Mabur.co – Pemandangan tak biasa terlihat di museum Keraton Yogyakarta yang terletak di kawasan Alun-Alun Utara Yogyakarta belum lama ini.
Sebuah kereta keramat berusia ratusan tahun milik Keraton Yogyakarta tiba-tiba dikeluarkan dan diarak lengkap dengan beberapa ekor kuda mengelilingi Alun-Alun oleh para Abdi Dalem.
Kereta itu adalah Kiai Harsunaba, salah satu kereta pusaka peninggalan Sri Sultan Hamengku Buwono VI yang usianya kini mencapai lebih dari satu setengah abad.
Dikeluarkannya kereta ini memang tidak bisa dilakukan sembarangan. Keraton Yogyakarta melalui Kagungan Dalem Wahanarata bersama Laboratorium Konservasi Keraton Yogyakarta sengaja mengeluarkan kereta keramat ini dari museum untuk melakukan uji kelayakan jalan.
Konservasi Kereta Pusaka
Sebagai bagian dari program konservasi kereta pusaka, kegiatan uji kelayakan ini dilakukan karena perawatan kereta tidak cukup dilakukan hanya dengan membersihkan atau menyimpan koleksi di museum.
Fungsi kereta sebagai kendaraan kerajaan juga harus tetap dijaga sehingga kereta perlu diuji secara langsung untuk memastikan seluruh bagian masih bekerja dengan baik.
Kepala Unit Kagungan Dalem Wahanarata, KRT Candrakusuma, mengatakan, uji jalan dilakukan untuk mengecek kondisi kereta secara menyeluruh.
“Gladi ini dilakukan untuk memastikan koleksi kereta Keraton Yogyakarta tidak hanya layak dipamerkan di museum secara visual, tetapi juga tetap layak digunakan sebagaimana mestinya,” ujarnya sebagaimana dikutip laman resmi Keraton Yogyakarta, Senin (1/6/2026).
Kiai Harsunaba sendiri merupakan kereta buatan Hermans & Co di Den Haag, Belanda, tahun 1860. Beberapa bagian tambahan seperti asesori dan lapisan jok dibuat oleh pabrik G. Barendse di Semarang.
Kereta ini pernah digunakan oleh Sri Sultan Hamengku Buwono VI hingga Sri Sultan Hamengku Buwono VIII dalam berbagai kegiatan resmi kerajaan.
Dalam uji jalan tersebut, tim Laboratorium Konservasi Keraton Yogyakarta bertugas melakukan pemeriksaan teknis. Sementara kusir kereta dijalankan oleh Abdi Dalem Kanca Rata dan kondisi kuda dipantau oleh Abdi Dalem Kanca Somatali.
Kegiatan ini juga menunjukkan bahwa konservasi benda budaya tidak selalu dilakukan di ruang tertutup. Untuk kereta pusaka, kondisi roda, rangka, keseimbangan, hingga kemampuan bergerak menjadi bagian penting yang harus terus dijaga.
Menurut KRT Candrakusuma, hasil uji jalan nantinya menjadi dasar apakah kereta membutuhkan perbaikan tambahan atau konservasi lanjutan.
Keraton Yogyakarta berencana melakukan uji kelayakan semacam ini secara rutin terhadap seluruh koleksi kereta di Museum Wahanarata.
Langkah ini dilakukan agar kereta pusaka tetap terawat, tidak hanya sebagai benda pajangan, tetapi juga sebagai bagian hidup dari sejarah dan tradisi Keraton Yogyakarta.
“Uji kelayakan jalan kereta pusaka dengan ditarik beberapa kuda seperti ini akan menjadi salah satu kegiatan yang biasa terjadi ketika kereta sudah selesai dikonservasi atau diperbaiki,” kata KRT Candrakusuma.

