingga ideal sebagai oleh-oleh,” ucapnya.

Putra, wisatawan asal Semarang, menyatakan, tertarik mencoba roti kembang waru karena bentuknya yang unik dan rasanya yang sederhana.

“Saya suka karena bentuknya cantik mirip bunga waru. Rasanya juga simpel tapi enak, tidak terlalu manis dan tidak pakai topping berlebihan seperti kue kekinian,” ungkapnya. ***

Share This Article
Teruslah Berbuat baik kepada siapapun karena hal baik itu, akan kembali padamu dengan berbagai cara
Avatar photo
Pemimpin redaksi mabur.co
Leave a Comment