Mabur.co – Di tengah maraknya kenakalan remaja, seperti tawuran, klitih, penyalahgunaan narkoba, hingga kebiasaan menghabiskan waktu dengan aktivitas yang kurang bermanfaat, masih ada generasi muda yang memilih jalan berbeda.
Salah satunya adalah Muhammad Yusuf Thamrin (17), siswa Muhammadiyah Boarding School (MBS) Yogyakarta asal Kalimantan Utara, yang memilih mengisi masa mudanya dengan berlatih pencak silat hingga berhasil menorehkan berbagai prestasi.
Juara Pencak Silat Sleman
Kerja keras dan kedisiplinan mengantarkan Yusuf meraih gelar juara pada nomor Tanding Dewasa Putra dalam kejuaraan pencak silat di Kabupaten Sleman.
Bagi Yusuf, prestasi tersebut bukan diraih secara instan, melainkan hasil dari latihan yang konsisten dan pengorbanan selama bertahun-tahun.
Dalam sepekan, Yusuf berlatih lima hari. Bahkan dalam sehari ia bisa menjalani dua hingga tiga sesi latihan dengan durasi sekitar dua jam setiap sesi.
Pagi hari dimanfaatkan untuk latihan fisik secara mandiri, siang hingga sore fokus pada latihan kelincahan dan kecepatan menggunakan cone, sedangkan malam hari digunakan untuk memperdalam teknik dan strategi bertanding.
“Kalau pagi saya latihan mandiri untuk fisik. Sore latihan kecepatan dan kelincahan. Malam fokus ke teknik-teknik pencak silat. Semua itu saya jalani hampir setiap hari,” ujar Yusuf.
Andalan Teknik Guntingan
Di antara berbagai teknik yang dikuasainya, Yusuf mengandalkan teknik guntingan, khususnya guntingan belakang dan guntingan terbang. Teknik tersebut digunakan untuk menjatuhkan lawan dengan memanfaatkan momentum dan keseimbangan saat bertanding.
Perjalanan Yusuf di dunia pencak silat dimulai sejak kelas 5 SD. Namun, ia sempat berhenti berlatih karena dilarang oleh orang tuanya akibat sering pulang latihan hingga larut malam.
Sempat berhenti beberapa tahun, semangatnya kembali tumbuh ketika menempuh pendidikan di pondok pesantren. Saat duduk di kelas 8 SMP, ia mulai aktif mengikuti berbagai kejuaraan.
“Awalnya saya hanya ingin mencari pengalaman. Target saya waktu itu cuma bisa mendapat medali perunggu,” kenangnya.
Seiring bertambahnya pengalaman bertanding, prestasi Yusuf terus meningkat. Ia berhasil mengikuti berbagai kejuaraan hingga tingkat nasional.
Salah satu pencapaian yang paling membanggakan adalah meraih juara meski harus menghadapi lawan-lawan yang mayoritas merupakan mahasiswa dan atlet yang lebih berpengalaman.
Tantangan Terberat
“Tantangan terberat adalah menghadapi atlet yang usianya lebih tua dan sudah berpengalaman. Tapi itu justru membuat saya semakin termotivasi untuk terus berkembang,” katanya.
Bagi Yusuf, pencak silat bukan hanya soal menjadi juara. Menurutnya, olahraga bela diri asli Indonesia itu mampu membentuk karakter, melatih kedisiplinan, menjaga kesehatan, sekaligus menjadi wadah bagi anak muda untuk menghindari pergaulan negatif.
“Saya ingin mengajak teman-teman seusia saya agar mengisi waktu luang dengan kegiatan yang bermanfaat. Daripada nongkrong tanpa tujuan, lebih baik ikut pencak silat. Selain badan sehat, kita juga bisa berprestasi dan membanggakan kedua orang tua,” tuturnya.
Kisah Muhammad Yusuf Thamrin menjadi bukti bahwa di tengah berbagai tantangan yang dihadapi generasi muda saat ini, selalu ada pilihan untuk berkarya dan berprestasi.
Dengan disiplin, kerja keras, dan semangat pantang menyerah, seorang remaja mampu mengubah hobinya menjadi prestasi yang membanggakan keluarga, sekolah, dan daerah asalnya.
