Mabur.co – Sebagai salah satu desa wisata yang juga sentra kerajinan batik terkemuka di Indonesia, Desa wisata Wukirsari dengan kampung Batik Giriloyo memiliki beberapa produk batik unggulan yang layak jadi koleksi wisatawan, baik wisatawan lokal maupun mancanegara.
Produk-produk yang dijual pun tidak sembarangan, karena merupakan hasil dari tangan-tangan perajin di Imogiri, Bantul, Yogyakarta, yang sudah terlatih dan ulet mengerjakan berbagai macam jenis batik, dengan tetap mempertahankan metode tradisional.
Lalu, apa sajakah produk-produk batik yang bisa diperoleh di kawasan satu ini?
Dilansir dari laman resmi Batik Giriloyo, Minggu (31/5/2026), berikut adalah penjelasan selengkapnya.
1. Kain Batik
Sebagai sentra kerajinan batik, tentu saja produk unggulan di Desa Wukirsari adalah kain batik itu sendiri, yang bisa digunakan untuk berbagai keperluan, seperti kain lembaran (jarit), kain sarung, dan juga sebagai bahan baju.
2. Baju Siap Pakai
Tidak hanya kain (yang harus dijahit sedemikian rupa), di desa ini Anda juga bisa menemukan baju batik yang langsung siap pakai. Misalnya kemeja pria bermotif batik tertentu, blus wanita dengan motif batik, kaos khusus batik, dan seterusnya.
3. Asesori & Dekorasi
Meski cetakan malam batik biasanya hanya tertuang pada kain, kain tersebut bisa difungsikan sebagai selendang, sapu tangan, sarung bantal, hingga taplak meja. Sehingga kainnya begitu multifungsi untuk berbagai kebutuhan sehari-hari.
Motif Batik Unggulan
Pada dasarnya Anda bisa memesan motif batik tersendiri sesuai keinginan Anda, namun di sentra kerajinan batik Desa Wukirsari tepatnya di Kampung Batik Giriloyo ini, terdapat beberapa motif ikonik yang menjadi ciri khas dari Kawasan ini, seperti motif Parang, Kawung, Truntum, dan Semen.
Ada pula motif khusus kawasan Wukirsari dan Bantul, yakni Sir Gung Bumi, Wahyu Tumurun, Parang Udan Riris, Nitik, Gringsing, dan Ceplok Kembang Kates.
Semua motif di atas bisa dipilih sesuai selera Anda, atau juga bisa di-custom sendiri jika memiliki motif tersendiri atau pesanan khusus.
***
Sebagai salah satu sentra kerajinan batik tertua di DIY, para perajin setempat masih tetap mempertahankan metode tradisional dalam menghasilkan produk-produk batik yang telah disebutkan di atas.
Mereka selalu berusaha melestarikan keaslian proses pembuatan batik secara turun temurun, yakni menggunakan canting dan malam (lilin panas) secara manual.
Meskipun lebih lambat dan tergolong tidak praktis, namun cara ini tetap ampuh untuk menghasilkan motif yang sangat detail, bernilai seni tinggi, dan memiliki ciri khas autentik yang tidak dapat ditiru oleh teknik cetak atau printing modern.
Karena teknologi secanggih apapun, tidak akan pernah mampu menandingi kualitas batik asli buatan para perajin lokal, yang begitu tulus dalam menghasilkan karya bagi bangsa dan negara. (*)

