Rupiah Tembus Rp18.000, Harga Minuman Kemasan Bakal Naik

3 Min Read
Row of colorful bottled drinks on supermarket shelf, with yellow, blue, and green caps and various fruit-tea and juice labels.
Aneka minuman kemasan. (Foto: Istimewa)

Mabur.co – Melemahnya nilai tukar rupiah hingga ke level Rp18.000 per dolar AS diperkirakan bakal berdampak langsung terhadap kenaikan harga jual minuman kemasan di Indonesia. 

Kenaikan harga ini dipicu adanya peningkatan biaya produksi yang terus naik sehingga semakin menambah beban pelaku usaha di sektor industri minuman kemasan.

Sekretaris Jenderal Asosiasi Industri Minuman Ringan Indonesia (ASRIM), Tri Junanto Wicaksono, mengakui masih sangat bergantungnya industri minuman kemasan terhadap bahan baku dan kemasan impor.

Sehingga saat nilai rupiah mengalami pelemahan, hal tersebut secara langsung akan turut meningkatkan beban operasional perusahaan minuman kemasan.

“Saat bahan baku naik, biaya produksi COGM (cost of good manufactured) kita juga pasti akan naik. Jadi pasti memengaruhi dengan biaya operasional perusahaan juga,” ujarnya dikutip CNBC Indonesia, Kamis (4/6/2026).

Kenaikan biaya impor tersebut membuat perusahaan harus melakukan berbagai langkah efisiensi untuk menjaga keberlangsungan usaha.

Meski industri minuman telah berupaya mengurangi ketergantungan terhadap bahan baku dari luar negeri, namun upaya tersebut belum maksimal karena masih terdapat sejumlah bahan baku yang belum seluruhnya tersedia di dalam negeri.

Sehingga menurut Junanto, saat ini mayoritas perusahaan minuman fokus melakukan efisiensi operasional sekaligus mengembangkan penggunaan bahan baku lokal yang sesuai dengan standar produksi.

Sementara itu, Ketua Umum ASRIM, Triyono Prijosoesilo, menilai, pelemahan rupiah yang terjadi saat ini menjadi tantangan serius bagi dunia usaha.

Kondisi Kurs Tidak Biasa

Menurutnya, kondisi kurs saat ini tergolong tidak biasa dan perlu mendapat perhatian agar tidak semakin membebani industri.

“Tentunya ini kembali menjadi ranah pemerintah. Bagaimana pemerintah bisa menjaga, jangan sampai kurs ini menjadi penurunan terlalu dalam. Karena itu akan berpengaruh kepada bahan baku,” jelasnya.

Triyono tak menampik fakta bahwa berbagai komponen penting dalam industri minuman, khususnya produk non-air minum dalam kemasan (AMDK), masih berasal dari luar negeri. 

Di antaranya bahan baku seperti gula rafinasi, garam, peningkat rasa, hingga sejumlah bahan penunjang lainnya. Sehingga hal itu pun membuat biaya produksi minuman kemasan sangat sensitif terhadap pergerakan kurs dolar AS.

Dengan kondisi tersebut, pelaku industri memperkirakan harga minuman kemasan di pasar ritel berpotensi mengalami penyesuaian apabila tekanan nilai tukar terus berlanjut.

“Mau nggak mau pasti ada karena sekarang saja dari sisi selisih kursnya ada kurang lebih sekitar 90%-an,” sebutnya.

Kenaikan biaya akibat selisih kurs dinilai sulit dihindari dan pada akhirnya dapat memengaruhi harga produk yang dibayar konsumen. 

Di tengah situasi tersebut, pelaku industri berharap adanya langkah strategis dari pemerintah untuk menjaga stabilitas nilai tukar sekaligus memperkuat pasokan bahan baku dalam negeri agar dunia usaha tetap mampu bertahan dan berkembang di tengah tekanan ekonomi global. ***

Share This Article
Avatar photo
Lahir di Jogja. Fans Man Utd.
Avatar photo
Pemimpin redaksi mabur.co
Leave a Comment